Performa “Lumbung Donga” Digelar Seniman Lima Gunung di Sebuah Candi Lereng Merapi

BNews–SAWANGAN– Rangkaukan Festival Lima Gunung XIX/2020 masih terus berjalan. Kali ini para seniman Magelang gelar performa di Candi Lumbung Dusun Tlatar Desa Krogowanan Sawangan, pada Sabtu pagi (11/9/2020).

Pertnjukan dengan tajuk “Lumbung Donga” tetap berlangsung di tengah pandemi COVID-19. Sebanyak Lima seniman dari kelompok Katon Art pimpinan Anton Prabowo dan Sanggar Saujana Keron pimpinan Sujono menampilkan performa tanpa penonton.

Tetap menerapkan protokol kesehatan, para seniman ini tetap menggunakan masker serta topeng. Performa dilakukan dalam suasana perubahan dari hari gelap menuju terang pagi sekitar pukul 04.30 hingga 05.30 WIB.

Dalam performa itu, seniman Anton, Sujono, Aji, dan Gigih, yang masing-masing mengenakan selempang kain warna putih. Mereka berjalan mengelilingi candi tiga kali sambil membawa dupa dalam periuk, lilin di atas gedebok, serta topeng. Mereka juga melantunkan kidung doa berbahasa Jawa.

Puji, seniman lain yang mengenakan pakaian adat Jawa gaya Yogyakarta, duduk bersila di bawah kaki tangga candi. Dirinya sambil memainkan siter–alat musik petik– untuk mengiringi seniman yang melakukan performa.

Sejumlah tempat di bagian anak tangga Candi Lumbung dipasangi beberapa lilin dinyalakan dengan selubung gedebok.

Performa “Lumbung Donga” di candi tersebut merupakan putaran kelima dari rangkaian acara Festival Lima Gunung XIX/202. Event tersebut mengangkat tema besar “Donga Slamet, Waspada Virus Dunia” yang digelar di tengah pandemi.

Loading...
DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Anton selaku penari, koreografer, dan penggagas pementasan itu menyebut performa “Lumbung Donga” secara khusus terkait dengan refleksi atas kondisi pandemi. Dan perlunya keprihatinan serta kepedulian bersama semua orang dalam menghadapi pandemi yang yang berlangsung setengah tahun terakhir.

“Berserah kepada Yang Esa, menyatukan doa, dan sekaligus terus-menerus berupaya mencari jalan keluar dari kesulitan karena pandemi. Agar bisa tetap bertahan dan hidup di tengah pandemi,” katanya dikutip Antara.

Menurutnya, performa tersebut juga mengingatkan semua orang, termasuk pengambil kebijakan dan pengampu pemerintahan. Tentu untuk memperhatikan secara serius persoalan kerawanan pangan akibat pandemi global yang berkepanjangan dan menimbulkan banyak korban.

“Sebagaimana lumbung dalam tradisi masyarakat kita sebagai penyimpan bahan makanan pokok. Dalam pandemi ini juga harus diperhatikan persoalan dan pengelolaan lumbung pangan dan ketahanan pangan,” imbuhnya.

“Menanam adalah mitigasi pangan yang saat ini harus benar-benar direalisasi,” tegasnya.

Perlu diketahui Festival tahunan tersebut diselenggarakan secara mandiri oleh para seniman petani Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang. Dimana event dirintis oleh budayawan Sutanto Mendut sekitar 20 tahun lalu.

Putaran pertama atau pembukaan festival tahun ini berlangsung 9 Agustus 2020 di kawasan Gunung Sumbing. Tepatnya du Dusun Krandegan, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang.

Putaran keduanya berlangsung 12 Agustus di tempat tinggal budayawan Emha Ainun Najib (Cak Nun) di Kadipiro, Yogyakarta; putaran yang ketiga digelar 22 Agustus di Studio Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang; dan putaran keempat digelar pada 6 September di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati. (*/islh)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: