Duh.. Kebutuhan Peti Mati di Magelang Melonjak, Perajin Akui Kewalahan

BNews—MAGELANG— Belum menurunnya jumlah warga meninggal akibat Corona Virus Disease 2019 alias Covid-19 membuat penyedia atau perajin peti mati kewalahan. Salah satunya adalah Yayasan Dana Kematian (YDK) Dharma Magelang yang mengalami peningkatan permintaan, baik dari rumah sakit atau perorangan.

Kepala YDK Dharma, Lianida Tjahyono mengungkapkan, lonjakan permintaan tercatat terjadi sejak Juni 2021. Sedang sebelum bulan tersebut, permintaan peti hanya datang dalam hitungan hari.

”Sebelum Juni datang sekitar 1-2 peti perhari. Namun, kini datang hanya dalam hitungan jam,” ungkap Lianida seperti disitat Suara Mereka, Jumat (9/7).

”Rinciannya, data kami untuk bulan Juni bisa mengeluarkan kurang lebih 20 peti. Sedang Juli, dari tanggal 1-8 sudah mengeluarkan sekitar 44 peti,” sambungnya.

Ungkap dia, peti yang dipesan berasal dari perseorangan dan beberapa rumah sakit di Magelang seperti RSJ Prof Dr Soerojo Magelang dan RSU Syubbanul Wathon. Namun demikian, dirinya mengakui khusus pesanan dari RSJ Magelang pun sudah membuat pihaknya kewalahan.

”Suplai peti dari perajin di Jogja dan Semarang. Untuk yang Jogja setiap dua hari hanya bisa mengirimkan empat sampai lima peti. Karena di daerah mereka permintaan juga cukup tinggi, jadi mereka harus bagi-bagi. Kalau yang dari Semarang, sekali kirim bisa 20 perpekan,” ungkapnya.

Lianida tak memungkiri, tingginya permintaan membuat harga peti mati ikut naik. Kenaikan disebut hampir 20-30 persen atau harga sekarang berkisar Rp1-1,5 juta.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

Peti seharga Rp1 juta dengan bahan kayu putih berbalut kain satin dan renda. Sedang yang seharga Rp1,5 juta, berbahan kayu putih dengan sentuhan plitur atau cat. Harga ini sudah termasuk biaya kirim dan tenaga kerjanya.

”Sekarang ini peti yang satu jutaan masih ada. Cuma terbatas jumlahnya, karena home industry dan orangnya tidak tentu banyak. Tapi kalau peti yang harga Rp1,5 juta agak banyak didatangkannya,” jelasnya.

Imbuh dia, pihaknya telah mengantisipasi persediaan peti. Salah satunya dengan mencari perajin lokal bilamana sewaktu-waktu pasokan tidak terpenuhi dari Jogjakarta dan Semarang.

”Ada beberapa yang sudah kita incar, ini di Jogja satu, Temanggung satu, tapi lagi dijajaki,” tutupnya. (ifa/han)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: