Saat Hiroshima Hancur, Kaisar Hirohito Justru Bertanya: Berapa Guru yang Tersisa?
- calendar_month Sel, 3 Feb 2026

Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra
BNews-OPINI – Ketika Hiroshima luluh lantak akibat ledakan bom atom, dunia menyaksikan kehancuran yang bukan hanya fisik, tetapi juga kemanusiaan. Kota itu berubah menjadi hamparan puing, meninggalkan luka sejarah mendalam bagi Jepang.
Namun di tengah situasi tersebut, Kaisar Hirohito justru mengajukan pertanyaan yang tidak lazim dalam logika perang.
Ia tidak menanyakan kekuatan militer yang tersisa ataupun cadangan logistik negara. Ia justru bertanya tentang guru, berapa banyak yang masih hidup.
Pertanyaan sederhana itu mencerminkan kesadaran besar bahwa masa depan bangsa tidak ditentukan oleh senjata, melainkan oleh manusia yang mampu membangun kembali akal dan karakter generasi berikutnya.
Sejak saat itu, Jepang memilih jalan sunyi namun menentukan. Kebangkitan tidak dibangun melalui slogan, melainkan lewat kerja sistematis di dunia pendidikan.
Sekolah dijadikan pusat pemulihan peradaban, sementara guru ditempatkan sebagai figur terhormat. Proses belajar diarahkan untuk membentuk disiplin, tanggung jawab, serta ketekunan.
Hasilnya tidak hanya terlihat pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kualitas manusianya. Jepang dikenal sebagai bangsa dengan tingkat literasi tinggi, kemampuan inovasi kuat, serta etos kerja yang menjadi rujukan dunia.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Semua itu berakar dari satu kesadaran mendasar bahwa membangun manusia adalah prasyarat utama kebangkitan bangsa.
Sejarah tersebut menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar janji, melainkan keberlanjutan tindakan nyata.
Jepang memastikan anak-anaknya tumbuh dengan gizi yang cukup, sekolah hadir hingga ke komunitas paling dasar, dan akses pengetahuan terbuka luas.
Investasi inilah yang membentuk daya tahan nasional, sehingga Jepang mampu bertahan menghadapi krisis ekonomi, bencana alam, hingga perubahan global yang cepat.
Cermin sejarah itu kini relevan bagi Indonesia. Dalam satu tahun terakhir, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, pendidikan mulai ditempatkan sebagai poros pembangunan, bukan sekadar sektor pelengkap.
Program makan bergizi bagi anak sekolah, santri pesantren, ibu hamil, dan balita menjadi langkah mendasar yang berangkat dari fakta ilmiah bahwa kecerdasan tidak dapat berkembang optimal tanpa pemenuhan gizi.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Upaya tersebut berjalan beriringan dengan perluasan akses pendidikan melalui peningkatan penerima beasiswa; sehingga pendidikan tidak lagi menjadi hak istimewa kelompok tertentu.
Perbaikan sekolah rusak dilakukan untuk memulihkan kelayakan ruang belajar, sementara pembangunan akses jalan dan infrastruktur di wilayah terpencil menegaskan kehadiran negara dalam menjamin layanan pendidikan.
Program sekolah rakyat berasrama gratis membuka peluang bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk keluar dari lingkaran ketertinggalan.
Di sisi lain, pembangunan sekolah unggulan serta perluasan SMA berstandar nasional diarahkan untuk mencetak generasi dengan disiplin, karakter kuat, dan daya saing akademik.
Pada jenjang pendidikan tinggi, kerja sama dengan universitas-universitas terkemuka di Inggris juga menjadi jembatan transfer pengetahuan dan standar global ke dalam negeri.
Rangkaian kebijakan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan manusia mulai dijalankan secara nyata. Negara bekerja dari hulu, memastikan generasi tumbuh sehat, berpikir jernih, dan memiliki lingkungan belajar yang layak.
Meski demikian, pengalaman Jepang juga mengajarkan bahwa pendidikan tidak pernah berhasil jika hanya bergantung pada pemerintah.
Keberhasilan lahir dari keterlibatan kolektif, mulai dari guru yang berdedikasi, orang tua yang peduli, masyarakat yang menghargai ilmu, hingga dunia usaha yang memberi ruang bagi tumbuhnya pengetahuan.
Pada titik inilah kesadaran bersama menjadi penting. Tidak ada bangsa besar yang lahir tanpa kesediaan seluruh elemennya untuk mendidik generasi penerus. Pemerintah dapat membuka jalan, namun akal budi hanya berkembang jika seluruh masyarakat ikut berperan.
Momentum kebangkitan itu kini ada di depan mata. Dari rumah, sekolah, pesantren, kampus, hingga ruang publik, pendidikan harus menjadi gerakan bersama. Sebab masa depan Indonesia akan ditentukan oleh manusia-manusia yang berpikir jernih, berkarakter kuat, serta bertanggung jawab terhadap bangsanya. (adv)
Penulis Oleh: Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra
About The Author
- Penulis: BNews 2





Saat ini belum ada komentar