Sensasi Membuat Gerabah Pakai Tangan Sendiri Di Wisata Klipoh Borobudur
- calendar_month Sen, 9 Agu 2021

WISATA : Rombongan wisatawan anak-anak sedang praktek membuat kerajinan Gerabah di Borobudur (15/12)--Foto--rth)
BNews–MAGELANG– Ketika mendengar kata Borobudur, mungkin saja yang ada di benak tiap orang
adalah sebuah candi besar megah yang pernah masuk sebagai tujuh keajaiban dunia. Padahal, Borobudur lebih dari itu.
Borobudur adalah nama salah satu kecamatan di Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Kebetulan, karena Candi Wangsa Syailendra itu berada di Kecamatan tersebut, sehingga dinamailah Borobudur.
Di Kecamatan Borobudur, terdapat 20 desa wisata yang masing-masing lokasi memiliki potensi luar biasa. Salah satunya, sebuah dusun di Desa Karanganyar bernama Klipoh.
Di dusun tersebut, sekitar 75 persen masyarakatnya menggantungkan hidup sebagai pengrajin gerabah dimana rata-rata dilakukan oleh perempuan. Hebat bukan? Para perempuan di sana sudah terbiasa membuat gerabah sejak kecil. Orang tua mereka menurunkan skill tersebut secara turun temurun.
Saat berkunjung ke Dusun Klipoh, pengunjung bisa menemukan berbagai produk gerabah seperti sendok makan, piring, kendi, tempat sambal, gelas, guci, patung kepala Budha, pot, dan masih banyak lagi.
Produk gerabah yang dijual pun memiliki harga yang bervariasi. Mulai dari Rp 2000 hingga yang termahal mencapai jutaan rupiah seperti produk keramik. Tergantung tingkat kesulitan, bentuk, ukuran dan waktu pembuatan.
DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)
Semua produk dibuat dari tanah liat berkualitas yang dibeli dari persawahan warga atau dibeli dari Bali seharga Rp 20.000/Kg.
Di masa pandemi, penjualan produk gerabah ini cukup meningkat tajam karena banyaknya orang mulai menjalani hobi sebagai pecinta tanaman. Permintaan pot bunga per hari bisa mencapai 300 buah. Untuk pasar sendiri, biasanya masyarakat menjual melalui tengkulak, pasar tradisional hingga ekspor ke luar negeri.
Dialah Supoyo, selaku penggagas terbentuknya kelompok pengrajin gerabah untuk kegiatan edukasi dan wisata. Beliau merupakan pemilik dari Arum Art—salah satu tempat pembuatan gerabah di Dusun Klipoh.
Menurutnya, keberadaan para pengrajin gerabah ini diperkirakan sudah ada sejak 300 tahun lalu. Itu terbukti dari ditemukannya relief di Candi Borobudur yang menggambarkan orang-orang yang tengah membuat gerabah.
Meski pembuatan gerabah ini sudah ada sejak lama dan dilakukan secara turun temurun, tetapi baru membuka diri sebagai tempat edukasi dan wisata pada tahun 2004. Pak Supoyo bercerita bahwa kala itu ada turis asing yang tertarik dengan pembuatan gerabah dan berniat mencobanya sendiri.
Namun karena masyarakat belum memiliki persiapan apapun untuk kegiatan wisata sehingga praktik pembuatan gerabah ke para turis yang datang hanya dilakukan seadanya. Padahal para turis asing itu terlihat sangat antusias.
Tak mau kondisi tersebut berlanjut, pada akhirnya Pak Supoyo berinisiatif membuat Arum Art sebagai tempat belajar membuat gerabah tatkala wisatawan datang berkunjung, entah itu wisatawan lokal maupun internasional.
Nah, sebelum ada pandemi, Pak Supoyo mengaku bahwa lebih banyak turis asing yang menjejak ke Dusun Klipoh untuk belajar membuat gerabah. Mulai dari membentuk tanah, mengeringkan hingga membungkus hasil buatan mereka sebagai kenang-kenangan.
Proses membuat gerabah “melalui tangan sendiri” itulah yang menjadi sensasi serta daya tarik wisata di Desa Karanganyar, Kabupaten Magelang.
Nantinya, setelah wisatawan berhasil membuat karya seni mereka. Pihak Arum Art akan memproses lebih lanjut karya seni tersebut. Dan mengirimkannya ke hotel atau penginapan tempat para turis tinggal. (*/ Nurul Mutiara Risqi Amalia)
About The Author
- Penulis: Marisa Oktavani




Saat ini belum ada komentar