Cabai Setan Mahal, Petani di Magelang Ronda 24 Jam Jaga Ladang dari Pencuri

BNews—PAKIS— Harga cabai di berbagai daerah terus mengalami kenaikan, tidak terkecuali di Magelang. Cabai rawit merah di pasar tradisional menembus harga Rp90 ribu perkilogram, bahkan lebih.

Salah faktor penyebab harga ’cabai setan’ ini melambung tinggi di pasaran yakni karena faktor cuaca. Sehingga, daerah pesisir yang biasa menjadi penyuplai cabai tidak bisa menanam atau tanamannya rusak diterjang angin.

Suudi Jumari, 57, warga Dusun/ Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang menjadi salah satu petani yang diuntungkan dengan kondisi tersebut. Saat ini, pasokan cabai setidaknya bergantung pada daerah dataran tinggi, utamanya kawasa lereng Gunung Merbabu.

”Di tingkat petani harga cabai rawit merah atau cabai setan mencapai Rp75 ribu perkilo. Dari harga sebelumnya saat panen pertama harganya Rp55 ribu perkilo,” kata Udi, biasa disapa, kepada Borobudur News, Rabu (10/3).

Ia menjelaskan, harga tersebut sudah bertahan sejak sekitar dua pekan lalu. Bagi para petani, cabai kini menjadi ’emas merah’ yang menguntungkan.

”Alhamdulillah, belakangan ini cabai setan agak mahal daripada biasanya. Tapi dilain sisi juga membuat repot,” jelasnya.

Bagaimana tidak, mahalnya cabai membuat dirinya harus melakukan ronda 24 jam. Dimana, kegiatan ini dilakukan untuk menghindari ancaman para pencuri cabai.

”Karena pernah dulu waktu di ladang sebelah sana, ada yang dicuri orang. Batang tanaman cabai dipotong. Itu satu tempat bisa habis dalam semalam,” terangnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

Tak ayal, pengalaman tersebut menjadi pelajaran bagi dirinya untuk melakukan ronda menjaga tanaman cabai bersama istri dan para tetangga. Mereka berjaga 24 jam dari pagi sampai pagi datang lagi.

”Kalau pagi sampai sore selalu diawasi. Yang tentu itu kalau malam harus dijaga,” ungkapnya.

Diladangnya, Udi terlihat ditemani istrinya, Rohmiyati, 53. Mereka juga dibantu para tetangga yakni Suwardi, 50; Ahmad Rosidin, 23; Slamet Sobirin, 23; dan Aris.

”Ada yang membawa pentung keliling ladang sesekali mengecek cabai yang hampir siap panen. Setelah itu kembali ke gubug dan gantian yang lainnya untuk krliling,” ucapnya.

Karena selalu dijaga, ia mampu memanen cabai setiap lima hari sekali karena tidak matang secara bersamaan. Saat panen, Udi langsung memilah cabai yang berkualitas baik dan kurang.

”Dalam sekali panen bisa mendapatkan sekitar 32 kilogram cabai setan,” ujar Udi yang mengaku menanam tanaman cabai sejak Desember 2020 dan telah memanen sebanyak 12 kali.

Suudi (kanan) mengecek ladang sambil memetik cabai yang siap panen.

”Mudah-mudahan harga seperti ini bisa lanjut sampai besok-besok. Jadi petani agak senang. Bisa menguntungkan,” harap Udi. 

Salah satu tetaangga yang ikut patroli, Rosidin mengaku, tindakannya merupakan bentuk gotong royong dan tidak dibayar sepeser pun. Apalagi, di desanya ada sekitar seratus hektar lebih lahan yang ditanami cabai.

”70 persen penduduk dini menanam cabai. Saya salah satunya. Jadi nanti bergantian saling menjaga,” ucapnya. (han)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: