Merapi Menggembung, Juru Kunci Ungkap Arah Angin dan Bahaya

BNews–SLEMAN– Gunung Merapi dilaporkan mengalami deformasi atau penggembungan oleh BPPTKG Yogyakarta beberapa hari terakhir. Hal tersebut juga pernah terjadi pada tahun 2006 dan merapi mengalami erupsi besar tahun 2010.

Sementara menurut Juru kunci Gunung Merapi, Bekel Anom Suraksosihono, menanggapi fenomena Gunung Merapi yang menggembung sejak erupsi Juni 2020 lalu. Menurut dia, sejauh ini penggembungan gunung yang pernah mengalami erupsi pada 2010 itu belum kasat mata. Penggembungan baru bisa dilihat melalui pengamatan dengan alat.

“Kalau menurut saya masih biasa-biasa saja. Memang, kalau diamati betul pakai alat, kelihatan jelas kalau ada penggembungan. Tapi kalau dilihat sekilas itu nggak begitu keliatan. Aktivitas gunung pun masih terlihat wajar,” kata laki-laki yang akrab disapa Mas Asih dikutip Harjo (12/7/2020).

Kendati begitu, ia tetap mengimbau kepada warga setempat agar selalu waspada. Warga diminta tidak lalai terhadap gejala apapun yang muncul dari Gunung Merapi. Apalagi, saat ini informasi terbaru seputar aktivitas vulkanik Gunung Merapi lebih mudah didapatkan.

Juru kunci Merapi itu juga mengaitkan kondisi Gunung Merapi terkini dengan arah angin. Jika melihat arah angin, dia menyebut kondisi Merapi masih aman.

“Kalau semisal dilihat dari sini arah anginnya ke barat, utara, atau timur itu artinya aman. Nah, kalau arahnya ke selatan, masyarakat pun juga nggak perlu terlalu panik. Masyarakat yang penting tenang dulu terus pelan-pelan menjauhi bahaya,” kata dia.

Meski begitu, Mas Asih mengakui bahwa letusan hebat pada tahun 2010 menghasilkan trauma yang begitu mendalam bagi sebagian warga. Akibatnya, ada juga warga yang lari begitu mendengar suara dentuman dari puncak Merapi.

Loading...
DOWLOAD MUSIK-MUSIK KEREN (KLIK DISINI)

Sebelumnya, Kepala Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi [BPPTKG], Hanik Humaida, membenarkan terjadi penggembungan atau deformasi pada tubuh Merapi.

Konsekuensi dari Deformasi, katanya ada dua. Pertama, peningkatan potensi erupsi eksplosif. Kedua, deformasi juga dapat menimbulkan kubah lava.

Sementara itu, deformasi tidak menimbulkan peningkatan potensi terjadinya letusan besar. “Letusan tidak tahu kapan terjadi, tetapi potensinya masih sama dengan erupsi eksplosif pada 2019 lalu,” katanya. (*/islh)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: