Sambut DSP Borobudur, DPRD Kabupaten Magelang Himpun Data Pariwisata

BNews–MAGELANG– Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Magelang menghimpun masukan dari stakeholder pariwisata dan budaya sebagai salah satu proses kajian untuk pendataan pariwisata. Kegiatan berwujud Focus Group Discussion (FGD) ini mengundang para insan pariwisata dan tokoh budaya.

Sejumlah pihak yang diundang dalam kegiatan pada Rabu (17/11) ini meliputi penggiat dan asosiasi pariwisata, perwakilan sanggar, desa wisata, sanggar, kepala desa di kawasan wisata, budayawan hingga seniman. Dari mereka, DPRD Kabupaten Magelang menghimpun data.

Di forum tersebut, salah satu undangan yang hadir, Edward Alfian yang merupakan Ketua Forum Daya Tarik Wisata (DTW) Kabupaten Magelang mengatakan di Kabupaten Magelang ada destinasi super prioritas (DSP) yakni di Borobudur. Namun, ia merasa belum ada prioritas kebijakan Pemerintah untuk pelaku wisata seni dan budayawan.

“Berarti perlu peraturan daerah tentang pariwisata berbasis budaya. Harapan kami, ada arah agar pelaku di pariwisata ketika mengembangkan di pariwisata di sisi fasilitas, atraksi, makanan sampai oleh-oleh tidak meninggalkan budaya lokal Kabupaten Magelang. Jadi bagaimana budaya dijual berkolaborasi dengan pariwisata,” jelasnya.

Ia menyebutkan dua hal penting yang dibutuhkan untuk pengembangan pariwisata Kabupaten Magelang. Pertama, akses yang baik menuju destinasi wisata. Ia mencontohkan akses jalan menuju Nepal Van Java dan Tumpeng Menoreh yang saat ini menjadi destinasi hits di Kabupaten Magelang, masih terbatas pada kendaraan tertentu. Ia berharap ada akses lebih luas agar semakin banyak wisatawan yang datang ke destinasi tersebut.

Seniman Ganang Tri Laksana menyampaikan basis kelokalan di Kabupaten Magelang bakal istimewa apabila merujuk pada abad 7/8. Era kerajaan Mataram Kuno yang lama hilang, berada di kawasan borobudur, Magelang dan ini lebih tua dari Jogja dan Solo.

“Banyak peninggalan peradapan yg luar biasa. Semestinya hal ini mampu menjadi bahan kajian istimewa dan prioritas untuk di-breakdown menjadi sebuah program pengembangan dan pembangunan khususnya di bidang pariwisata dan budaya Kabupaten Magelang,” kata pemilik Avadana Art Studio tersebut.

Download Aplikasi BorobudurNews (Klik Disini)

Dari Komunitas Lima Gunung (KLG), Sekretaris KLG, Endah Pertiwi mengungkapkan di komunitasnya yang tersebar di lereng gunung Merapi, Merbabu, Menoreh, Andong dan Sumbing, banyak digelar acara berbasis budaya lokal. Ia berharap Pemerintah Kabupaten Magelang bisa menggali potensi budaya tersebut sebagai daya tarik wisata.

“Ada acara-acara budaya tradisi seperti suran, saparan, merti dusun. Nah itu bagaimana konsep pemerintah mengemasnya untuk daya tarik wisata. Jadi yang dipromosikan tidak hanya di area Borobudur saja, Kabupaten Magelang itu luas. Pemerintah berperan penting, bagaimana agar di acara seperti itu pejabatnya kesana, mempromosikan, sehingga wisatawan kesana, menginap, mereka juga bisa belajar cara panen, dampaknya luas,” kata Endah.

Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Magelang, Grengseng Pamudji mengungkapkan FGD ini merupakan bagian kecil dari proses menghimpun data. Kabupaten Magelang menjadi kawasan superpriortas tapi pariwisata dan budaya baru sebatas asumsi, argumentasi dan opini.

“Dalam pengembangan Borobudur sebagai Kawasan Super Prioritas, spirit Kabupaten Magelang adalah jangan hanya menjadi penonton. Hari ini kita belum tahu database pariwisata berbasis budaya lokal seperti apa. Kita ingin punya gambaran kecil dari pelaku wisatanya dan pelaku budayanya,” jelas Grengseng. (ADV)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: