Dikira Maling, Relawan Covid-19 Aniaya Penderita Gangguan Jiwa Hingga Tewas

BNews—NASIONAL— Seorang relawan covid-19 yang sedang melaksanakan ronda, AP, 39,  terpaksa ditangkap polisi usai menganiaya seorang warga bernama Sarto. Belakangan, korban yang diketahui memiliki gangguan jiwa itu meninggal dengan kondisi gegar otak usai mendapat tendangan maut pelaku.

Insiden berlebihan yang sebenarnya tidak perlu terjadi itu berlangsung di Desa Demuk, Kecamatan Pucanglaban, Tulungagung. Desa tersebut berbatasan Desa Maron, Kecamatan Kademangan, Blitar.

Peristiwa bermula ketika AP bersama sejumlah warga Desa Demuk berjaga di perbatasan desa. Di tengah ronda malam itu, mereka mendapati Sarto yang terlihat berjalan sendirian sambil membawa senjata tajam.

Mengiranya sebagai pelaku kriminalitas, warga kemudian menegur Sarto, namun tak dijawab. Teguran sempat diulang beberapa kali. Tetap saja tidak ada respons sehingga warga dan beberapa aparat keamanan melakukan pengepungan.

Dalam situasi tegang dan terkepung itulah Sarto yang terpojok kemudian ditendang AP pada bagian kaki sebelah kanan dari arah belakang. Tendangan keras yang dilakukan satu sekali tersebut ternyata berdampak fatal.

Narto terbanting. Kepalanya membentur aspal. Sabitnya pun terjatuh. AP yang melihat posisi korban lemah segera menindihnya lalu memiting di atas aspal. Korban yang merupakan warga Desa Maron Kecamatan Kademangan seketika pingsan.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (Klik di sini)
Loading...

Sejak insiden itu, Sarto yang dibawa ke rumah sudah muntah darah. Keluarga lalu membawanya ke RSUD dr Iskak Tulungagung.

Beberapa jam setelah dirawat, Sarto lalu meninggal dunia. Keluarga lalu melapor ke polisi.

Kapolres Tulungagung AKBP Eva Guna Pandia membenarkan insiden tersebut. Pandia mengatakan, apa yang dilakukan tersangka AP sebenarnya merupakan tindakan pencegahan.

”Karena korban bernama Sarto ini berjalan menuju kampung dengan membawa senjata tajam sehingga dikira pelaku kriminalitas,” tuturnya kemarin (15/5).

”Dan karena belum sempat kami mintai keterangan, beliau (Sarto) sudah meninggal dunia. Kita kenakan pasal penganiayaan, 351 KUHP ayat 2 dan 3 KUHP. Ancamannya diatas lima tahun,” tegasnya.

Pascainsiden penganiayaan tersebut, Pandia, mengimbau masyarakat yang berjaga malam tidak perlu membawa senjata tajam. Bila ada hal yang perlu ditangani, lebih baik melapor ke petugas terdekat.

“Nanti anggota yang berpakaian dinas yang akan menanganinya. Dan kalau ingin keluar rumah, kami himbau untuk pakai masker. Kalau memang tidak berkepentingan mending di rumah saja,” pungkasnya.

Informasi tambahan dari keterangan keluarga, Sarto diakui memiliki riwayat gangguan jiwa. Namun polisi belum menerima keterangan resmi dari dokter terkait kejiwaan Sarto. (han)

Kaos Deglang

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: