294 Siswa dan Guru Keracunan MBG di Magelang, Dinkes Temukan Bakteri E.coli dan Salmonella di Makanan
- calendar_month Sen, 9 Feb 2026

ilustrasi makanan MBG dari dapur SPPG
BNews–MAGELANG – Dugaan kontaminasi bakteri Escherichia coli (E.coli) dan Salmonella enteritidis menjadi penyebab keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan guru, karyawan, dan siswa di Kota Magelang, Jawa Tengah, pada akhir Januari 2026.
Hasil tersebut terungkap setelah Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Magelang melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan dan air dari dapur penyedia MBG.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Magelang, Istikomah, menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium telah diterima pada 30 Januari 2026.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
“Dari sampel yang dikirim, beberapa sampel makanan dan air mengandung E.coli,” ujarnya dikutip kompas, Senin (9/2/2026).
Selain E.coli, bakteri Salmonella enteritidis juga ditengarai berperan dalam kasus keracunan pangan tersebut.
294 Korban di Dua Sekolah
Gejala keracunan pertama kali dialami penerima MBG di SMP Negeri 10 Kota Magelang pada Kamis (22/1/2026), sehari setelah menyantap makanan yang disiapkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Rejowinangun Utara pada Rabu (21/1/2026).
Kasus serupa kemudian dilaporkan terjadi di SMA Negeri 3 Kota Magelang.
Berdasarkan laporan hasil uji laboratorium, total terdapat 294 kasus keracunan pangan dengan keluhan sakit perut, diare, serta perut melilit.
Korban terdiri atas lima guru dan karyawan, 75 siswa SMP Negeri 10, serta ratusan siswa SMA Negeri 3 Kota Magelang.
Saat kejadian, menu MBG yang disajikan meliputi:
- nasi putih
- telur puyuh saus mentega
- sayur cah pokcoy jagung manis
- tempe kremes
- semangka
Diduga Akibat Kualitas Bahan dan Proses Pengolahan
Istikomah menjelaskan, kontaminasi bakteri dapat terjadi dari berbagai faktor, mulai bahan baku hingga proses penjamahan makanan.
“Bisa pada ketiga-tiganya,” ucapnya.
Faktor yang dimaksud meliputi kualitas bahan makanan, mutu air, hingga kebersihan selama proses pengolahan dan distribusi.
Operasional Dapur SPPG Dihentikan
Menyusul insiden tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) memutuskan menghentikan sementara operasional SPPG Rejowinangun Utara sebagai langkah evaluasi.
Istikomah menyebut, keputusan pembukaan kembali dapur bukan kewenangan pihaknya.
“Untuk kapan bisa beroperasi kembali yang menentukan kedeputian BGN,” katanya.
Ia menegaskan, peristiwa ini harus menjadi evaluasi serius bagi seluruh penyelenggara MBG agar memperketat standar keamanan pangan.
Dinkes menekankan pentingnya penerapan standar operasional prosedur (SOP), pengawasan kualitas makanan, serta evaluasi berkala dalam proses pengolahan dan distribusi.
Hingga berita ini ditulis, Kepala SPPG Rejowinangun Utara Tri Adi Prakoso dan Koordinator Wilayah SPPG Kota Magelang Farhan Firdaus belum merespons konfirmasi oleh pihak Kompascom terkait operasional dapur terkini. (*)
About The Author
- Penulis: Borobudur News


Saat ini belum ada komentar