Banjir Kritikan, Ini Alasan Pemerintah ’Ngotot’ Sekolah Dibuka Januari 2021

BNews—NASIONAL— Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memperbolehkan pembelajaran tatap muka di sekolah mulai Januai 2021. Menteri Pendidikan Nadiem Anwar Makarim menuturkan, keputusan itu diambil berdasarkan hasil evaluasi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang berlaku sejak Maret lalu.

Berdasarkan hasil evaluasi, disebutkan bila proses pembelajaran secara daring memiliki banyak kelemahan. Utamanya yang berdampak pada para siswa.

”Pembelajaran Jarak Jauh berdampak negatif terhadap anak,” ujarnya Nadiem, belum lama ini.

Ia menerangkan, dampak negatif yang dimaksud antara lain munculnya kesenjangan capaian belajar. Sebab, tidak semua daerah memiliki fasilitas mumpuni.

”Termasuk ancaman putus sekolah dan risiko hilangnya Pembelajaran Jangka Panjang,” terangnya.

Menurut Nadiem, banyak daerah masuk kategori hijau atau aman dari penularan Covid-19. Akan tetapi, tidak bisa menerapkan sistem belajar daring karena keterbatasan jaringan internet serta ketiadaan alat seperti laptop dan telepon pintar atau smartphone.

”Keputusan pembukaan sekolah diserahkan kepada pemerintah daerah (pemda) serta kantor wilayah Kementerian Agama yang mengurus sekolah agama. Pembukaan juga harus mendapat persetujuan dari wali murid,” tegasnya.

Rencana pemerintah memperbolehkan pembelajaran tatap muka di sekolah mulai Januari 2021 nampaknya tak berjalan mulus. Berbagai kalangan mengkritik keputusan tersebut.

Koordinator Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru Satriwan Salim misalnya, yang menilai penyerahan kewenangan kepada pemerintah daerah berisiko menaikkan angka penularan virus corona. Ia menilai, ada pemerintah daerah (pemda) yang wilayahnya masuk zona oranye atau merah tapi nekat membuka sekolah.

”Padahal pembukaan sekolah hanya dibolehkan di zona hijau dan kuning. Seharusnya pemerintah pusat tetap melakukan supervisi terhadap pemerintah daerah,” ucap Satriwan.

Sementara itu, Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Doni Monardo meminta pemda melakukan penataran atau simulasi sebelum membuka sekolah. Apalagi masih ada ancaman penularan virus corona dan munculnya klaster di sekolah.

”Sebaiknya pembukaan dilakukan bertahap dan tidak serentak,” pungkas Doni. (han)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: