New Saudi Narrative: Pelajaran Besar dari Arab Saudi untuk Masa Depan Indonesia
- calendar_month 23 jam yang lalu

Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra
BNews-OPINI- Perubahan besar sering kali tidak langsung terlihat melalui angka pertumbuhan ekonomi atau laporan lembaga internasional. Terkadang, perubahan justru terasa dari energi sebuah bangsa yang sedang berusaha mendefinisikan ulang masa depannya.
Pengalaman itu saya rasakan ketika kembali mengunjungi Arab Saudi setahun lalu. Di Riyadh, Jeddah, hingga dalam percakapan sehari-hari dengan masyarakat setempat, tampak kesadaran baru bahwa masa depan negara tidak bisa selamanya bergantung pada minyak bumi.
Kesadaran itulah yang kemudian dikenal dunia sebagai New Saudi Narrative.
Lebih dari Sekadar Kota Futuristik
Banyak orang mengenal transformasi Arab Saudi melalui proyek-proyek besar seperti NEOM, Formula 1, stadion modern, kawasan wisata Laut Merah, investasi teknologi, hingga pengembangan kecerdasan buatan.
Namun perubahan yang sesungguhnya bukanlah soal bangunan megah atau investasi bernilai fantastis.
Yang sedang dibangun Arab Saudi adalah kepercayaan terhadap masa depan.
Selama puluhan tahun, minyak menjadi fondasi utama pembangunan negara. Sejak ditemukan di Dammam pada 1938, minyak bukan hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga menjadi dasar kontrak sosial yang menopang kesejahteraan masyarakat Saudi.
Model tersebut berhasil selama beberapa dekade. Namun dunia kini berubah.
Transisi energi, perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, dan ekonomi digital mengirimkan pesan yang sama kepada negara-negara kaya sumber daya alam: tidak ada keunggulan yang bertahan selamanya.
Pertanyaan yang kini dijawab Saudi adalah sederhana namun mendasar:
“Apa yang terjadi ketika dunia tidak lagi membutuhkan minyak seperti hari ini?”
Pertanyaan yang Juga Berlaku untuk Indonesia. Pertanyaan itu sesungguhnya tidak hanya relevan bagi Arab Saudi.
Indonesia menghadapi tantangan yang serupa. Apa yang terjadi ketika batu bara tidak lagi menjadi komoditas utama energi dunia?
Bagaimana jika teknologi baru mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya yang saat ini menjadi andalan ekonomi nasional?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang tidak nyaman. Namun sejarah menunjukkan bahwa masa depan sering lahir dari keberanian menghadapi ketidaknyamanan.
Karena itu, Vision Saudi 2030 bukan sekadar proyek ekonomi.
Program tersebut merupakan upaya melawan rasa nyaman yang terlalu lama melekat pada negara kaya sumber daya.
NEOM, misalnya, bukan hanya proyek kota masa depan. Ia adalah simbol bahwa Arab Saudi ingin dikenal bukan hanya karena kekayaan yang tersimpan di bawah tanahnya, tetapi juga karena kemampuan sumber daya manusianya menciptakan inovasi.
Narasi Adalah Modal Baru
Pada abad ke-21, modal tidak lagi hanya berupa uang.
- Kepercayaan adalah modal.
- Reputasi adalah modal.
- Persepsi adalah modal.
- Narasi adalah modal.
Investor datang karena percaya pada masa depan sebuah negara. Talenta global berpindah karena melihat peluang. Wisatawan hadir karena percaya pada pengalaman yang ditawarkan.
Karena itu, Arab Saudi saat ini tidak hanya membangun jalan, pelabuhan, atau kawasan ekonomi baru.
Mereka sedang membangun cerita baru tentang dirinya sendiri.
Membaca Perubahan Geopolitik Dunia
Transformasi Saudi juga terjadi di tengah perubahan geopolitik global yang semakin kompleks.
Kebangkitan Tiongkok, meningkatnya pengaruh BRICS, perkembangan teknologi kecerdasan buatan, hingga dinamika hubungan antarnegara telah menciptakan tatanan dunia yang semakin multipolar.
Arab Saudi membaca perubahan itu dengan cermat.
Mereka tetap menjaga hubungan strategis dengan Amerika Serikat, namun pada saat yang sama memperkuat kerja sama dengan Tiongkok dan berbagai kekuatan baru lainnya.
Saudi tidak sedang memilih satu kutub kekuatan. Mereka berupaya menjadi negara yang dibutuhkan oleh semua pihak. Di sinilah terdapat pelajaran penting bagi Indonesia.
Politik luar negeri bebas aktif di era modern tidak cukup dimaknai sebagai sikap netral.
Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana membuat Indonesia tetap relevan dan menjadi mitra strategis bagi berbagai kekuatan dunia. Indonesia dan Tantangan Masa Depan. Indonesia memiliki banyak keunggulan.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Cadangan nikel yang besar, kekayaan laut, kawasan hutan tropis, bonus demografi, pasar domestik yang luas, hingga posisi geografis yang strategis.
Namun sejarah juga menunjukkan bahwa kekayaan alam saja tidak pernah menjamin kemajuan.
Banyak negara kaya sumber daya justru tertinggal karena terlalu bergantung pada anugerah yang dimiliki.
Sebaliknya, banyak negara yang minim sumber daya mampu melompat jauh karena mengandalkan inovasi, pengetahuan, disiplin, dan kemampuan membaca arah perubahan zaman.
Karena itu, berbagai agenda pembangunan seperti hilirisasi industri, ketahanan pangan, transisi energi, penguatan teknologi nasional, dan pembangunan sumber daya manusia sejatinya bukan sekadar program ekonomi.
Yang dipertaruhkan adalah narasi Indonesia di masa depan. Apakah Indonesia akan terus dikenal sebagai pemasok bahan mentah?
Ataukah menjadi pusat manufaktur, teknologi, energi, pangan, dan ekonomi digital yang memiliki pengaruh nyata dalam peta global?
Jawaban atas pertanyaan tersebut ditentukan oleh konsistensi, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan menjaga arah pembangunan dalam jangka panjang.
Indonesia dan Arab Saudi: Hubungan tentang Masa Depan
Hubungan Indonesia dan Arab Saudi selama ini dikenal kuat melalui penyelenggaraan ibadah haji dan umrah.
Namun di tengah perubahan dunia, hubungan kedua negara memiliki potensi yang jauh lebih luas.
Arab Saudi membutuhkan mitra dengan stabilitas politik, pasar besar, populasi muda, dan posisi strategis.
Indonesia membutuhkan investasi berkualitas, transfer teknologi, kerja sama energi, pengembangan industri strategis, serta akses yang lebih luas terhadap jaringan ekonomi global.
Rencana pembangunan Kampung Haji Indonesia di Makkah menjadi salah satu simbol meningkatnya kepercayaan kedua negara.
Di balik itu, terbuka peluang kerja sama di sektor energi, petrokimia, pangan, logistik, kecerdasan buatan, ekonomi digital, hingga investasi jangka panjang.
Hubungan kedua negara kini tidak lagi hanya berbicara tentang masa lalu. Hubungan tersebut mulai bergerak menuju masa depan.
Kemampuan Membayangkan Masa Depan
Perjalanan sejarah menunjukkan bahwa masa depan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh apa yang dimilikinya saat ini.
Masa depan ditentukan oleh kemampuan membaca perubahan zaman. Arab Saudi tampaknya sedang berusaha melakukan hal tersebut.
Pertanyaannya kini beralih kepada Indonesia.
- Apakah kita akan menunggu perubahan datang lalu bereaksi?
- Ataukah berani berubah lebih dulu sebelum perubahan itu memaksa kita?
- Sejarah berulang kali mengajarkan satu hal yang sama.
- Bangsa tidak runtuh ketika kehilangan sumber daya.
- Bangsa runtuh ketika kehilangan kemampuan membayangkan masa depannya.
Di tengah dunia yang berubah semakin cepat, kemampuan membayangkan masa depan mungkin telah menjadi sumber daya paling berharga yang dimiliki sebuah bangsa.
Penulis Oleh: Azis Subekti – Mahasiswa Program Doktor UAI dan Anggota DPR RI Fraksi Gerindra.
About The Author
- Penulis: BNews 2




Saat ini belum ada komentar