Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Suhu Gunung Merbabu Turun hingga -1 Derajat Celsius, Pendaki Diminta Waspada Hipotermia

Suhu Gunung Merbabu Turun hingga -1 Derajat Celsius, Pendaki Diminta Waspada Hipotermia

  • calendar_month 19 menit yang lalu

BNews-MAGELANG– Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) mengimbau seluruh calon pendaki meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau menyusul munculnya fenomena mbediding yang menyebabkan suhu udara di kawasan Gunung Merbabu turun secara ekstrem hingga mencapai -1 derajat Celsius.

Imbauan tersebut disampaikan setelah hasil pemantauan suhu dan kelembapan udara di jalur pendakian menunjukkan penurunan suhu yang signifikan pada malam hingga dini hari. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko hipotermia bagi pendaki yang tidak mempersiapkan perlengkapan dan kondisi fisik secara optimal.

Fenomena Mbediding Muncul Saat Puncak Musim Kemarau

Balai Taman Nasional Gunung Merbabu menjelaskan, mbediding merupakan istilah dalam bahasa Jawa yang menggambarkan kondisi udara yang terasa jauh lebih dingin dibandingkan biasanya saat musim kemarau.

Berdasarkan penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena tersebut merupakan siklus alam yang normal terjadi ketika Indonesia memasuki puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September 2026.

Terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan suhu udara turun drastis, yakni menguatnya Monsun Australia yang membawa massa udara dingin dan kering, minimnya tutupan awan pada musim kemarau, serta pelepasan panas dari permukaan bumi pada malam hari karena tidak adanya awan yang berfungsi sebagai penahan panas.

Dengan ketinggian puncak mencapai 3.145 meter di atas permukaan laut, kawasan Gunung Merbabu mengalami penurunan suhu yang lebih ekstrem dibanding wilayah dataran rendah.

Suhu Dini Hari Capai Minus 1 Derajat Celsius

Hasil pemantauan suhu dan kelembapan udara yang dilakukan mahasiswa magang Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan Universitas Muhammadiyah Surakarta bersama petugas Balai TN Gunung Merbabu menggunakan termometer dan higrometer di Pos Sabana 1 pada 9–10 Juli 2026 menunjukkan suhu udara terus menurun pada malam hingga pagi hari.

Pada 9 Juli 2026 pukul 20.00 WIB, suhu tercatat 6 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan 54 persen. Selanjutnya pada 10 Juli 2026 pukul 05.30 WIB, suhu turun hingga minus 1 derajat Celsius dengan kelembapan 46 persen. Sementara pukul 06.00 WIB suhu kembali naik menjadi 3 derajat Celsius dengan kelembapan 44 persen.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Data tersebut juga menunjukkan telah terbentuk embun beku di kawasan pendakian Gunung Merbabu, salah satunya di Pos 3 Jalur Pendakian Suwanting.

Pendaki Diminta Waspadai Hipotermia

Balai TN Gunung Merbabu mengingatkan bahwa paparan suhu rendah, tiupan angin, serta pakaian yang basah atau lembap dapat memicu hipotermia, yaitu kondisi ketika suhu inti tubuh turun di bawah 35 derajat Celsius.

Beberapa gejala awal hipotermia yang perlu diwaspadai antara lain menggigil hebat, bibir dan ujung jari membiru, sulit berkonsentrasi, bicara mulai pelo, hingga tubuh terasa lemas dan mengantuk.

Apabila gejala tersebut muncul, pendaki diminta segera mencari tempat yang terlindung dari angin, mengganti pakaian basah dengan pakaian kering, menghangatkan tubuh secara bertahap, mengonsumsi minuman hangat apabila memungkinkan, serta segera melapor kepada petugas apabila kondisi tidak membaik.

BTNGMb Minta Pendaki Siapkan Perlengkapan Sesuai Standar

Sebagai langkah mitigasi, Balai TN Gunung Merbabu mewajibkan setiap pendaki menggunakan sistem pakaian berlapis (layering); membawa jaket hangat, balaclava, sarung tangan, kaus kaki hangat, sleeping bag standar pendakian, matras, serta pakaian ganti yang disimpan dalam dry bag.

Selain itu, pendaki juga diminta memantau prakiraan cuaca resmi sebelum mendaki, menjaga kondisi fisik dengan istirahat yang cukup; serta membawa logistik makanan berkalori tinggi dan minuman hangat untuk menjaga suhu tubuh selama pendakian.

Bagi pendaki yang bermalam, tenda harus dipasang di lokasi yang terlindung dari terpaan angin. Pendaki juga diimbau tidak tidur menggunakan pakaian basah; dan tidak tidur dalam kondisi perut kosong karena tubuh membutuhkan energi untuk menjaga suhu internal selama malam hari.

Shelter Darurat Disiapkan di Jalur Suwanting

Untuk mendukung keselamatan pendaki, Balai TN Gunung Merbabu telah menyediakan Shelter Emergency di Pos 3 Jalur Pendakian Suwanting.

Fasilitas tersebut difungsikan sebagai lokasi penanganan awal bagi pendaki yang mengalami kondisi darurat sebelum proses evakuasi. Shelter juga telah dilengkapi listrik tenaga surya, penerangan, CCTV, jaringan Wi-Fi, serta instalasi penangkal petir.

Kepala Balai: Keselamatan Pendaki Harus Menjadi Prioritas

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu menegaskan bahwa keselamatan pendaki harus menjadi prioritas utama dan tidak boleh dikalahkan; oleh keinginan menikmati panorama musim kemarau.

“Musim kemarau memang menyuguhkan pemandangan Gunung Merbabu yang sangat indah dengan langit yang bersih. Namun, selaras dengan peringatan BMKG mengenai puncak kemarau, fenomena mbediding membawa risiko suhu ekstrem hingga -1° Celsius di lapangan. Kami menghimbau agar para pendaki tidak meremehkan cuaca ini. Persiapkan perlengkapan sesuai standar, jaga kondisi fisik, dan pahami langkah-langkah mitigasi apabila terjadi kondisi darurat. Keberhasilan pendakian bukan hanya ketika mencapai puncak, tetapi ketika seluruh anggota rombongan dapat kembali pulang dengan selamat,” tegasnya.

Balai Taman Nasional Gunung Merbabu juga mengajak seluruh komunitas pencinta alam dan masyarakat untuk menerapkan prinsip Safety First; demi mewujudkan aktivitas wisata alam yang aman, nyaman, dan bertanggung jawab. (bsn)

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less