Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Jangan Salah Paham! Desil 1-10 di DTSEN Ternyata Bukan Penentu Kondisi Ekonomi Keluarga

Jangan Salah Paham! Desil 1-10 di DTSEN Ternyata Bukan Penentu Kondisi Ekonomi Keluarga

  • calendar_month 0 menit yang lalu

BNews—NASIONAL— Istilah desil semakin sering terdengar dalam pembahasan berbagai kebijakan dan program pemerintah. Hal ini seiring dengan penggunaan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai basis data bersama pemerintah.

Namun, desil tidak bisa langsung dianggap sebagai gambaran kondisi ekonomi sebuah keluarga. Pada dasarnya, desil menunjukkan posisi atau peringkat kesejahteraan suatu keluarga dibandingkan dengan keluarga lainnya.

Karena bersifat relatif, keluarga yang berada dalam desil yang sama belum tentu memiliki tingkat penghasilan, kepemilikan aset, maupun pengeluaran yang sama. Dengan demikian, kesamaan desil tidak otomatis menunjukkan kondisi ekonomi yang identik.

Apa Itu Desil dalam DTSEN?

Dalam DTSEN, keluarga ditempatkan dalam suatu pemeringkatan berdasarkan berbagai karakteristik sosial dan ekonomi. Hasil pemeringkatan tersebut kemudian dibagi menjadi 10 kelompok, dengan masing-masing kelompok mencakup sekitar 10 persen keluarga.

Desil 1 menunjukkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah. Sementara desil 10 merupakan kelompok dengan posisi kesejahteraan relatif paling tinggi.

Sebagai contoh, keluarga yang masuk desil 3 berarti berada pada kelompok ketiga dalam pemeringkatan yang terbagi menjadi 10 kelompok.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan, angka desil seharusnya dipahami sebagai posisi keluarga dalam pemeringkatan, bukan angka yang secara langsung menggambarkan kondisi ekonomi.

“Desil menunjukkan posisi relatif suatu keluarga dibandingkan keluarga lainnya berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi. Karena itu, angka desil perlu dipahami sebagai gambaran posisi relatif dalam pemeringkatan kesejahteraan, bukan sebagai ukuran tunggal kondisi ekonomi suatu keluarga,” ujar Amalia, ditulis Minggu (23/8).

Dengan demikian, desil tidak dapat disamakan dengan ukuran mutlak kemiskinan, pendapatan, ataupun kekayaan. Penentuan desil juga tidak hanya berdasarkan besarnya penghasilan yang diterima sebuah keluarga.

Banyak Faktor Menentukan Desil

Sejumlah aspek sosial dan ekonomi diperhitungkan secara bersamaan dalam menentukan posisi kesejahteraan keluarga.

Aspek tersebut antara lain kondisi tempat tinggal, sumber air untuk kebutuhan sehari-hari, jenis bahan bakar memasak, kepemilikan aset, penggunaan dan daya listrik, susunan anggota keluarga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, hingga kondisi disabilitas.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Artinya, tidak ada satu indikator yang secara mandiri menentukan sebuah keluarga masuk dalam desil tertentu.

Sebagai contoh, kepemilikan kendaraan tidak serta-merta membuat sebuah keluarga berada pada desil tertentu. Hal yang sama berlaku terhadap pekerjaan, kapasitas listrik, tingkat pendidikan, maupun kepemilikan aset tertentu.

Menggunakan Metode Proxy Means Test

Dalam menentukan peringkat kesejahteraan, DTSEN menggunakan pendekatan statistik Proxy Means Test (PMT).

Metode tersebut digunakan untuk memperkirakan tingkat kesejahteraan berdasarkan berbagai kondisi sosial ekonomi yang dapat diamati.

PMT juga banyak digunakan di berbagai negara, terutama ketika data pendapatan atau konsumsi rumah tangga sulit diperoleh secara lengkap maupun diverifikasi secara menyeluruh.

Melalui metode tersebut, berbagai karakteristik keluarga dianalisis secara bersamaan untuk memperkirakan posisi kesejahteraan relatif.

Karena itu, perubahan pada satu aspek kehidupan keluarga belum tentu membuat posisi keluarga tersebut berpindah dari satu desil ke desil lainnya.

Desil Tidak Otomatis Menentukan Penerima Bansos

Data desil dapat digunakan kementerian dan lembaga sebagai salah satu pertimbangan dalam menentukan sasaran atau prioritas program pemerintah.

Namun, seseorang atau sebuah keluarga yang berada pada desil tertentu tidak otomatis menjadi penerima bantuan sosial atau program pemerintah tertentu.

Setiap program pemerintah memiliki persyaratan dan mekanisme penetapan penerima yang berbeda. Oleh sebab itu, informasi mengenai desil harus dipahami sesuai tujuan dan ketentuan masing-masing program.

Peringkat Desil Bisa Berubah

Peringkat desil sebuah keluarga bukan sesuatu yang bersifat permanen. Posisi tersebut dapat berubah apabila kondisi sosial ekonomi keluarga mengalami perkembangan dan kedudukannya berubah dibandingkan keluarga lainnya.

Meski demikian, perubahan pada satu kondisi saja tidak serta-merta membuat desil keluarga berubah. Sebab, penentuan peringkat tetap memperhitungkan berbagai karakteristik secara bersamaan.

DTSEN juga diperbarui secara berkala agar pemeringkatan yang dihasilkan dapat terus menggambarkan kondisi masyarakat.

Proses pembaruan memanfaatkan berbagai sumber data, termasuk data administrasi, sensus dan survei, informasi terbaru dari kementerian/lembaga serta pemerintah daerah, pengecekan langsung di lapangan atau ground check, serta laporan masyarakat melalui saluran yang tersedia.

DTSEN Versi 3 Memuat Data 290,13 Juta Individu

Hingga 10 Juli 2026, DTSEN Versi 3 Tahun 2026 tercatat memuat 290,13 juta perekaman individu dan 95,98 juta perekaman keluarga.

Data tersebut terus disempurnakan agar informasi yang digunakan sebagai dasar kebijakan pemerintah semakin sesuai dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat terkini.

Masyarakat yang menemukan adanya ketidaksesuaian informasi mengenai dirinya maupun keluarganya juga dapat mengusulkan perbaikan melalui mekanisme usul dan sanggah.

Sejumlah sarana dapat digunakan untuk menyampaikan pembaruan data, di antaranya Cek Bansos melalui situs maupun aplikasi, SIKS-NG melalui operator desa atau kelurahan, serta Cek DTSEN.

Namun, pengajuan perubahan data tidak berarti peringkat desil akan langsung berubah.

Informasi yang disampaikan masyarakat akan menjadi bahan dalam proses pemutakhiran data dan penghitungan kembali. Penentuan akhir posisi desil tetap mengikuti data dan metode yang berlaku.

“BPS bersama kementerian/lembaga dan pemerintah daerah terus melakukan pemutakhiran untuk menjaga kualitas DTSEN agar semakin mencerminkan kondisi masyarakat. Partisipasi masyarakat dalam memastikan informasi diri dan keluarganya sesuai dengan kondisi sebenarnya juga menjadi bagian penting dari proses tersebut,” pungkas Amalia. (*)

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less