Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Terungkap! Manuskrip 650 Tahun di Magelang Berisi Ilmu Pengobatan hingga Astrologi

Terungkap! Manuskrip 650 Tahun di Magelang Berisi Ilmu Pengobatan hingga Astrologi

  • calendar_month Ming, 26 Jul 2026

BNews—MAGELANG—Sebuah manuskrip kuno berbahan daun lontar yang diperkirakan berusia sekitar 650 tahun masih tersimpan rapi di Dusun Kedakan, Desa Kenalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. Hingga kini, isi naskah tersebut masih menjadi misteri karena belum ada peneliti yang berhasil membaca maupun menerjemahkannya secara pasti.

Keberadaan manuskrip tersebut menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang memperkuat dugaan bahwa kawasan Merapi-Merbabu pernah menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan pada masa lampau.

Dusun Kedakan sendiri merupakan salah satu permukiman tertinggi di Kabupaten Magelang dengan ketinggian sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut (mdpl). Lokasinya berada di jalur pendakian menuju Gunung Merbabu dan dikenal sebagai kawasan yang memiliki sejarah panjang.

Di dusun tersebut dipercaya pernah berdiri Padepokan Ki Hajar Doko. Hingga kini, manuskrip daun lontar masih disimpan secara turun-temurun dalam balutan kain mori dan ditempatkan di dalam kotak wayang jimat di rumah Mbah Dalang, Ki Supoyo.

Isi Manuskrip Daun Lontar Masih Menjadi Misteri

Kepala Desa Kenalan, Joko Santoso, mengatakan berbagai upaya penelitian telah dilakukan, namun isi manuskrip tersebut hingga kini belum dapat dipastikan.

“Yang mana dari isi tulisan yang tertera di daun lontar ini sampai dengan detik ini belum bisa ada yang menerjemahkan ataupun bahkan membaca,” kata Kepala Desa Kenalan, Joko Santoso, saat ditemui di kantornya, Selasa (21/7/2026).

Menurut Joko, sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi ternama pernah melakukan penelitian terhadap manuskrip tersebut. Namun, hasil pembacaannya justru berubah setiap kali dilakukan penelitian pada waktu yang berbeda.

“Dulu itu pernah ada beberapa mahasiswa dari UI, UGM, IPB itu pernah mengadakan penelitian, dan dulu itu pernah menyimpulkan bahwa isi dari naskah yang ada di daun lontar itu bunyinya begini. Ketika tahun berikutnya dibaca itu sudah berbeda-beda lagi. Ganti tahun, ganti tahun artinya sudah berbeda-beda,” sambung Joko.

Ditulis dengan Teknik Ukiran, Bukan Tinta

Selain isi naskah yang belum dapat dipecahkan, manuskrip tersebut juga memiliki keunikan dari sisi fisik.

Joko menjelaskan, tulisan pada daun lontar tidak dibuat menggunakan tinta, melainkan dengan teknik ukiran halus pada permukaan daun.

“Istimewa begini, daun lontar itu yang lebarnya sekitar 4 atau 5 cm. Panjangnya sekitar 30 cm. Itu tertulis, kalau sekarang bisa menyebutkan itu tulisan Jawa-Buddha. Itu tulisannya aja nggak pakai tulisan tinta seperti di buku,” ujar Joko.

“Tapi, semacam ukiran dan kanan-kirinya ini kan diukir. Istimewanya kenapa kok tidak tembus, padahal ketebalan cuma setebal kertas,” sambung Joko.

BRIN Telusuri Keterkaitan dengan Manuskrip Perpusnas

Belum lama ini, tim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) datang ke Dusun Kedakan untuk meneliti kemungkinan keterkaitan manuskrip tersebut dengan koleksi naskah kuno di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas).

“Dari BRIN ketika sampai Kedakan (sekitar 10 atau 20 hari lalu), itu ternyata ketika dilihat dari tulisnya kok cocok sama yang berada di Perpusnas di Jakarta. Yang di sana (Perpusnas) kan sebagian sudah terbaca dari sekian banyak naskah itu diperkirakan ada 1.486 naskah,” ujarnya.

Menurut Joko, hasil penelitian sementara menunjukkan ribuan manuskrip yang kini tersimpan di Perpusnas diduga memiliki hubungan dengan Dusun Kedakan.

“Itu semua (di Perpusnas) berdasarkan penelitian ternyata semua bersumber dari Dusun Kedakan. Yang mana bisa diketahui dari Kedakan semua tertera nama Simbah Ki Hajar Doko,” sambungnya.

Diduga Berasal dari Abad Ke-14

Joko menjelaskan, nama Ki Hajar Doko selalu tercantum pada bagian akhir berbagai manuskrip yang telah diteliti.

