Peta Kawasan Rawan Gempa Di Yogyakarta Akan Meluas, Ada 3 Sesar Baru

BNews–JOGJA-  Peta kawasan rawan gempa di wilayah DIY diperkirakan akan meluas. Hal tersebut seiring belum dipetakannya tiga sesar aktif yang menjadi salah satu pemicu terjadinya gempa.

BPBD DIY menyatakan masukan dari pakar terkait dengan potensi ketiga sesar tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan kebijakan ke depan.

Kepala BPBD DIY Biwara Yuswantana menyatakan indikasi tiga sesar seperti Progo, Dengkeng dan Oya memang relatif baru. Akan tetapi Pemda DIY belum mendapatkan data detail terkait dengan potensi dampak dari ketiga sesar baru ini. Karena relatif baru, ketiganya memang belum dipetakan titik rawan bencana gempa yang terdampak langsung sesar Progo, Dengkeng dan Oya.

Masukan dari pakar terkait indikasi ketiga sesar aktif ini tentu akan menjadi pertimbangan untuk melakukan review terhadap penetapan kawasan rawan gempa.  

“Itu kan termasuk data baru [dari pakar UGM], sudah pernah disampaikan juga ke kami, tentu akan menjadi bahan mereview atau mengkaji kembali terhadap kawasan rawan bencana [gempa] yang ada tentu dengan indikator yang lain,” katanya kepada Harianjogja.com, Kamis (24/11/2022).

Saat ini pemetaan yang sudah dilakukan baru pada sesar Opak karena dampaknya sudah jelas yaitu gempa parah yang terjadi pada 2006 silam. Selanjutnya kawasan rawan gempa telah ditetapkan sebanyak 27 kecamatan di DIY yang terdampak langsung terdampak langsung sesar opak.

Biwara mengatakan belum dipetakannya ketiga sesar ini karena kajian yang dilakukan pakar terus berkembang hingga menemukan adanya indikasi ketiga sesar tersebut. Selain itu setiap sesar tentu berbeda potensi ancamannya, sehingga Pemda DIY belum menggali lebih dalam terkait potensi ancaman dampak dari ketiga sesar ini. Saat ini yang sudah jelas dampak ancamannya besar adalah sesar Opak karena sudah pernah terjadi gempa 2006.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

“Yang jelas ketika ada temuan dari hasil kajian tentu regulasinya akan menyesuaikan. Apa yang perlu kami respons tindaklanjuti dari sisi mitigasi kami siap diberi masukan,” ucapnya.

Ia menambahkan kawasan rawan gempa yang sudah dipetakan di Perda RTRW memang masih berdasarkan sesar opak dan pengalaman saat gempa 2006. Sehingga sesar Progo, Dengkeng dan Oya memang belum dipetakan sama sekali. Ketika tiga sesar aktif yang baru terindikasi ini menjadi pertimbangan tambahan dalam mereview kawasan rawan gempa, maka diperkirakan akan meluas kawasan rawan tersebut. Akan tetapi harus dilihat lebih detail terkait potensi ancamannya.

“Tentu, kalau potensi ancaman [gempa] di DIY untuk bertambah bisa saja, atau mungkin bergeser bisa saja. Tetapi yang perlu menjadi perhatian juga alasannya mengapa bergeser dan juga seberapa besar ancamannya,” katanya.

Biwara menyatakan warga yang tinggal di sekitar ketiga kawasan sesar tersebut memang harus meningkatkan kesiapsiagaan. Karena hakekatnya kesiapsiagaan itu harus disiapkan untuk seluruh masyarakat DIY mengingat gempa merupakan bencana yang tidak bisa diprediksikan kapan akan terjadi. “Apalagi kalau bicara waktu tidak bisa diperkirakan, kalau potensi ancaman mungkin masih bisa diperkirakan. Maka memang semua harus siap siaga,” ucapnya.

Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji menyatakan pasca gempa 2006 sebenarnya DIY semua wilayah lebih waspada dan siap siaga mengantisipasi bencana gempa. Hal ini sudah disosialisasikan hampir di semua kalurahan di DIY. Salah satunya terkait dengan konstruksi bangunan yang ramah terhadap gempa.

“Salah satunya terkait konstruksi yang terstandar, kemudian bagian atap saat ini lebih banyak pakai yang ringan. Jadi DIY ini memang rawan bencana tidak hanya gempa tetapi hampir semua ada seperti angin, banjir, tanah longsor,” katanya. (*/harjo)

About The Author

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!