Kisah Pilu Gadis 2 Tahun Asal Muntilan yang Didiagnosa Infeksi Otak Jelang Ultah

BNews—MUNTILAN—Hamam Khoirul Muna, 21 dan Eka Agustin Restika Sari, 22 tidak mampu menyembunyikan kesedihan. Anak semata wayangnya, Kennia Sandika Maryam didiagnosis oleh dokter mengalami gangguan pendengaran berat. Tidak hanya itu, buah hatinya itu juga menderita infeksi otak.

Kabar tersebut baru ketahui usai Kennia dirujuk ke RSUP dr Sardjito Jogjakarta, bulan April lalu. Sedang hasil uji keluar bulan Mei kemarin. Tepat beberapa hari sebelum Kennia merayakan ulang tahunnya yang ke-2.

Advertisements
data-ad-slot="3007616301" data-ad-format="auto">


Orang tua Kennia, Hamam dan Eka mengatakan, awalnya tidak menyangka anaknya bakal mengalami profound hearing los atau tuli kategori berat dan infeksi otak. Pasangan muda itu baru tahu usai anaknya menjalani tes Brain Evoked Response Auditory (BERA), Otoasoustic Emission dan Computer Tomography (ST Scan).

”Tidak bisa dengar disebabkan kelainan rumah siput atau koklea. Sedang untuk infeksi otak kata dokter tidak apa-apa karena tidak menunjukkan gelaja demam dan muntah. Jadi cukup observasi saja,” kata Hamam saat ditemui di rumahnya Dusun Semawe, Desa Congkrang, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Senin (1/7).


Sambung Eka, dirinya beberapa kali sempat curiga dengan respons Kennia. Salah satunya saat ia masih menjadi guru honorer sekolah selevel taman kanak-kanak di RA Muslimat NU Al Hasan. Saat mengajar ekstrakurikuler rebana, Kennia yang tertidur tidak terbangun dengan suara keras riuh latihan.

LUCU : Kennia gadis mungil lucu ini harus menahan rasa sakit yang dideritanya (Foto--han--BNews)
LUCU : Kennia gadis mungil lucu ini harus menahan rasa sakit yang dideritanya (Foto–han–BNews)

”Dipanggil juga tidak pernah menoleh,” kata Eka. Perempuan itu juga menyebut pada bulan Oktober 2018 dan Maret 2019, Kennia sempat menjalani opname akibat pneumonia yang menyebabkan sesak nafas.

Akibat gangguan pendengaran di sepasang daun telinga, tumbuh kembang Kennia turut terganggu. Balita itu hingga sekarang belum mampu berbicara. Suaranya hanya keluar saat ia tertawa atau menangis saja.

”Jadi kami berkomunikasi melalui isyarat tangan. Harus dipegang dulu. Kalau dia pengen makan diungkapkan dengan nunjuk-nunjuk jari,” terang Eka yang memilih mundur dari pekerjaannya demi fokus merawat anaknya.

Kendati terlihat sehat, namun berat badan Kennia dinilai kurang ideal. Sejak bulan Oktober 2018, mereka terpaksa memakaikan selang Nasogastrik (NGT) untuk minum susu khusus penambah berat badan sejak bulan Oktober 2018. Alat medis itu dimasukkan dari lubang hidung menuju lambung. Sedang untuk makan nasi sudah bisa melalui mulut mungilnya.

”Setiap hari harus dipakai. Dua minggu sekali selang perlu diganti. Pernah Kennia tidak bisa menelan dan akhirnya muntah mengeluarkan darah,” kenang Eka.

Hamam dan Eka bermimpi ingin sekali membahagiakan Kennia dengan memberikan alat bantu dengar. Namun terkendala dengan harga alat yang sangat mahal berkisar Rp 5 juta hingga Rp 19 juta. Mimpinya semakin jauh lantaran Hamam yang berprofesi sebagai tukang las bubut di wilayah Mungkid sering meliburkan diri. Otomatis upah pun terhenti.

”Tersubsidi dengan BPJS Kesehatan (Mandiri) Cuma Rp 1 juta. Tapi sama dokter diminta beli yang bagus sekalian yang agak mahal. Karena kalau murah, sekali jatuh bisa rusak,” ujarnya.

Mereka menaruh doa dan berharap agar sang buah hati bisa seperti balita atau anak-anak kebanyakan. Seperti dapat bermain dengan teman sepantaran, bismendengar, mampu berbicara hingga bersekolah di sekolah biasa.

”Semoga Kennia segera bisa memakai alat bantu dengar agar bisa mendengar dan belajar berbicara. Dan kami berterima kasih kepada para donator yang sudah membantu meski dana yang terkumpul masih jauh dari harapan,” pungkasnya. (han)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: