Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Bukan Sekadar Tumpukan Batu, Candi Borobudur Punya Bukit dan Tanah Urug

Bukan Sekadar Tumpukan Batu, Candi Borobudur Punya Bukit dan Tanah Urug

  • calendar_month 1 menit yang lalu

BNews—MAGELANG— Candi Borobudur selama ini dikenal sebagai salah satu mahakarya arsitektur Buddha terbesar di dunia. Namun, di balik susunan batu andesit yang terlihat megah, terdapat struktur tanah yang menjadi bagian penting dari bangunan bersejarah tersebut.

Candi Borobudur ternyata tidak berdiri begitu saja di atas tanah datar. Bangunan ini didirikan mengelilingi sebuah bukit alami yang sebelumnya diratakan. Pada sejumlah bagian, area tersebut juga ditambahkan tanah urug untuk membentuk dasar, ketinggian, dan kontur yang diperlukan dalam pembangunan candi.

UNESCO menggambarkan Borobudur sebagai stupa yang dibangun “around a hill which was a natural centre”, atau mengelilingi bukit yang menjadi pusat alami. Artinya, bukit tersebut bukan sekadar latar tempat Candi Borobudur berdiri, tetapi menjadi bagian penting dari fondasi bangunan.

Fondasi Candi Borobudur Terdiri dari Tanah Asli dan Tanah Urug

Kajian Balai Konservasi Borobudur membagi tanah dasar Candi Borobudur menjadi dua bagian utama, yakni tanah asli pembentuk bukit dan tanah urug yang ditambahkan untuk kebutuhan pembangunan.

Tanah asli merupakan tanah yang membentuk bukit sebelum Candi Borobudur dibangun. Sementara itu, tanah urug ditambahkan di atas atau pada bagian tertentu dari bukit untuk menambah ketinggian serta membentuk kontur yang sesuai dengan rancangan bangunan.

Dengan demikian, fondasi Candi Borobudur bukan hanya berupa bukit alami yang dibiarkan begitu saja. Para pembangunnya juga melakukan penataan dan penambahan material tanah untuk membentuk dasar bangunan.

Iskandar M. Siregar dari Balai Konservasi Peninggalan Borobudur merangkum kondisi fondasi tersebut dalam tulisannya:

“Candi Borobudur dibangun di atas tanah bukit yang diratakan dan sebagian merupakan tanah urug.”

Menurut kajian Siregar, sebagian besar batu candi berada di atas tanah urug yang berupa lempung pasiran dan pasir. Ketebalan tanah urug yang ditemukan pada lokasi penelitian berkisar antara 0,5 hingga 8,5 meter.

Namun, angka tersebut bukan berarti seluruh bagian Candi Borobudur memiliki ketebalan tanah urug yang sama. Ketebalan tanah urug berbeda-beda sesuai dengan lokasi, bahkan dapat berbeda pada bagian lantai yang sama.

Tanah urug di bawah Candi Borobudur juga bukan material dengan satu jenis komposisi. Catatan konservasi menyebut material tersebut dapat terdiri atas tanah, pasir, kerikil, serta pecahan batu andesit. Pecahan batu tersebut ditemukan di dalam tanah urug pada bagian tubuh bangunan.

Mengenal Horizon A, B, dan C di Tanah Candi Borobudur

Dalam penelitian mengenai tanah, tanah asli yang membentuk bukit tempat Candi Borobudur berdiri dibagi menjadi tiga horizon, yaitu horizon A, horizon B, dan horizon C.

Horizon merupakan lapisan tanah yang dibedakan berdasarkan karakteristik fisik serta tingkat pelapukannya. Pembagian tersebut digunakan untuk memahami kondisi tanah yang menjadi bagian dari fondasi Candi Borobudur.

Horizon A merupakan pasir lempungan, sedangkan horizon B berupa lempung pasiran. Sementara itu, horizon C merupakan pasir tufaan.

Pembagian horizon tersebut merupakan klasifikasi tanah yang digunakan dalam penelitian dan konservasi. Jadi, horizon A, B, dan C bukan tiga lapisan lantai atau tingkatan bangunan Candi Borobudur.

Batas antara tanah urug dan tanah asli juga tidak selalu terlihat secara tegas. Buku teknis pemugaran Borobudur yang diterbitkan UNESCO menjelaskan bahwa tanah urug pada kondisi tertentu sulit dibedakan dari horizon A.

Salah satu petunjuk untuk mengenali batas tersebut adalah keberadaan pecahan batu andesit pada bagian terbawah tanah urug.

Tanah Urug Membantu Menopang dan Membentuk Bangunan

Tanah urug memiliki fungsi penting dalam pembangunan Candi Borobudur. Material tersebut digunakan untuk menambah tinggi bukit sekaligus menyediakan bentuk dan ukuran yang dibutuhkan untuk pembangunan candi.

Lapisan tanah tersebut berada di bawah lantai dan di balik dinding pada sejumlah bagian bangunan. Artinya, permukaan batu yang terlihat oleh pengunjung sebenarnya berdiri di atas struktur yang lebih kompleks, yakni gabungan antara bukit alami dan material tanah urug.

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa menyebut Candi Borobudur hanya sebagai “tumpukan batu” belum sepenuhnya menggambarkan konstruksi bangunan tersebut.

Batu andesit memang menjadi material utama yang membentuk bagian luar serta berbagai unsur arsitektur candi. Namun, bukit alami dan tanah urug juga menjadi bagian penting dari dasar yang menopang sekaligus membentuk bangunan.

Karena itu, penelitian konservasi Candi Borobudur tidak hanya mempelajari batu-batu yang terlihat di permukaan. Hubungan antara batu candi dan tanah fondasinya juga menjadi objek penelitian, termasuk sifat gesek serta kestabilan tanah.

Jangan Tertukar, Lapisan Tanah Berbeda dengan Tingkatan Candi

Istilah “lapisan” terkadang digunakan ketika membahas Candi Borobudur. Namun, lapisan tanah yang berada di bawah bangunan berbeda dengan tingkatan arsitektur yang terlihat dari luar.

UNESCO menjelaskan bahwa struktur Candi Borobudur terdiri atas dasar berbentuk piramidal dengan lima teras persegi, tiga platform melingkar, serta sebuah stupa besar di bagian puncak.

Di sekeliling platform berbentuk lingkaran tersebut terdapat 72 stupa berlubang. Masing-masing stupa berisi arca Buddha.

Tingkatan arsitektur Candi Borobudur juga memiliki makna dalam kosmologi Buddhis. Bagian dasar dikaitkan dengan Kamadhatu, lima teras persegi dikaitkan dengan Rupadhatu, sedangkan tiga platform melingkar beserta stupa utama dikaitkan dengan Arupadhatu.

UNESCO menjelaskan bahwa pembagian vertikal tersebut merepresentasikan tiga ranah dalam konsepsi alam semesta Buddhis.

Dengan demikian, terdapat dua hal berbeda yang sering sama-sama disebut sebagai “lapisan Borobudur”. Pertama adalah lapisan tanah yang menjadi bagian dari fondasi bangunan. Kedua adalah tingkatan arsitektur Candi Borobudur yang memiliki fungsi dan makna simbolis.

Ada 160 Panel Relief Karmawibhangga yang Tersembunyi di Kaki Candi

Selain memiliki struktur bukit dan tanah urug, bagian kaki Candi Borobudur juga menyimpan 160 panel relief Karmawibhangga.

Relief tersebut menggambarkan berbagai adegan yang berkaitan dengan hukum sebab-akibat dalam ajaran Buddha. Namun, sebagian besar panel saat ini tertutup oleh struktur kaki tambahan sehingga tidak dapat dilihat secara langsung oleh pengunjung.

Bagian kaki candi yang tersembunyi tersebut ditemukan kembali oleh peneliti J.W. Ijzerman pada 1885. Sebelum batu penutup dipasang kembali, Kassian Cephas memotret relief-relief tersebut pada 1890–1891.

Penelitian arkeologi yang dilakukan Hariani Santiko kemudian mengidentifikasi panel-panel tersebut sebagai adegan yang berkaitan dengan naskah Karmawibhangga.

Lantas, mengapa relief tersebut ditutup?

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Alasan pasti mengenai penutupan relief Karmawibhangga hingga kini belum dapat dipastikan. Dalam pemberitaan ANTARA dari seminar arkeologi pada 2008, peneliti Endang Sri Hardiati mengatakan alasan penutupan tersebut belum diketahui.

