Gali Lahan Sky Walk di Magelang, BKB Temukan Tembikar Diduga Mataram Kuno

BNews—MUNGKID— Balai Konservasi Borobudur (BKB) menemukan pecahan tembikar diduga peninggalan era Mataram Kuno. Selain barang-barang dari tanah liat itu, pihaknya yang melakukan ekskavasi di lahan pembangunan sky walk penghubung Candi Mendut dengan Candi Pawon di Bojong, Mendut, Mungkid juga menemukan tatanan bebatuan.

”Temuan Bojong itu ekskavasi bulan Mei dan Juli. Itu terkait adanya pekerjaan pembangunan jembatan melewati itu, Sky Walk. Kita menduga di sendang ada temuan,” kata Pamong Budaya Ahli Madya BKB, Yudi Suhartono, Rabu (25/8).

Informasi yang dihimpun, Sky Walk merupakan istilah proyek Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Nantinya, wisatawan bisa berjalan melewati Sky Walk ini dari Candi Mendut, Pawon dan Borobudur.

Ia menjelaskan, ekskavasi dengan membuka tiga lubang dengan kedalaman 1,2 meter tersebut menemukan tiga bata kuno. Selain itu, ada susunan batu teratur. Kemudian di lubang berikutnya ditemukan pecahan tembikar dengan hiasan geometris dan teknik cukil.

”Awalnya membuka tiga kotak (lubang), kotak pertama kosong, ke arah utara kosong, kotak kedua ada temuan tiga bata kuno. Sebelahnya, kita temukan kayak susunan batu teratur,” jelas Yudi.

Setelah itu, dilakukan penggalian menuju barat dan timur. Dari lubang tersebut ditemukan totalnya sekitar 80 pecahan tembikar.

”Di kedua menemukan pecahan tembikar jumlahnya sekitar 80-an kalau ditotal. Itu menarik karena memiliki hiasan. Beberapa pecahan tembikar itu dari tahan liat yang dibakar, kita menemukan hiasan geometris, garis-garis dengan teknik cukil,” ujarnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

Ungkap dia, temuan pecahan tembikar dengan hiasan geometris. Dan teknik cukil tersebut berdasarkan pada sumber-sumber yang ada menunjukkan satu masa dengan Candi Borobudur.

”Itu berdasarkan sumber-sumber yang kita lihat pada temuan di sekitar Borobudur, itu menunjukkan kesamaan. Kalau kita menduga temuan ini dari masa sezaman dengan Borobudur, pada masa Mataram Kuno. (Perkiraan) Abad ke-8 sampai 10 masehi,” ungkapnyanya

Atas temuan pecahan tembikar dan susunan batuan teratur, Yudi menyebut ada kemungkinan berkaitan dengan temuan sebelumnya di sendang. Dimana, dimungkinkan dulunya ada kehidupan manusia di lokasi tersebut.

”Kami belum berani menduga. Tapi mungkin terkait dengan yang di sendang. Kalau ditemukan tembikar mungkin ada kehidupan manusia, mungkin itu,” pungkasnya. (ifa/han)

Sumber: Detik

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: