Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Kekeringan Magelang Meluas, 15.000 Jiwa di 14 Kecamatan Terdampak Krisis Air Bersih

Kekeringan Magelang Meluas, 15.000 Jiwa di 14 Kecamatan Terdampak Krisis Air Bersih

  • calendar_month Ming, 13 Sep 2026

BNews—MAGELANG— Krisis air bersih semakin dirasakan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Kemarau berkepanjangan membuat warga terpaksa mengandalkan sumber mata air yang debitnya terus menyusut, bahkan kondisinya kotor, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi tersebut membuat sebagian warga harus berjalan sekitar 1 kilometer dari permukiman untuk mengambil air. Air dari sumber mata air itu digunakan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, mulai dari memasak, mencuci piring, mencuci pakaian hingga kebutuhan lainnya.

Warga Kabupaten Magelang Kesulitan Mendapatkan Air Bersih

Salah seorang warga, Giyo (60), mengatakan krisis air bersih mulai dirasakan sejak sekitar dua bulan terakhir. Debit sumber mata air yang selama ini menjadi andalan warga terus mengalami penurunan drastis.

“Kalau semalam dimatikan dan siang dinyalakan, tidak sampai siang sudah habis. Jadi warga selalu mencari air bersih untuk mencuci piring, pakaian. Semua serba kekeringan, daerah sini langka air,” kata Giyo dikutip Berita Satu ,Minggu (13/9/2026).

Menurut Giyo, stok air dari sumber tersebut tidak lagi mampu mencukupi kebutuhan warga selama sehari. Kondisi itu membuat warga berharap pemerintah kembali menyalurkan bantuan air bersih.

Giyo menuturkan, sebelumnya warga sempat mendapatkan bantuan air bersih dari pemerintah desa. Namun, persediaan air tersebut hanya mampu memenuhi kebutuhan selama 2 hingga 3 hari sebelum warga kembali kesulitan mendapatkan air.

“Kemarin ada bantuan air bersih dari desa, terus 2 atau 3 hari sudah macet lagi. Baru sekarang mendapatkan dropping air bersih lagi,” ujarnya.

Sumber Air Kotor Tetap Dimanfaatkan Warga

Terbatasnya sumber air membuat warga tetap memanfaatkan mata air tersebut meski kondisinya kotor. Sumber tersebut menjadi salah satu mata air yang masih mengeluarkan air meskipun debitnya telah menurun drastis.

“Airnya memang kotor, tetapi selama ini untuk masak tidak masalah. Ini salah satu sumber mata air yang masih ada,” tuturnya.

Warga tidak memiliki banyak pilihan selain mengambil air dari sumber tersebut. Jarak sekitar 1 kilometer dari permukiman juga harus ditempuh untuk mendapatkan air yang masih tersedia.

Bantuan dropping air bersih menjadi salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan warga. Namun, distribusi air belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan karena persediaan yang diterima hanya mampu bertahan beberapa hari.

Kekeringan Magelang Meluas ke 14 Kecamatan

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang Bambang Hermanto mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan kekeringan dengan mengacu pada informasi terkini dari BMKG.

Berdasarkan pemantauan BPBD hingga 11-12 September 2026, dampak kekeringan telah meluas ke 14 kecamatan dan 31 desa dari total 21 kecamatan di Kabupaten Magelang.

Sekitar 2.500 keluarga atau 15.000 jiwa terdampak kekeringan dan menjadi sasaran pemenuhan kebutuhan air bersih.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

“Memang dampak dari kekeringan itu kenyataannya ada. Kita selalu melihat eskalasi per hari, per minggu, per bulan,” kata Bambang.

Menurut Bambang, puncak musim kemarau di Kabupaten Magelang sebelumnya diprediksi terjadi pada Agustus hingga September. Karena itu, BPBD terus mengantisipasi kemungkinan semakin meluasnya wilayah yang terdampak kekeringan.

BPBD Magelang Libatkan Berbagai Pihak

BPBD Kabupaten Magelang juga mengandalkan sistem informasi untuk memantau kebutuhan masyarakat sekaligus distribusi air bersih. Pemenuhan kebutuhan air dilakukan melalui kolaborasi pemerintah daerah, komunitas relawan, dunia usaha melalui CSR, Baznas, PMI serta berbagai pihak lainnya.

Bambang optimistis kebutuhan air bersih untuk kebutuhan domestik warga selama September dan Oktober masih dapat dipenuhi. Pihaknya berharap hujan mulai turun pada awal November sehingga krisis air bersih dapat segera berakhir.

Warga Minta Sumber Mata Air Dilindungi

Di sisi lain, warga berharap pemerintah tidak hanya mengandalkan bantuan dropping air bersih selama musim kemarau. Warga juga meminta adanya pembangunan sarana permanen untuk melindungi sumber mata air yang masih dapat dimanfaatkan.

Salah satu usulan warga adalah memberikan atap pada sumber mata air agar lebih bersih dan terlindungi dari masuknya kotoran. Dengan perlindungan tersebut, sumber air diharapkan dapat dimanfaatkan secara lebih layak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Krisis air bersih di Kabupaten Magelang tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya debit air selama musim kemarau. Persoalan tersebut juga menyangkut akses masyarakat terhadap sumber air yang layak dan aman untuk kebutuhan sehari-hari.

Dengan dampak kekeringan yang telah meluas ke 14 kecamatan dan 31 desa, pemenuhan kebutuhan air bersih masih menjadi perhatian BPBD Kabupaten Magelang bersama pemerintah daerah dan berbagai pihak yang terlibat dalam penanganan kekeringan. (*)

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less