Gadis Kecil Asal Magelang Hidup Sendirian Usai Neneknya Dirawat Karena Suspek Corona

BNews–MERTOYUDAN– Kisah harus dialami oleh seorang gadis kecil yang masih kelas tiga sekolah dasar di wilayah Kecamatan Mertoyudan. Ia harus tinggal sendirian di sebauh rumah kontrakan neneknya.

Hal itu terjadi lantaran sang nenek masih dirawat di Rumah Sakit Umum (RSU) Tidar Magelang. Nenek tersebut didiagnosa suspek Covid 19, dan masih menunggu hasil swab yang belum keluar.

Gadis itu bernama Irene Mardalenta Gea (9), siswi SDN 3 Kalinegoro. Ia terlihat tegar dan berbeda dengan anak lain seusianya. Dari sikap bicaranya Iren lebih dewasa.

Irene sebenarnya tinggal bersama paman dan neneknya. Namun saat sang nenek sakit. Pamannya mengurus nenek di rumah sakit. Yang ternyata sang paman juga harus diswab.

Hal tersebut membuat Irene melakukan isolasi mandiri di rumah kontrakannya sendirian. Alamatnya di Jalan Semangka Raya No 28, RT 1 RW 5 Perumnas Kalinegoro Mertoyudan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

“Kemarin malam tidur sendirian. Baru satu malam tidur sendiri. Sekarang mau dua hari,” ucap Irene, Kamis (17/12/2020).

Irene mengaku menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku sekolah. Untuk urusan kebutuhan kosumsi sudah dicukupi tetangga dan komunitas Gereja setempat.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

“Seharian baca-baca buku pelajaran, karena belum boleh keluar rumah. Tidak nonton TV karena gak punya TV,” tutur Irene.

Tetangga Irene, Ismiatiningsih mengatakan, para tetangga terus memantaunya dan memberikan bantuan makanan serta kebutuhan lainnya.

“Kebutuhan makan dipasok oleh tetangga seperti nasi rames dan susu, karena memang harus jogo tonggo. Selain itu ada juga komunitas Gereja yang juga membantu hal yang sama,” papar Ismiatiningsih.

Sepengetahuan Ismiatiningsih, nenek Irene yang bernama Siti Zama, seorang pedagang jajanan kue bolang-baling. Siti memang sering sakit-sakitan dan kerap ke Puskesmas. Adapun paman Irene yang bernama Amonio berusia 35 tahunan, pekerja swasta.

“Nenek Siti Zama mengeluh sakit lambung, sakit gigi, migrain, dan sering ke puskesmas, sebelum akhirnya ke Puskesmas pada Senin (17/12/2020) lalu. Kemudian sang paman, juga turut di swab pada Rabu (16/12/2020). Hasilnya belum keluar. Hal itu yang memuat pamannya harus turut menginap di rumah sakit,” terang Ismiatiningsih.

Sementara Kepala Desa Kalinegoro, Hajid Mulyono, sangat prihatin dengan kondisi Irene, khususnya pada psikologi sang anak.

“Kalau Irene tidak isolasi mandiri, saya akan membawa Irene untuk menginap di rumah saya. Karena terus terang saya nggregel (tidak tega), anak seusia itu harus tinggal sendirian dirumah. Setelah ibunya Irene meninggal, ayah Irene kembali ke Nias, bersama dua saudara Irene. Sedangkan Irene tinggal bersama nenek dan pamannya,” jelas Hajid.

Hajid berharap agar Irene bisa segera di swab agar cepat diketahui hasilnya. Bila negatif covid 19, Hajid bisa menampung Irene di rumahnya.

“Kalau bisa secepatnya Irene juga di Swab, agar tidak terlalu lama tinggal sendirian isolasi mandiri di rumah, dan bisa tinggal di rumah saya,” pungkasnya. (*)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: