Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Srawung Rembulan Magelang Jadi Bukti Keroncong Masih Digemari Generasi Z

Srawung Rembulan Magelang Jadi Bukti Keroncong Masih Digemari Generasi Z

  • calendar_month 1 jam yang lalu

BNews-MAGELANG– Upaya melestarikan sekaligus menghidupkan kembali musik keroncong di kalangan generasi muda terus dilakukan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Salah satunya melalui pagelaran keroncong bertajuk “Srawung Rembulan” yang digelar oleh Yayasan Atma Nusvantara Jati (Atsanti Foundation).

Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari program Atsanti Music Camp 2024 bertema “Konco Keroncong” yang sebelumnya berfokus pada pengenalan dasar musik keroncong kepada para pelajar.

Tidak lagi sekadar pelatihan, program regenerasi keroncong kini diarahkan ke model pembelajaran yang lebih kolaboratif melalui konsep residensi dan pertunjukan bersama lintas generasi.

Ketua Atsanti Foundation, MF Nilo Wardhani, menjelaskan bahwa perubahan pendekatan tersebut berangkat dari hasil positif program sebelumnya. Saat itu, peserta yang sebagian besar tidak memiliki latar belakang musik keroncong justru menunjukkan antusiasme tinggi hingga mendorong lahirnya ekstrakurikuler keroncong di sejumlah sekolah.

”Dari situ kami melihat ada dampak. Sekolah yang sebelumnya tidak punya ekskul keroncong akhirnya membuka, bahkan anak-anaknya sudah bisa tampil di beberapa tempat,” ujarnya.

Melihat perkembangan tersebut, kegiatan tahun ini tidak lagi menyasar peserta pemula. Atsanti Foundation menggandeng sekolah-sekolah yang telah memiliki kelompok keroncong untuk dipertemukan dengan musisi profesional dalam satu panggung kolaborasi.

Sejumlah kelompok musik yang terlibat antara lain Omah Tumpuk dari Magelang dan Orkes Tresnawara yang selama ini dikenal sebagai pengusung musik keroncong. Para pelajar juga mendapat pendampingan langsung dari musisi dan mentor berpengalaman seperti Imung Mulyadi dan Heri yang sebelumnya terlibat dalam program music camp.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Nilo menambahkan, kegiatan ini juga menghadirkan pendekatan lintas genre dengan menggandeng musisi Panji Sakti. Sejumlah karya Panji diaransemen ulang ke dalam format keroncong dan dibawakan bersama orkes dalam pertunjukan tersebut.

Selain konser kolaborasi, rangkaian kegiatan juga diisi dengan masterclass, diskusi kreatif, dan bedah buku. Materi yang diberikan tidak hanya membahas teknik bermain musik, tetapi juga proses kreatif dalam menciptakan serta mengaransemen lagu agar dapat diadaptasi ke dalam format musik keroncong.

Konsep Residensi Jadi Pembeda

Salah satu hal yang membedakan kegiatan tahun ini adalah penerapan konsep residensi. Para peserta tidak hanya datang untuk tampil di atas panggung, tetapi juga tinggal bersama dan menjalani proses latihan intensif selama tiga hari, mulai 28 hingga 30 Mei 2026.

Peserta residensi berasal dari berbagai sekolah, di antaranya SMP Pangudi Luhur Moyudan, Sleman, dan SMA Santo Yosef Solo. Mereka terlibat langsung dalam proses kreatif bersama para musisi senior selama kegiatan berlangsung.

Praktisi keroncong sekaligus pengajar ISI Yogyakarta, Imung Mulyadi, menilai pendekatan tersebut menjadi langkah positif dalam menjaga keberlanjutan musik keroncong di tengah perkembangan zaman.

Menurutnya, ruang pembelajaran yang berkelanjutan menjadi faktor penting agar musik keroncong tetap dekat dengan generasi muda.

”Ini bukan sekadar pelatihan, tapi proses berjenjang yang memberi ruang bagi anak-anak untuk berkembang dan tampil,” paparnya.

Imung juga menilai pandangan yang menganggap keroncong sebagai musik kalangan tua mulai terbantahkan. Antusiasme pelajar dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa keroncong masih relevan bagi generasi muda apabila diberikan ruang yang tepat untuk berkembang.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa proses regenerasi tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang kaku. Generasi muda perlu diberi kebebasan untuk mengeksplorasi musik keroncong sesuai karakter dan kreativitas mereka.

Menurutnya, pendekatan tersebut penting agar keroncong tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga terus berkembang sebagai bentuk ekspresi seni yang hidup dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. (bsn)

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less