Nilai Utang Baru Pemerintah Semester I 2020 Pecahkan Rekor

BNews—NASIONAL— Pembiayaan utang pemerintah Indonesia selama semester I 2020 mencapai Rp421,5 triliun. Angka tersebut naik dua kali lipat dibandingkan periode yang sama di tahun lalu yang hanya  Rp181,2 triliun.

Berdasarkan laporan semester I Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBN) 2020, penarikan utang itu terdiri dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) Rp430,4 triliun (neto). Dan pinjaman minus Rp8,9 triliun (neto).

Tingginya pembiayaan utang hingga akhir Juni 2020 tersebut sejalan dengan langkah extraordinary pemerintah. Dan pelebaran defisit anggaran menjadi 6,34 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) akibat pandemi virus corona.

”Pelebaran defisit merupakan bagian dari pelaksanaan kebijakan countercyclical. Dimana ketika ekonomi melemah, pemerintah perlu step in untuk memberikan stimulus guna perbaikan ekonomi,” tulis bahan laporan semester I APBN 2020 seperti dikutip borobudurnews.com, Jumat (10/7).

Pembiayaan utang di semester I 2020 tersebut merupakan rekor tertinggi. Sebagai pembanding pada semester I 2016, realisasi pembiayaan utang hanya Rp278,1 triliun. Di periode yang sama 2017 mencapai Rp207,8 triliun dan di periode yang sama 2018 mencapai Rp180,2 triliun.

Sementara di semester I 2019 pembiayaan utang hanya Rp 181,2 triliun. Bahkan jika dibandingkan setahun penuh, pembiayaan sejak 2010-2015 tak sampai sebesar semester I 2020.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut pembiayaan utang akan tetap dilakukan secara hati-hati. Selain itu, penarikan utang juga diharapkan dapat menjaga kredibilitas dan kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia.

”Realisasi pembiayaan utang tetap dilakukan hati-hati. Kami harap Indonesia bisa menjaga kredibilitas sehingga membuat kepercayaan pasar terjaga,” kata Sri Mulyani dalam rapat bersama Badan Anggaran DPR RI, Kamis (9/7).

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (Klik di sini)

Adapun realisasi defisit anggaran hingga 30 Juni 2020 sebesar Rp257,8 triliun atau 1,57 persen terhadap PDB. Realisasi tersebut lebih dalam dibandingkan Mei 2020 yang mencatatkan defisit Rp179,6 triliun atau 1,1 persen dari PDB.

Penerimaan negara berhasil terkumpul Rp811,2 triliun atau turun 9,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (yoy). Sementara belanja negara, realisasinya Rp1.068,9 triliun atau tumbuh 3,3 persen (yoy).

Imbuh dia, defisit yang melebar tersebut lantaran penerimaan negara yang masih tertekan atau minus. Sementara belanja negara tumbuh lebih cepat.

”Pendapatan negara minus 9,8 persen dibandingkan dengan tahun lalu mencapai Rp899,6 triliun,” pungkasnya. (han)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: