Angka Kekerasan Terhadap Perempuan di Magelang Pasang Surut

BNews– MERTOYUDAN–Grafik tingkat kekerasan terhadap perempuan di Kabupaten Magelang selama tiga tahun terakhir mengalami pasang surut. Pada tahun 2015, LSM Sahabat Perempuan menerima laporan sebanyak 61 kasus kekerasan, 2016 mencapai 69 kasus dan 2017 ada 54 kasus. Hingga bulan Juli 2018, pihaknya sudah menerima laporan sedikitnya 38 kasus kekerasan.

 

Ketua Sahabat Perempuan, Putri Andhini Prabasasi menjelaskan, jenis laporan kekerasan yang ditangani lembaganya cukup beragam. Diantaranya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kekerasan seksual anak (KSA), kekerasan dalam pacaran (KDP) dan pelecehan seksual.

 

”Diantara kasus tersebut yang tertinggi adalah KDRT yang menyumbang persentase 50 persen lebih setiap tahun,” jelas Putri.

 

Dampak dari banyaknya kasus yang bervariasi, Putri berpendapat bila diperlukan keterampilan yang mumpuni dalam pendampingan dan konseling. Bukan hanya korban yang perlu diperhatikan dalam hal pendampingan, namun konselor atau pendamping juga harus diperhatikan kemampuannya dalam mengonselingi korban.

 

”Tahun 2017 kami mempunyai seorang voulenteer, Petrina M Fox dari Australia berkeahlian sebagai Psychosocial Counseling Advisor, membantu perempuan dan anak yang mengalami kekerasa.” Imbuh Putri, selama tujuh bulan mengabdi, Petrina telah menulis manual dan melakukan uji coba berupa pelatihan untuk pelatih (ToT) bagi staf dan dewan pengurus Sahabat Perempuan.

 

Dari hasil evaluasi, ternyata program ToT sangat bermanfaat bagi lembaga dan klien. Hingga Sahabat Perempuan memberikan rekomendasi pentingnya dilakukan ToT bagi pendamping konselor KDRT yang memiliki layanan perempuan dan anak korban kekerasan khususnya rumah tangga se-Jawa Tengah.

 

”Tujuan ToT diantaranya meningkatkan kemampuan risiko dan perencanaan bagi korban kekerasan serta meningkatkan kemampuan manajemen kasus,” terang Putri.

 

Selama pelatihan ToT yang diselenggarakan atas dukungan DAP (Direct Aid Program) Kedutaan Australia di Grand Artos Mall, 23-27 Juli 2018 Petrina M. Fox sebagai fasilitator menyampaikan materi secara teori dan praktik seperti bermain peran dan permainan lainnya. Ada pun jenis permainan yang dilakukan seperti saat dua orang peserta salah satu diantaranya menirukan gerakan, dan ekspresi peserta lainnya.

 

”Hal ini menggambarkan bahwa konselor atau pendamping harus konsentrasi betul, jangan sampai sambil memikirkan yang lain,” ucap Petrina dihadapan 22 peserta perwakilan lembaga swadaya yang melakukan layanan korban KDRT se pulau Jawa.

 

Petrima menambahkan, ToT dapat meningkatkan dan mengaplikasikan keterampilan dalam konseling terlepas dari perbedaan budaya antara Indonesia dan Australia.

 

”Pendamping harus menyesuaikan ilmu mana yang bisa diterapkan di Indonesia sesuai dengan budaya yang ada dan mana yang tidak, karena tidak semua ilmu dapat diterapkan karena perbedaan budaya,” pungkasnya. (han)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: