Waspadai Serangan Virus Tungro di Lahan Pertanian

BNews—JATENG—Seorang mahasiswi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Tidar Magelang melakukan penelitian terkait Waspadai, Petani Temukan Serangan Virus Tungro di daerah Kabupaten Pati pada awal Bulan Juni 2019 lalu. Dirinya melakukan penelitian dengan melakukan survey lapangan.

Disebutkan bahwa tanaman padi merupakan salah satu tanaman yang dominan ditanam oleh masyarakat di daerah Pati dan sekitarnya. Namun produksi padi saat ini menurun karena adanya serangan hama pada musim tanam tahun 2019 ini.

Selain adanya serangan OPT, faktor lain seperti cuaca yang kurang stabil, tidak serempaknya penanaman padi, serta penggunaan varietas tidak tahan. Salah satu pemicu banyaknya OPT yang menyerang padi di daerah Pati, yaitu adanya penyakit tungro yang disebabkan oleh patogen Rice tungro bacilliform virus (RTBV) karena vektor yang ditularkan oleh wereng, terutama spesies Nephotettix virescens D. Gejala serangan tanaman padi menjadi kerdil, daun berwarna kuning sampai kuning jingga disertai bercak-bercak berwarna coklat, jumlah anakan sedikit, gabah hampa, serta menurunkan jumlah malai per rumpun. Sehingga produksi menurun dan terjadi kerugian bagi petani.

Prakiraan serangan OPT padi di Indonesia MT 2015/2016 seluas 186,151 ha dan kejadian serangannya seluas 171,562 ha. Persentase kejadian serangan terhadap realisasi luas tanaman MT 2015/2016 sebesar 2,8%. Sedangkan persentase kejadian serangan terhadap prakiraan adalah 92,165. OPT yang persentase kejadiannya lebih dari 100% adalah tungro (131,1%), blas (131,4%), dan BLB (108,3%) (BBPOPT, 2016).

Loading...
PERTANIAN : Beberapa petani sudah mulai lakukan pengendalian meskipun belum maksimal )7/6)--(Foto--Laily)
PERTANIAN : Beberapa petani sudah mulai lakukan pengendalian meskipun belum maksimal )7/6)–(Foto–Laily)

Petani tidak faham

Petani terkadang tidak tahu persis jenis OPT yang menyerang dan cara pengendaliannya. Menurut Pak Edi salah satu anggota Poktan Ngudi Santoso, mengatakan dia sering menemukan petani salah dalam menggunakan obat.

“Misalnya seharusnya menggunakan fungisida karena yang menyerang padinya adalah jamur, tetapi mereka menggunakan insektisida. Hal ini menjadi salah satu faktor penghambat dalam pengendalian OPT. Hal lain yang menyebabkan kurang tepatnya cara pengendalian OPT adalah karena kebanyakan petani di dearah Pati sudah memasuki usia lanjut yaitu di atas 50 tahun dan juga kurangnya perhatian dari pemerinta,” katanya.

Sementera menurut Laili mahasiswa Fakultas Pertanian Untidar yang melakukan penelitian tersebut mengungkapkan masyarakat setempat di Dusun Bakalan Dukuhseti Pati. “Pemerintah setempat kurang memperhatiakan adanya permasalahan OPT dan cara pengendalian yang tepat. Seharusnya baik dari petani, pemerintah ataupun BPK harus lebih tanggap sejak dini terhadap serangan OPT,” ungkapnya.

“Hal ini termasuk perkembangbiakan virus tungro dan OPT lainnya. Karena adanya penanganan pertanian yang kurang benar dapat membuat musuh alami OPT atau parasitoid menjadi tertekan,” imbuhnya.

“Tentunya hal tersebut mengakibatkan kegagalan yang fatal dan menyebabkan kerugian yang cukup signifikan pada petani Pati dan sekitarnya apabila tidak segera ditangani,” pungkasnya. (laely/bsn)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: