Dampak Perang Dagang Antara Amerika Serikat dan China terhadap Indonesia

BNews—OPINI– Ketegangan antara Amerika Serikat dan China di perang dagang kembali memanas. Setelah Trump meminta sejumlah perusahaan asal AS untuk hengkang dari China, kemudian dibalas oleh China dengan kembali mengenakan tarif impor untuk barang asal AS.

Selain itu kedua negara saling menerapkan tarif-tarif tambahan terhadap komoditas yang sudah berlaku sejak awal september 2019 lalu. Pemerintah AS mulai menerapkan tarif 15 persen terhadap impor barang dari China senilai lebih dari USD 125 miliar. Sebagai balasan, Beijing mengenakan tarif 5 persen atas minyak mentah AS mulai 1 September 2019.

Perang dagang ini secara tidak langsung akan memengaruhi kinerja ekspor dan impor serta dapat memberikan dampak negatif terhadap perekonomian global. Salah satu negara yang terkena dampak dari perang dagang antara Amerika Serikat dan China yaitu Indonesia.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) laju pertumbuhan ekonomi RI mencapai 5,05 persen secara tahunan (year on year/yoy) di kuartal II 2019. Angka itu melambat dibandingkan kuartal yang sama di tahun sebelumnya yakni 5,27 persen (yoy).

Turunnya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2019 disebabkan oleh beberapa hal, seperti ekspor sawit Indonesia menurun. Padahal ekspor sawit ini adalah produk unggulan dari Indonesia.

Penurunan tersebut sangat jelas dibandingkan tahun lalu dimana ekspor sawit menurun hingga 17 persen. Hal ini terjadi karena di beberapa negara melakukan kebijakan yang sangat ketat untuk kepentingan negaranya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS UNTUK ANDROID KALIAN (KLIK DISINI)
Loading...

Contohnya, seperti Amerika yang menaikkan bea masuk prodek biodiesel. Selain itu terhambatnya ekspor logam Indonesia juga memengaruhi turunnya laju pertumbuhan ekonomi RI.

Selama ini, Indonesia banyak mengekspor alumunium, besi, dan baja ke negeri Paman Sam. Pada tahun 2017 keuntungan yang di raup dari baja dan alumunium sebesar US$19 juta dan US$70 juta.

Mengingat perang antar kedua negara tersebut, menjadikan Indonesia berpotensi sebagai negara pengalihan dari kedua tersebut. Sehingga proses ekspor dan impor pun terganggu.

Perang dagang antara Amerika Serikat dan China tidak hanya memberi dampak negatif terhadap perekonomian Indonesia, namun memberikan dampak positif juga terhadap Indonesia.

Salah satunya adalah produk ekspor Indonesia menjadi lebih bersaing karena barang asal China sedang terkena tarif Presiden AS Donald Trump. Hal positifnya yang dimaksud yaitu naiknya ekspor produk tekstil Indonesia sebesar 20 sampai 30 persen tahun ini.

Selain itu, ekspor produk ban juga mulai kompetitif. Oleh karena itu pemerintah Indonesia harus memanfaatkan dampak positif dari perang dagang antara Amerika Serikat dan China tersebut dengan mengoptimalkan produk tekstil yang kita produksi yang nantinya dapat meningkatkan devisa negara. (*)

Penulis : Muhammad Aqslan Fadly – Mahasiswa Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia
Editor : bsn

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: