September Hitam Disuarakan di Kamisan Magelang, Aktivis Soroti HAM dan Demokrasi
- calendar_month 1 menit yang lalu

September Hitam Disuarakan di Kamisan Magelang, Aktivis Soroti HAM dan Demokrasi_foto By Edit AI Colasse
BNews—MAGELANG— Sekitar 30 mahasiswa dan masyarakat sipil mengikuti aksi Kamisan Magelang di Alun-Alun Kota Magelang, Kamis (17/9/2026). Kegiatan tersebut menyuarakan sejumlah persoalan terkait demokrasi, hak asasi manusia (HAM), serta perkembangan perkara tahanan politik (Tapol) Magelang.
Aksi berlangsung sekitar pukul 16.00 hingga 18.00 WIB. Para peserta memasang sejumlah banner bertuliskan “Kamisan”, “September Hitam”, dan “Bebaskan Enrille, Azhar, Yogi”.
Selain memasang banner, peserta menggelar orasi reflektif, pembacaan puisi, serta membagikan selebaran kepada masyarakat di sekitar Alun-Alun Kota Magelang.
Soroti Demokrasi dan Pelanggaran HAM
Perwakilan Kaum Merah Magelang, Khalif dan Inaya, membuka sesi orasi dalam Kamisan Magelang tersebut.
Khalif membahas isu September Hitam serta sejumlah kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia. Sementara Inaya menyoroti persoalan korupsi dan ketimpangan yang menurutnya masih terjadi di berbagai sektor.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian orasi oleh sejumlah peserta, termasuk dua Tapol Magelang, yakni Purnomo Yogi Antoro dan Enrille Championy Geniosa.
Purnomo Yogi Sampaikan Perkembangan Perkara
Purnomo Yogi Antoro menyampaikan perkembangan perkara yang sedang dihadapinya. Ia mengatakan perkara tersebut telah melewati pemeriksaan di tingkat pertama dan banding.
Menurut Yogi, perkara tersebut kini telah memperoleh nomor perkara kasasi dan mulai diperiksa oleh hakim Mahkamah Agung.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
“Setelah melalui pengadilan tingkat pertama dan tingkat banding, kini kasus kita telah mendapat nomor perkara kasasi dan mulai diperiksa oleh hakim Mahkamah Agung,” ujar Yogi dalam orasinya.
Yogi mengatakan perkara tersebut tidak semestinya hanya dipandang sebagai persoalan individu yang sedang menjalani proses hukum. Ia mengajak masyarakat melihat konsekuensi perkara tersebut secara lebih luas, termasuk kemungkinan dampak putusan akhir terhadap perkara-perkara serupa di masa mendatang.
“Saya tidak pernah mengatakan bahwa ini kasus kami, tapi selalu kasus kita!” tegas Yogi.
Enrille Soroti Penangkapan Aktivis
Orasi berikutnya disampaikan Enrille Championy Geniosa, salah satu Tapol Magelang. Dalam orasinya, Enrille berbicara mengenai pentingnya kesadaran kolektif, idealisme, dan sikap kritis dalam merespons penangkapan aktivis di berbagai daerah.
“Membela kebenaran bisa dipenjara, korupsi bisa dipenjara. Membela kebenaran bisa diteror, korupsi juga bisa diteror. Kalau sama rentannya, apa pilihanmu?” ujar Enrille.
Ia juga menyoroti penangkapan dan proses hukum terhadap aktivis yang dinilainya tidak lagi menjadi persoalan yang terasa jauh secara geografis maupun waktu bagi masyarakat Magelang.
“Penangkapan sudah sampai di kota kita, persidangannya berlangsung sampai sekarang. Tidak ada lagi pengaman ruang dan waktu di antara kita dan pembungkaman,” ucapnya.
Menurut Enrille, pengawalan terhadap perkara tersebut perlu berjalan beriringan dengan penguatan gerakan sosial melalui proses belajar dan konsolidasi.
“Kita tak pernah berhadapan muka dengan muka, karena kekuatan kita tak pernah setara dengan kekuasaan,” pungkasnya.
Kamisan Magelang Ditutup Pembacaan Puisi
Kamisan Magelang kemudian ditutup dengan pembacaan puisi oleh Zuhdan. Puisi tersebut mengangkat persoalan janji penuntasan kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia.
Setelah pembacaan puisi, peserta membagikan ratusan selebaran kepada masyarakat di sekitar Alun-Alun Kota Magelang.
Selebaran tersebut memuat narasi mengenai September Hitam dan penangkapan aktivis. Kegiatan berlangsung hingga sekitar pukul 18.00 WIB. (*)
About The Author
- Penulis: BNews 2





Saat ini belum ada komentar