Kisah Laptop Ganjar, Dukung Produktifitas Difable

BNews— SEMARANG- Berkat perhatian dan dukungan dari Gubernur Ganjar Pranowo, Yeni Endah, 32, perempuan penyandang difable kini terus berkarya. Dia semakin produktif karena berbagai karya tulis telah lahir dari tangannya

BNews— SEMARANG- Berkat perhatian dan dukungan dari Gubernur Ganjar Pranowo, Yeni Endah, 32, perempuan penyandang difable kini terus berkarya. Dia semakin produktif karena berbagai karya tulis telah lahir dari tangannya.

 

Warga Jalan Jati Selatan VI Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Jumat (8/3)ini memang memiliki keterbatasan. Dia divonis mengidap penyakit penurunan fungsi otot, jaringan saraf dan sumsum tulang belakang atau Friedreich’s Ataxia itu terlihat sangat ceria meski memiliki keterbatasan.

Advertisements


 

Meski begitu, keterbatasan yang dimilikinya sejak kecil tersebut tak menghalanginya untuk berkarya. Terbukti, dia mampu menjuarai lomba menulis tentang Pilpres 2019 yang diselenggarakan oleh salah satu lembaga tingkat nasional bertajuk “Blogger Cerdas Menulis, Rakyat Cerdas Memilih” itu. “Alhamdulillah, saya mendapat juara satu kategori tema penulisan tentang difabel. Pengumumannya baru tanggal 7 kemarin,” kata Yeni mengawali obrolan.


 

Capaian tersebut membuat putri ketiga pasangan Fadholi dan Sri Rochmiyatun ini semakin semangat untuk berkarya. Apalagi, selain dari keluarga, teman dan saudara, Yeni mendapat suntikan semangat dari orang nomor satu di Jawa Tengah, Gubernur Ganjar Pranowo.

 

Semangat itu diberikan Ganjar saat dirinya mengikuti acara Pelatihan Kerja untuk Kaum Muda Berkarakter Unggul, Berdaya Saing, Inovatif dan Berwawasan Kebangsaan yang digagas USAID bekerja sama dengan Kelompok Aksi (POKSI) Ketenagakerjaan Inklusif Jawa Tengah di gedung Gradhika Bhakti Praja, beberapa waktu lalu.

 

Saat itu, dia diberi hadiah laptop oleh Ganjar. “Ini laptop pemberian Pak Ganjar. Dari laptop inilah saya menulis dan tulisan saya menjadi pemenang dalam ajang itu. Senang sekali rasanya mendapat perhatian dari Pak Gubernur, dan laptop ini sangat membantu saya untuk berkreasi,” imbuhnya.

 

Sebelum mendapat laptop dari Ganjar, Yeni mengaku menulis dengan laptop pinjaman. Kegiatan menulisnya kala itu sempat terhenti karena laptop yang dipinjamnya mengalami kerusakan. “Setelah dapat laptop dari Pak Ganjar, saya seperti hidup lagi. Saya terus semangat menulis dan mengikuti sejumlah lomba-lomba,” terang wanita kelahiran Semarang, 10 Januari 1987 itu tersenyum.

 

Di tengah segala keterbatasan yang dia miliki, Yeni terhitung sebagai penulis yang sangat produktif. Tercatat, dirinya sudah memiliki 14 antologi dan beberapa tulisannya pernah dimuat di media massa. Dia juga pernah menjuarai beberapa ajang lomba menulis. Seperti ajang Lomba Menulis Indonesia Rare Disorders dan lomba menulis Good News From Indonesia di tahun 2018 lalu.

 

Selain itu, perempuan yang aktif di Komunitas Sahabat Difabel Semarang (KSD) ini juga aktif menulis di blog pribadinya. “Saat ini saya sedang ngebut menyelesaikan buku solo saya. Nanti kalau sudah selesai, orang pertama yang saya kasih adalah Pak Ganjar sebagai rasa terima kasih saya kepada beliau,” ucapnya sembari tersenyum.

 

Yeni pun berharap dukungan pemerintah terhadap penyandang disabilitas terus ditingkatkan. Menurutnya, teman-teman difabel memiliki potensi luar biasa jika diberi kesempatan. “Saya juga mengajak teman-teman difabel untuk terus berkarya demi masa depan yang lebih baik,” ungkapnya.

 

Dalam beberapa kesempatan, Ganjar Pranowo memang menaruh perhatian penuh terhadap penyandang disabilitas. Setiap menggelar Musrenbang, pria berambut putih tersebut selalu melibatkan penyandang disabilitas dan mendengarkan masukan mereka.

 

Ganjar juga selalu mengapresiasi dan memberikan bantuan kepada para penyandang disabilitas. Di beberapa kesempatan, dia bahkan ikut memasarkan produk-produk unggulan karya-karya sahabat difabel.

 

Terbaru, Ganjar memberikan bantuan berupa mesin jahit kepada Roemah D di Semarang. Bantuan itu diberikan Ganjar melalui Baznas untuk membantu para penyandang disabilitas lebih produktif menghasilkan karya.

 

“Mereka ini (para penyandang disabilitas) tidak butuh dikasihani, namun mereka butuh karyanya diapresiasi dan dihargai. Kami yakin, bahwa dengan kemampuan yang mereka miliki, mereka mampu menghasilkan karya terbaik karena sebenarnya potensi mereka sangat besar,” ujar Ganjar. (lhr/bsn)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: