364 Tumpeng dan 21 Gunungan Bakal Iringi Prosesi Selamatan di Gunung Tidar

BNews—MAGELANG SELATAN— Ribuan warga dari Kota dan Kabupaten Magelang bakal menggelar selamatan di Puncak Gunung Tidar Minggu (24/3) besok. Selamatan ini digelar dalam rangka merawat keutuhan bangsa jelang Pemilihan umum.

 

Selametan Puser Bumi di Puncak Bukit Tidar ini bakal dilaksanakan pada hari Minggu, 24 Maret 2019 mulai pukul 14.00 WIB. Setiap desa akan membawa tumpeng sendiri sehingga jumlahnya mencapai 364 tumpeng dan mengusung 21 gunungan.

 

“21 gunungan itu representasi dari 21 kecamatan di kabupaten Magelang. Untuk peserta nanti masing-masing desa akan mengajak 10 orang warganya. Jika ada 364 desa di wilayah Kabupaten Magelang maka akan berkumpul setidaknya 3,600 orang,” kata Arianto, Kepala Desa Jambewangi, Pakis, Kabupaten Magelang.

 

Arianto yang juga panitia acara tersebut mengatakan acara ini berkonsep kenduri, sebuah doa bersama warga desa diakhiri makan bersama.  “Gagasan selametan ini sebenarnya sudah lama diperbincangkan. Kami warga Magelang mendengar apa yang dilakukan warga di Solo dan Pati awal Maret lalu. Ndilalah warga Magelang juga punya keprihatinan yang sama mengenai situasi politik akhir-akhir ini. Kami kesetrum dengan spirit itu dan semakin gumregah setelah pak gubernur Ganjar menggelar Apel Kebangsaan Kita Merah Putih di Semarang kemarin,” kata Arianto, Jumat (22/3).

 

Dalam rangkaian kegiatan itu juga akan dilaksanakan prosesi Umbul Donga. Setiap warga yang hadir akan menuliskan doa dan pengharapannya untuk Indonesia di secarik kertas. Kertas-kertas doa itu akan ditempelkan pada instalasi dari bambu. Selanjutnya, instalasi itu akan dibakar atau dilarung bersama api dan angin agar naik ke langit, menyatu dengan semesta.

 

Melalui prosesi ini diyakini bahwa seluruh doa bisa menembus dimensi nubuwah, malakut atau bahkan dimensi ilahiah. Dengan demikian, insyaa Allah doa manusia, dikabulkan.

 

Arianto menjelaskan, baik persiapan hingga pendanaan acara disengkuyung bersama warga desa. “Semua hal dibicarakan bersama secara terbuka, siapa melakukan apa, dan bahwa ini adalah dari kita oleh kita dan untuk kita,” tegasnya.

 

Ari Sujito, Sosiolog Universitas Gadjahmada Yogyakarta menambahkan, kenduri atau doa bersama adalah wujud kepedulian warga terhadap situasi berbangsa dan bernegara melalui tradisi lokal masing-masing. Kegiatan serupa sudah berlangsung di Solo, Pati, Grobogan, Karanganyar, Blora, Kendal, Temanggung, Klaten juga masyarakat di lingkungan Candi Cetho, bahkan Bojonegoro dan Gresik di Jawa Timur, sebagai rangkaian Kenduri Nusantara 2019.

 

Hal senada disampaikan oleh Bambang Paningron, budayawan dari Yogyakarta. Paningron mengatakan bahwa perjuangan melawan gerakan penyempitan makna politik ini memang berat dan sangat mahal. Bangsa ini, menurut Paningron sudah banjir politikus partai politik dan miskin politisi kebudayaan. Tidak mengherankan jika yang diperjuangkan adalah sekadar kekuasaan bukan eksistensi bangsa atau negara secara utuh. Celakanya, jika ada politisi parpol yang mencoba mengambil jalur politik kebudayaan, bukannya didukung penuh tapi justru jadi bahan cibiran. Dia lantas mencontohkan langkah yang diambil Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

 

“Ganjar mencoba mengambil jalur itu, dengan membuat kegiatan Apel Kebangsaan kemarin, yang menjadikan kebudayaan sebagai laku politis. Ya karena memang itu satu-satunya jalur politik yang manusiawi. Sama dengan Kenduri Nusantara yang merupakan strategi kebudayaan, jika kami melalui pendekatan kultural, Ganjar melakukannya dengan pendekatan teknokratis. Tapi tujuannya sama. Impact-nya memang baru bisa dilihat dan dirasakan nanti tidak sekarang. Karena kebudayaan bicaranya soal eksistensi bangsa bukan keuntungan pribadi,” katanya.  (bn1)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: