Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Tanam 92.290 Mangrove di Jawa Tengah, Mageri Segoro Jadi Benteng Lawan Abrasi

Tanam 92.290 Mangrove di Jawa Tengah, Mageri Segoro Jadi Benteng Lawan Abrasi

  • calendar_month 20 menit yang lalu

BNews-JATENG-Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 dengan melakukan penanaman ribuan bibit mangrove dan tanaman pesisir di Pantai Tirang, Kota Semarang, Sabtu (6/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kawasan pesisir dari ancaman abrasi, rob, dan dampak perubahan iklim.

Pagi itu, suasana Pantai Tirang tampak berbeda. Debur ombak yang memecah di bibir pantai menjadi latar kegiatan puluhan peserta yang datang membawa semangat menjaga lingkungan. Mereka terdiri dari unsur pemerintah, komunitas lingkungan, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.

Kegiatan penanaman dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Di Pantai Tirang, sebanyak 200 batang cemara laut dan 2.750 batang mangrove ditanam. Selain itu, peserta juga melakukan aksi bersih-bersih pantai secara gotong royong.

Pada waktu yang sama, kegiatan serupa juga dilaksanakan secara serentak di 16 kabupaten dan kota pesisir di Jawa Tengah dengan total penanaman mencapai 92.290 bibit mangrove dan tanaman pesisir.

Mageri Segoro Jadi Benteng Pesisir Jawa Tengah

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Luthfi menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.

Menurutnya, berbagai persoalan lingkungan harus disikapi melalui kesadaran kolektif dan kerja bersama.

Luthfi menjelaskan bahwa penanaman mangrove dan tanaman pesisir merupakan bagian dari program Gerakan Mageri Segoro yang terus didorong Pemprov Jawa Tengah.

“Mageri Segoro itu segoro yang dikasih pager. Artinya, laut kita itu harus kita pagari,” kata dia.

Program tersebut bertujuan melindungi kawasan pesisir dari ancaman abrasi dan banjir rob yang selama ini menjadi persoalan di sejumlah wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah.

Ia mencontohkan beberapa kawasan pantai di Pantura yang saat ini mengalami tekanan cukup serius akibat abrasi. Karena itu, penanaman mangrove harus dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk menjaga garis pantai.

Tanaman Harus Dirawat Secara Berkala

Meski demikian, Luthfi mengingatkan bahwa keberhasilan program penghijauan pesisir tidak cukup hanya dengan menanam bibit.

Menurutnya, seluruh pihak harus memastikan tanaman yang telah ditanam mendapatkan perawatan agar tumbuh optimal dan memberikan manfaat bagi lingkungan.

Ia meminta dinas terkait, kelompok pegiat lingkungan, hingga kawasan industri turut bertanggung jawab menjaga tanaman yang telah ditanam, terutama karena saat ini memasuki musim kemarau.

“Tiga hari sekali minimal dilakukan pengecekan,” tandasnya.

Soroti Pengambilan Air Tanah dan Target Zero Waste 2029

Selain membahas abrasi dan rob, Ahmad Luthfi juga menyoroti persoalan pengambilan air tanah yang dinilai berpotensi memicu penurunan muka tanah, khususnya di kawasan pesisir.

Karena itu, ia meminta evaluasi terhadap kebijakan pemanfaatan air tanah dilakukan secara berkala. Masyarakat juga perlu mendapatkan edukasi agar tidak melakukan pengambilan air tanah secara berlebihan.

Di sisi lain, pemerintah daerah didorong memperkuat layanan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Pemanfaatan teknologi desalinasi juga dinilai perlu dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat pesisir, terutama nelayan.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Tak hanya itu, Luthfi juga menegaskan bahwa persoalan sampah menjadi bagian penting dalam upaya menjaga lingkungan.

Ia menyebut Indonesia menargetkan tercapainya kondisi zero waste pada tahun 2029 sebagaimana arahan Presiden Republik Indonesia.

Untuk mendukung target tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah memetakan persoalan sampah di seluruh kabupaten dan kota.

Daerah yang menghasilkan sampah sekitar 1.000 ton per hari diarahkan menggunakan sistem pengelolaan berbasis aglomerasi atau regional, seperti di kawasan Semarang Raya, Pekalongan Raya, dan Tegal Raya.

Sementara daerah dengan timbulan sampah di bawah 1.000 ton per hari diarahkan menggunakan teknologi refuse-derived fuel (RDF) yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif bagi industri semen.

Tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Jawa Tengah mengusung tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim”.

Tema tersebut dinilai relevan dengan kondisi Jawa Tengah yang dalam beberapa tahun terakhir kerap menghadapi dampak perubahan iklim, termasuk meningkatnya kejadian bencana hidrometeorologi yang mendominasi bencana alam di wilayah tersebut.

Salah seorang peserta kegiatan dari Saka Kalpataru, Aisyah, berharap penanaman mangrove yang dilakukan dapat membantu menjaga keberlanjutan kawasan pesisir Pantai Tirang.

“Harapan saya, semoga Pantai Tirang ini jangan sampai terkikis oleh air laut,” kata Aisyah. (*)

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less