Hal tersebut menjadi dasar dugaan bahwa seluruh naskah tersebut berasal dari padepokan yang berada di Dusun Kedakan.

“Ibaratnya surat undangan itu kan pasti yang terbawah itu mengetahui ataupun ada paraf tanda tangannya, dari semua naskah itu ada simbah kiai, Ki Hajar Doko, padahal Ki Hajar Doko di Merbabu cuma satu di Kedakan. Jadi bisa disimpulkan bahwa dulu sekitar ratusan tahun yang dulu, itu kan penulisannya diperkirakan di tahun 1400-an. Jadi sampai detik ini sekitar sudah 650 tahun,” jelas Joko.

Ia menambahkan, dari ribuan manuskrip yang pernah ditemukan, kini hanya tersisa satu bundel yang masih berada di Dusun Kedakan.

“Itu dari sekian banyak naskah yang masih bisa diselamatkan sekarang masih di Indonesia. Katakan ada sekitar 4.113 di Perpusnas yang di Kedakan itu masih sisa satu. Satu naskah itu, satu bendel itu ada 35 lembar,” bebernya.

“35 lembar itu sampai dengan saat ini belum bisa terbaca. Mungkin membutuhkan beberapa bulan atau beberapa tahun nanti. Kemarin sudah ditindaklanjuti dari BRIN. Untuk isi suratnya atau isi naskahnya mungkin di kemudian hari nanti sudah ada kesimpulan,” lanjutnya.

Bupati Magelang: Bukti Besarnya Tradisi Keilmuan Merapi-Merbabu

Bupati Magelang, Grengseng Pamuji, menilai manuskrip kuno tersebut merupakan warisan budaya sekaligus bukti berkembangnya tradisi keilmuan di kawasan Merapi-Merbabu pada masa lampau.

“Jadi sekitar 1.400 manuskrip kalau tidak keliru yang dibawa Belanda tahun 1800. Ini baru kita telusur dari satu manuskrip yang hari ini tertinggal di Kedakan. Itu kan juga merupakan salinan ilmu pengetahuan di era itu,” kata Grengseng.

Mengacu pada kajian para filolog, manuskrip tersebut diperkirakan berasal dari masa pra-Islam, sekitar abad ke-13 hingga abad ke-15.

“Jadi kisaran mungkin ya 1200 sampai 1400. Jadi mungkin era Majapahit. Itu bisa menunjukkan bahwa kekayaan literasi di zaman itu di wilayah Kabupaten Magelang sangat luar biasa,” ujarnya.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

“Dengan ditemukannya seribu lebih manuskrip di wilayah Merapi, Merbabu. Dan ini yang terbesar di Indonesia, penemuan manuskrip seperti itu. Dan pada saat ditemukan itu kan masih di satu tempat Padepokan di Kedakan tahun 1800-an yang terus diangkut oleh Belanda,” tambah Grengseng.

Berisi Ilmu Pengobatan hingga Pertanian

Grengseng berharap manuskrip-manuskrip tersebut dapat diterjemahkan sehingga menjadi sumber pengetahuan bagi generasi mendatang.

“Menurut informasi yang saya terima kemarin dari Perpusnas bahwa ratusan manuskrip itu berisi tentang ilmu pengetahuan. Ada ilmu pengobatan, astrologi, sastra, pertanian, macam-macam. Itu ditulis dalam bentuk lontar,” bebernya.

Ia menilai manuskrip tersebut menjadi bukti bahwa kawasan Merapi-Merbabu bukan hanya memiliki warisan fisik seperti Candi Borobudur, tetapi juga kekayaan intelektual yang luar biasa.

“Manuskrip itu kan salinan ilmu pengetahuan di zaman itu yang ditulis oleh pelajar-pelajar Magelang yang terhimpun di wilayah Merapi-Merbabu. Jadi ini menurut saya sebuah karya yang luar biasa yang bisa mendampingi Borobudur. Kalau Borobudur mungkin secara fisik terbangun. Nah ini secara intelektualnya menjadi bukti bahwa wilayah Merapi-Merbabu itu adalah wilayah keilmuan,” tegasnya.

Menurut Grengseng, hingga saat ini baru sekitar 15 manuskrip yang berhasil diterjemahkan.

“Kalau bisa kita mendorong sivitas akademika dari UGM, dari BRIN, dari manapun peneliti maupun filolog untuk bisa membantu menerjemahkan ini, dan kami bermohon kepada Kementerian Kebudayaan kalau bisa kami Magelang itu punya salinannya. Harapannya menjadi bagian kekayaan ilmu pengetahuan dari Kabupaten Magelang,” pungkasnya. (*)

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less