Stabilitas bangunan disebut sebagai salah satu dugaan yang banyak dibahas, tetapi hal tersebut bukan kepastian yang dapat dinyatakan sebagai fakta.

Air dan Sistem Drainase Berperan Penting dalam Pelestarian Borobudur

Selain kondisi tanah, air juga menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi kestabilan Candi Borobudur.

Air hujan dapat meresap melalui sela-sela batu dan membasahi tanah yang berada di dalam struktur bangunan. Kondisi tersebut membuat sistem drainase menjadi bagian penting dalam proses pemugaran dan pelestarian Candi Borobudur.

UNESCO mencatat bahwa pemugaran besar Candi Borobudur pada 1973–1983 menggunakan tambahan struktur untuk mengonsolidasikan bangunan sekaligus memperbaiki sistem drainase.

Buku teknis pemugaran Borobudur menjelaskan bahwa sistem drainase dirancang untuk mengalirkan air sekaligus mengurangi risiko partikel tanah terbawa oleh aliran air dari bukit.

Hal tersebut menunjukkan bahwa pelestarian Candi Borobudur tidak hanya berkaitan dengan batu yang terlihat di permukaan. Kondisi fondasi tanah, kekuatan struktur bangunan, serta bagaimana air mengalir di dalam candi juga menjadi bagian penting yang harus dipahami dan dirawat.

Kesimpulan

Candi Borobudur dibangun mengelilingi bukit alami yang telah diratakan dan pada bagian tertentu dibentuk menggunakan tanah urug. Fondasi bangunan tersebut mencakup tanah asli dengan horizon A, B, dan C serta tanah urug dengan ketebalan yang bervariasi.

Di atas fondasi tersebut berdiri susunan batu bertingkat yang tidak hanya memiliki fungsi arsitektural, tetapi juga membawa makna keagamaan dalam kosmologi Buddhis.

Pada bagian kaki candi juga terdapat 160 panel relief Karmawibhangga yang sebagian besar kini tertutup oleh struktur kaki tambahan.

Karena itu, Candi Borobudur bukan sekadar susunan batu yang berdiri di atas tanah datar. Bukit alami, tanah urug, batu andesit, sistem drainase, relief, serta tingkatan arsitekturnya membentuk sebuah struktur yang kompleks dan saling berkaitan.

Tanya Jawab Seputar Lapisan di Bawah Candi Borobudur

Apakah Candi Borobudur dibangun di atas bukit alami?

Ya. UNESCO menjelaskan bahwa Candi Borobudur dibangun mengelilingi sebuah bukit alami. Sebagian bukit tersebut diratakan dan pada area tertentu ditambahkan tanah urug untuk membentuk dasar bangunan.

Apa saja lapisan tanah di bawah Candi Borobudur?

Secara umum, fondasi Candi Borobudur terdiri atas tanah asli pembentuk bukit dan tanah urug. Dalam penelitian konservasi, tanah asli tersebut dibagi menjadi tiga horizon, yaitu horizon A, B, dan C.

Berapa ketebalan tanah urug di bawah Candi Borobudur?

Kajian konservasi yang dilakukan pada lokasi penelitian menyebut ketebalan tanah urug berkisar antara 0,5 hingga 8,5 meter. Ketebalannya tidak seragam dan dapat berbeda antara satu lokasi dengan lokasi lainnya.

Apa itu relief Karmawibhangga di Candi Borobudur?

Karmawibhangga merupakan rangkaian 160 panel relief yang berada di bagian kaki Candi Borobudur. Relief tersebut berkaitan dengan hukum sebab-akibat dalam ajaran Buddha. Sebagian besar panel kini tertutup oleh struktur kaki tambahan sehingga tidak terlihat secara langsung.

Mengapa relief Karmawibhangga ditutup?

Alasan pasti penutupan relief Karmawibhangga belum dapat dipastikan. Stabilitas bangunan merupakan salah satu dugaan yang pernah dibahas, tetapi bukan fakta yang sudah dapat dipastikan.

Mengapa sistem drainase penting bagi Candi Borobudur?

Sistem drainase berfungsi mengatur aliran air di dalam struktur bangunan. Pengelolaan air penting karena air yang meresap ke dalam struktur dapat memengaruhi kondisi tanah dan kestabilan bangunan. (*/Berbagai Sumber)

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less