Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Magelang Masuk Status Awas Kekeringan, BMKG: Jateng Masih Kering hingga Akhir September

Magelang Masuk Status Awas Kekeringan, BMKG: Jateng Masih Kering hingga Akhir September

  • calendar_month 22 jam yang lalu

BNews—JATENG— Warga Jawa Tengah (Jateng) diminta meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi kekeringan meteorologis pada musim kemarau 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jateng memprediksi curah hujan di sebagian besar wilayah Jateng masih rendah pada dasarian III Agustus 2026.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jateng, Goeroeh Tjiptanto, mengatakan berdasarkan pemutakhiran data per 17 Agustus 2026, peluang curah hujan kategori rendah, yakni di bawah 50 milimeter per dasarian, mencapai lebih dari 90 persen di seluruh wilayah Jawa Tengah.

“Sementara berdasarkan peta peringatan dini kekeringan meteorologis periode 21-31 Agustus 2026, status peringatan terbagi menjadi Awas, Siaga, dan Waspada,” katanya saat dihubungi, Minggu (23/8/2026).

Magelang Masuk Status Awas

Goeroeh menjelaskan, sejumlah daerah di Jawa Tengah masuk dalam status Awas, yang merupakan tingkat peringatan tertinggi dalam peta peringatan dini kekeringan meteorologis.

Wilayah tersebut meliputi Demak, Kudus, Grobogan, Jepara, Pati, Rembang, Blora, Sragen, Karanganyar, Purworejo, Klaten, Magelang, Cilacap, dan Wonogiri.

Sementara itu, status Siaga mencakup Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Kebumen, Temanggung, Semarang, Boyolali, Sukoharjo, Kota Semarang, Kota Salatiga, dan Kota Magelang.

Adapun wilayah yang masuk status Waspada yakni Kota Tegal, Kota Pekalongan, dan Kota Surakarta.

“Status Waspada merupakan peringatan awal ketika hujan tidak turun selama minimal 21 hari. Masyarakat diimbau menghemat penggunaan air dan membatasi pemakaian untuk kebutuhan yang tidak mendesak,” kata Goeroeh.

Menurutnya, status Siaga menunjukkan kondisi ketika hujan tidak turun selama minimal 31 hari. Kondisi tersebut membuat sejumlah sumber air, seperti sumur dangkal, sungai, dan embung mulai mengalami penyusutan.

Kondisi tersebut juga berpotensi berdampak terhadap sektor pertanian sehingga diperlukan pengelolaan irigasi yang lebih ketat.

“Adapun status Awas merupakan kondisi paling kritis ketika hujan tidak turun minimal 61 hari berturut-turut. Tanah menjadi sangat kering, sumber air berpotensi mengering, dan kekeringan dapat mengancam kebutuhan dasar masyarakat,” katanya.

Goeroeh menambahkan, seluruh status peringatan tersebut diikuti prediksi curah hujan kurang dari 20 milimeter per dasarian dengan peluang lebih dari 70 persen.

Warga Diminta Hemat Air

Pada wilayah yang masuk status Awas, pemerintah daerah dan instansi terkait diminta mulai mengantisipasi kemungkinan terjadinya krisis air bersih.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan yakni menyiapkan distribusi air bersih secara rutin kepada masyarakat yang membutuhkan.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

“Pada status Awas, pemerintah daerah dan instansi terkait perlu mengantisipasi krisis air bersih melalui distribusi air secara rutin. Masyarakat juga diminta memprioritaskan air untuk minum dan memasak,” katanya.

Selain mengancam ketersediaan air bersih, kekeringan juga meningkatkan risiko gagal panen, terutama pada lahan pertanian tadah hujan.

Karena itu, petani dianjurkan mempertimbangkan jenis tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering. Petani juga diminta tidak memaksakan menanam komoditas yang membutuhkan banyak pasokan air.

Ancaman Karhutla Meningkat

Kondisi kemarau panjang juga meningkatkan risiko kebakaran. Banyaknya material yang mengering membuat api lebih mudah muncul dan menyebar.

Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar. Warga juga diingatkan tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama di area yang banyak terdapat material kering.

Di sisi lain, keterbatasan air bersih dan meningkatnya paparan debu selama musim kemarau juga dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat.

Sejumlah gangguan kesehatan yang berpotensi meningkat antara lain dehidrasi, diare, penyakit kulit, hingga gangguan saluran pernapasan.

“BMKG memprakirakan seluruh wilayah Jawa Tengah masih berada pada kriteria curah hujan rendah 0-50 milimeter per dasarian hingga akhir September 2026, dengan awal September dipetakan sebagai fase paling kering,” kata Goeroeh.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat Jawa Tengah, khususnya wilayah yang masuk status Awas, diimbau mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini untuk menghadapi potensi kekeringan dan dampaknya terhadap kebutuhan air, pertanian, kesehatan, serta risiko kebakaran.(bsn)

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less