Melongok Rumah Petilasan Jenderal Sudirman di Magelang

BNEWS—MAGELANG— Kota Magelang menyimpan sejuta pesona destinasi wisata bersejarah. Lengkap dengan bangunan-bangunan tuanya sebagai saksi sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Bangunan bersejarah yang masih terawat apik salah satunya adalah Museum Sudirman. Letaknya berada di Jalan Ade Suryana No C.7, Kelurahan Potrobangsan, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang. Bangunan itu didirikan pada tahun 1930 di atas tanah seluas 1.329 meter persegi.

Informasi yang dihimpun Borobudur News, bangunan yang didirikan tahun 1930 itu semula merupakan rumah dinas perwira Belanda. Pada 1949-1950, rumah tersebut beralih fungsi sebagai tempat persembunyian sekaligus penyusunan taktik perang Jenderal Sudirman.

Tahun 1976, rumah tersebut diresmikan Gubernur Jateng waktu itu, Supagoldam, sebagai Museum Sudirman. Hingga saat ini, museum bersejarah tersebut dikelola dengan baik oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang.

Di dalam rumah itu berarsitektur kolonial itu, terlihat beberapa koleksi asli yang masih terawat hingga saat ini. Diantaranya, ranjang tidur Sudirman saat terbaring sakit, lemari, meja kursi tamu, meja kursi makan dan meja pencucian jenazah.

Museum itu juga memiliki koleksi foto-foto Sudirman beserta keluarga. Adapun replika tandu yang digunakan Jenderal Soedirman saat memimpin perang gerilya dan dua buah jubah yang sering dikenakan.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NES (KLIK DI SINI)

Pengelola Museum Muhammad Ardani menjelaskan, bangunan berukuran 285 meter persegi itu berdiri di atas tanah seluas 1.329 meter persegi. Rumah tersebut terdiri dari tujuh ruang. Meliputi ruang tamu, ruang kerja, ruang dokter pribadi, ruang keluarga, ruang tidur, ruang makan dan dapur.

”Pada tahun 2017, museum ini sempat mengalami renovasi. Seperti kusen-kusen pintu yang diganti dikarenakan yang lama sudah lapuk,” kata Ardani, Jumat (24/1).

Ardani mengisahkan, pada tanggal 12 November 1945, Sudirman terpilih sebagai Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat dengan pangkat Jenderal. Bukanlah tanpa alasan, prestasi serta bakat kepemimpinannya sudah dikenal luas di kalangan Perwira PETA.

”Sudirman merupakan perwira yang mengehentikan pemberontakan yang dipimpin anggota PETA lainnya. Selain itu, pasukan yang dipimpin Soedirman berhasil merampas senjata dari Jepang,” ujar pria kelahiran 7 Maret 1990 itu

Satu bulan sebelum Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948, Sudirman terinfeksi penyakit tuberculosis. Beberapa kali menjalani operasi paru-paru dan beberapa kali ditawat di RS Panti Rapih, Jogjakarta.

”Saat memimpin perang gerilya kondisi Sudirman kian mencemaskan hingga ditandu menyeberangi hutan dan sungai. Setelah kelelahan, tuberkulosisnya kambuh lagi dan pergi ke Magelang untuk istirahat. Di sini, Sudirman bisa menghirup udara sejuk dan segar untuk pemulihan kesehatan paru-parunya,” papar warga Desa Bumirejo, Mungkid, Kabuapaten Magelang.

Ungkap dia, Magelang bukan tempat yang asing bagi dirinya karena ia sering melakukan pelatihan militer di Gunung Tidar. Setelah kurang lebih tiga bulan menetap di Magelang, Sudirman menghembuskan nafas terkahir pada 29 Januari 1950.

”Jenazah Jenderal Besar Sudirman dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Jogjakarta,” ungkap pria yang bekeja sembilan tahun itu.

Terang Ardani, saat ini banyak wisatawan lokal seperti Magelang, Aceh hingga terjauh dari Jayapura yang datang ke Museum Sudirman. Wisatawan Asing seperti Jepang, Tiongkok, Selandia Baru dan Belanda juga ada.

”Setiap tahun pasti ada turis yang datang. Kalau Belanda mereka karena mereka memiliki kenangan seperti dulu kecil pernah tinggal di Magelang ikut dinas militer orang tuanya,” terang ayah dua anak itu.

Saat ini, angka kunjungan khususnya wisatawan lokal dari Magelang terus bertambah setiap bulannya. Meskipun, pengunjung yang datang berskala rombongan dari sekolah. Bahkan, sekali kunjungan bisa mencapai 500 orang perhari.

”Saya berharap semoga museum ini lebih maju. Sarana prasana ditingkatkan. Koleksi musem bertambah sehingga bisa meningkatkan angka kunjungan wisatawan,” harap dia. (*/han)

Penulis: Wahid Fahrur Annas (Mahasiswa Magang IAIN Purwokerto)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: