Bergerak Bersama, Lawan Demam Berdarah: Satukan Langkah Di Jawa Tengah!
- calendar_month Sen, 26 Jun 2023

Demam berdarah dengue atau sering disebut DBD
BNews-OPINI- Demam berdarah dengue atau sering disebut DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue. Virus ini ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albocpictus.
Penyakit DBD menjadi penyakit tular vektor yang ada setiap tahunnya bahkan cenderung meningkat di wilayah Indonesia. Hal ini karena Indonesia merupakan wilayah endemis.
Salah satu wilayah yang mengalami peningkatan penyakit DBD adalah Jawa Tengah. Pada tahun 2022, Angka kasus DBD di Jawa Tengah mencapai 4589 kasus di akhir tahun 2022; sementara pada Februari 2023 kasusnya menjadi 12.047 orang dengan angka kematian 249 korban.
Peningkatan kasus DBD dapat disebabkan oleh cuaca atau iklim yang berubah-ubah dan; tidak normalnya iklim kering yang menyebabkan suhu lebih panas sehingga nyamuk menjadi lebih aktif.
Faktor risiko yang ditimbulkan dari DBD adalah morbiditas dan mortalitas sehingga jika kasus DBD meningkat maka morbiditas dan mortalitasnya tinggi.
Gejala-gejala yang dialami sebagai tanda terkena demam berdarah antara lain mengalami demam tinggi; sakit kepala, nyeri otot, tulang, dan sendi, mengalami mual dan muntah, sakit di belakang mata; serta bintik-bintik merah pada kulit.
DBD menjadi masalah kesehatan yang menimbulkan dampak sosial dan ekonomi untuk masyarakat sekitar. Dampak sosial yang ditimbulkan adalah masih banyaknya keluarga yang mengalami kepanikan karena kurang pemahaman; yakni terkait gejala penderita DBD dan dampak ekonominya; adalah biaya pengobatan yang cukup mahal dan tidak semua masyarakat mendapat akses asuransi kesehatan.
UPAYA DAN EVALUASI EFEKTIVITAS PENGENDALIAN
Upaya yang telah dilakukan di provinsi Jawa Tengah untuk membasmi nyamuk adalah; Gerakan 1 rumah 1 jumantik (G1R1J) yang mencanangkan kegiatan untuk membasmi jentik nyamuk dengan pemeriksaan jentik dari rumah ke rumah.
Selain itu, program yang dilakukan adalah kegiatan 3M plus, meliputi menguras tempat penampungan air; menutup tempat penampungan air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangan jentik nyamuk; dan kegiatan tambahannya adalah menaburkan larvasida pada tempat penampungan air.
Lalu, program pengendalian yang sudah dilakukan di Jawa Tengah adalah fogging. Dari ketiga upaya tersebut, fogging menjadi upaya yang kurang efektif karena menyebabkan polusi; dan hasil fogging tidak begitu signifikan karena fogging hanya efektif membunuh nyamuk dewasa tidak dengan larva, telur, maupun jentik nyamuk.
Fogging juga menyebabkan nyamuk menjadi resisten sehingga menjadi kebal dan tidak mati karena dilakukan fogging.
PENGENDALIAN TERPADU SECARA BIOLOGI
Berdasarkan upaya-upaya tersebut, program pengendalian yang paling efektif untuk membasmi nyamuk adalah; G1R1J dan kegiatan 3M.
Selain itu, alternatif pengendalian dapat dilakukan dengan pemberlakuan kebijakan air bersih; pada konsumsi masyarakat dan pemberdayaan program survey untuk menyoroti vector dengue pada lingkungan permukiman dan pembersihan nyamuk rutin setiap minggu.
Selanjutnya, pengendalian juga dapat dilakukan dengan pembagian dan penggunaan kelambu di setiap rumah; pengaturan ventilasi dan cahaya di dalam rumah.
Selain dari pengembangan fasilitasnya, diperlukan juga pengembangan pengetahuan dari masyarakat; seperti dilakukannya sosialisasi untuk masyarakat setempat terkait pencegahan dan upaya lingkungan yang bersih, tanda gejala terkena DBD; dan hal yang harus dilakukan setelah terdapat anggota keluarga yang terkena DBD.
Namun alternatif pengembangan pengendalian yang perlu dilakukan adalah adanya intervensi untuk pencegahan penyakit DBD; dan pengendalian vector nyamuk yang tidak hanya dilakukan pada daerah yang sering terjadi tetapi dilakukan juga pada daerah; yang jarang dijangkau dan berpotensial DBD. Sehingga pengendalian DBD tersebut merata ke semua daerah.
Selanjutnya, upaya pengendalian untuk pencegahan penyakit DBD dapat dilakukan dengan kontribusi secara biologi; atau bioteknologi yaitu dengan menanam tanaman pengusir nyamuk, memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk; Copepoda (jenis Crustasea dengan ukuran mikro yang mampu memakan larva) atau bakteri BTI.
Selain itu, pencegahan juga dapat dilakukan dengan perkembangbiakan nyamuk Wolbachia; yaitu dengan memasukkan bakteri Wolbachia pada nyamuk Aedes aegypti.
DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)
Bakteri ini dapat menghentikan kemampuan nyamuk dalam menularkan penyakit dengue; dan penyakit lainnya yang ditularkan melalui gigitan nyamuk dan bakteri Wolbachia dapat melumpuhkan virus dengue; sehingga jika nyamuk Aedes aegypti menghisap darah yang mengandung virus dengue. Maka virus akan resisten sehingga tidak akan menyebar ke dalam tubuh manusia.
Selanjutnya, pencegahan secara biologi dapat diatasi dengan pemberian imunisasi dan vaksinasi; yang berperan dalam mencegah penularan DBD. Saat ini, vaksin yang telah digunakan untuk pencegahan demam berdarah adalah vaksin Dengvaxia dan vaksin Qdenga yang berperan dalam melawan DBD.
nama penulis : Miranda Gardha V
Jurusan Kuliah : Biologi
Universitas : Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta
About The Author
- Penulis: BNews 2



Saat ini belum ada komentar