Ecoprint Ramban Ayu dari Temanggung Bakal Dibawa ke Global Craft Festival Vietnam
- calendar_month Jum, 2 Okt 2026

Batik Ecoprint Ramban Ayu Tembus Pasar Mancanegara, Siap Pameran di Vietnam_foto ist
BNews—TEMANGGUNG— Berawal dari keresahan terhadap penggunaan pewarna sintetis, Trining Tyas Majid mengembangkan Batik Ecoprint Ramban Ayu di Perumahan Argoweni, Mungseng, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Usaha yang dirintis sejak 2019 tersebut kini berkembang dan menjangkau pelanggan serta peserta pelatihan dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.
Tyas menuturkan, sebelum menekuni ecoprint, dirinya terlebih dahulu belajar membuat batik dan shibori dengan menggunakan pewarna sintetis. Namun, limbah dari proses pencucian membuatnya berpikir untuk mencari metode pewarnaan yang lebih ramah lingkungan.
“Saya merasa limbahnya kurang bagus dan tidak ramah lingkungan. Kemudian saya mencari cara membuat batik yang lebih ramah lingkungan. Akhirnya saya bertemu dengan ecoprint dan mulai belajar,” kata Trining Tyas di Temanggung, Jumat (2/10/2026).
Untuk memperdalam keterampilannya, Trining Tyas mengikuti berbagai pelatihan ecoprint secara langsung di sejumlah daerah, antara lain Yogyakarta dan Banjarnegara. Bermodal sekitar Rp300 ribu, ia kemudian mulai mencoba memproduksi sekaligus memasarkan hasil karyanya.
Produk tersebut pada awalnya dipromosikan melalui media sosial Facebook. Respons positif dari masyarakat kemudian mendorong Trining Tyas mengembangkan usaha hingga memiliki nama dan merek Batik Ecoprint Ramban Ayu.
Batik Ecoprint Ramban Ayu Libatkan Tenaga Produksi
Dalam proses produksinya, Ramban Ayu melibatkan sejumlah tenaga. Setiap hari terdapat sekitar dua orang yang membantu proses produksi. Ketika kebutuhan produksi meningkat, jumlah tenaga dapat bertambah menjadi empat orang.
Sementara itu, dua orang lainnya membantu menangani media sosial dan pemasaran produk.
Produk ecoprint yang dihasilkan berupa kain dengan panjang sekitar dua meter. Harganya bervariasi, mulai Rp250 ribu hingga Rp1,5 juta, tergantung motif, bahan, dan proses pembuatannya.
Untuk pemasaran, Ramban Ayu memanfaatkan berbagai kanal digital, mulai dari marketplace Shopee, situs web, Instagram, YouTube, TikTok hingga WhatsApp.
Selain pemasaran secara digital, produk ecoprint Ramban Ayu juga diperkenalkan melalui berbagai pameran, termasuk Inacraft.
Ramban Ayu Buka Pelatihan Ecoprint
Aktivitas Ramban Ayu tidak hanya berhenti pada produksi dan penjualan. Tiningtyas juga aktif memberikan pelatihan ecoprint kepada masyarakat yang ingin mempelajari teknik tersebut.
Pelatihan dilakukan secara langsung maupun daring. Untuk pelatihan tatap muka, peserta dapat mengikuti kelas privat maupun reguler di rumah produksi Ramban Ayu.
Tim Ramban Ayu juga dapat datang ke daerah lain dengan jumlah peserta minimal sekitar 15 orang.
Sementara bagi peserta yang berada jauh dari lokasi, pelatihan dilakukan secara daring melalui video tutorial dan materi dalam format PDF.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
“Karena ecoprint ini belum banyak yang tahu, kami ingin bagaimana caranya masyarakat mengenal ecoprint. Makanya kami membuat pelatihan, baik online maupun offline,” ujarnya.
Jangkauan pelatihan Ramban Ayu bahkan telah meluas hingga luar negeri. Peserta daring tercatat berasal dari Malaysia, Singapura, Vietnam, Hong Kong, Pakistan dan India.
Sementara peserta pelatihan secara langsung datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Papua, Sulawesi, Aceh, Palembang dan Kutai.
Manfaatkan Daun dan Tanaman di Sekitar
Menurut Trining Tyas, bahan utama ecoprint justru banyak ditemukan di lingkungan sekitar. Berbagai jenis daun, rumput, dan tanaman paku-pakuan dimanfaatkan untuk menghasilkan motif serta warna alami pada kain.
Untuk kebutuhan tertentu, seperti daun eucalyptus dan jati dalam jumlah besar, bahan didatangkan dari Kulon Progo. Dalam satu kali kebutuhan produksi, bahan daun bisa mencapai lima hingga enam kilogram.
Proses pembuatan ecoprint diawali dengan pemilihan daun yang memiliki kandungan tanin atau pigmen warna. Kain yang digunakan juga harus berbahan serat alam.
Sebelum proses pencetakan motif, kain menjalani proses scouring untuk membersihkan bahan kimia bawaan pabrik. Selanjutnya dilakukan proses mordanting, yakni pemberian unsur logam pada serat kain agar dapat bereaksi dengan pigmen dari daun dan menghasilkan warna yang melekat pada kain.
Setelah itu, dilakukan proses pencetakan dengan teknik ketok maupun kukus. Kain kemudian dibiarkan selama sekitar tiga hingga tujuh hari untuk menjalani proses oksidasi sebelum dilakukan fiksasi.
Setelah proses fiksasi selesai, kain dicuci menggunakan sampo, deterjen lembut, atau bahan alami seperti lerak.
Setelah melalui seluruh tahapan tersebut, kain ecoprint siap digunakan atau diproses menjadi berbagai produk.
Produksi Capai 200 Lembar Kain per Bulan
Dalam sebulan, Ramban Ayu saat ini mampu memproduksi sekitar 200 lembar kain. Namun, ketersediaan bahan alami terkadang menjadi tantangan, terutama pada musim kemarau.
Aktivitas masyarakat juga dapat memengaruhi ketersediaan bahan. Saat musim kemarau atau ketika masyarakat melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan, tanaman liar dan rumput yang biasanya dimanfaatkan sebagai bahan ecoprint ikut dibersihkan.
Meski demikian, perkembangan Batik Ecoprint Ramban Ayu terus menunjukkan peluang yang luas. Setelah menjangkau konsumen dan peserta pelatihan dari berbagai wilayah Indonesia serta sejumlah negara, produk ecoprint asal Temanggung tersebut akan kembali memperluas jejaringnya ke pasar internasional.
Ramban Ayu dijadwalkan mengikuti Global Craft Festival di Hanoi, Vietnam, pada 10–19 November 2026.
Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan produk ecoprint berbasis bahan alam dari Temanggung ke pasar dan jejaring kerajinan internasional. (ans/bsn)
About The Author
- Penulis: BNews 2








Saat ini belum ada komentar