Festival Bhumi Atsanti IV Hadirkan Seni, Sastra, dan Literasi di Borobudur
- calendar_month Sel, 5 Agu 2025

Musisi asal Kalimantan saat pentas di FESTIVAL BHUMI ATSANTI 2025 Borobudur
BNews-MAGELANG– Yayasan Atma Nusvantara Jati (ATSANTI Foundation) secara resmi membuka Festival Bhumi Atsanti keempat pada 1 Agustus 2025. Pagelaran tahunan yang diselenggarakan di kawasan Bhumi Atsanti, Borobudur ini terus menjadi magnet bagi para pencinta seni dan budaya dari berbagai daerah di Indonesia.
Sejak pertama kali digelar, festival ini telah menarik perhatian publik karena konsistensinya dalam mengangkat; keberagaman seni dan tradisi lokal.
Tahun lalu, Festival Bhumi Atsanti 2024 mengusung tema “Hayuning Rasa”, dengan menampilkan pertunjukan seni; dari wilayah seperti Borobudur, Magelang, Papua, Cirebon, Yogyakarta, Bogor, dan Bandung.
Festival Budaya Bhumi Atsanti 2025 Usung Tema “Manunggaling Karsa”
Pada tahun ini, tema “Manunggaling Karsa” dipilih untuk merefleksikan semangat persatuan dalam kehendak dan karya.
Festival berlangsung selama tiga hari, dari 1 hingga 3 Agustus 2025, dan melibatkan seniman lokal hingga nasional dalam berbagai kolaborasi.
Ketua Yayasan Atma Nusvantara Jati, M.F. Nilo Wardhani, menyatakan harapannya agar acara ini menjadi ruang pertemuan lintas generasi yang inklusif.
“Festival ini mampu menjadi ruang pertemuan antar generasi, sekaligus rumah yang ramah bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang. Ruang ini tak hanya menawarkan sebuah pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ajang interaksi dan pembelajaran budaya yang menginspirasi,” ujarnya.
Ragam Acara dan Inovasi Festival Bhumi Atsanti
Festival Bhumi Atsanti 2025 menghadirkan sejumlah kegiatan menarik, mulai dari pertunjukan seni, teater, tari, musik, hingga pembacaan karya sastra oleh seniman-seniman ternama.
Tahun ini juga dihadirkan Pasar Bhumi, yang mempertemukan pengunjung dengan pelaku UMKM dari Borobudur dan sekitarnya. Selain itu, Pasar Buku menjadi konsep baru yang dihadirkan yayasan untuk mendorong minat baca, literasi sastra, dan budaya di masyarakat.
Penampilan Spesial di Hari Ketiga Festival Bhumi Atsanti 2025
Rangkaian acara ditutup meriah pada 3 Agustus 2025 dengan penampilan jathilan, seni tari tradisional menggunakan kuda lumping. Festival juga menghadirkan penyanyi dan sastrawan Reda Gaudiamo, yang berbagi pengalaman seputar perjalanan kariernya serta praktik musikalisasi puisi.
Talkshow atau sarasehan budaya diadakan di Melek Huruf, dihadiri lebih dari 50 peserta dari Borobudur, Magelang, Surabaya, dan daerah lainnya.
“Saya sangat senang bisa hadir di Festival Bhumi Atsanti 4 ini. Sudah lama sekali saya tidak merasakan aura festival atau acara yang begitu khusyuk, hangat, dan sangat kekeluargaan,” ujar Reda Gaudiamo.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Ia juga menambahkan bahwa puisi dapat diperkenalkan melalui lagu untuk meningkatkan literasi masyarakat. Hal ini diamini oleh M.F. Nilo Wardhani.
“Reda Gaudiamo diundang sebagai sarana untuk memperkenalkan puisi dengan cara yang lebih mudah, yaitu melalui lagu, karena puisi juga menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan literasi masyarakat Indonesia,” katanya.
Musisi Nasional dan Lokal Ramaikan Panggung Festival
Selain Reda Gaudiamo, Uyau Moris, seniman musik asal Kalimantan Utara, turut memukau penonton dengan alat musik tradisional Sape. Dalam penampilannya, Uyau memaparkan bahwa ia menggunakan musik sebagai sarana healing dan media menyampaikan pesan personal yang relevan dengan zaman.
Project Manager Bhumi Atsanti, Luisa Gita Christozen, menekankan bahwa meskipun festival ini berskala nasional, tetap ada ruang besar bagi keterlibatan komunitas dan masyarakat lokal. Festival dirancang menjadi ruang kolaborasi lintas usia, profesi, dan keahlian.
“Festival ini dirancang sebagai ruang kolaboratif yang terbuka, tempat berbagai pihak dapat bertemu, berkarya, dan saling menginspirasi,” ujar Luisa.
Festival Ditutup Meriah, Harapan Besar untuk Masa Depan Kebudayaan
Penampilan dari seniman seperti Joko Sudibyo, Jaeko Siena, sanggar Lemah Urip dari Borobudur, hingga grup Sri Redjeki turut menutup festival dengan penuh semangat. Kolaborasi spontan antarpenampil dan dukungan gotong royong dari berbagai pihak menjadi kunci sukses acara ini.
Festival Bhumi Atsanti IV 2025 berhasil menciptakan suasana akrab, edukatif, dan meriah bagi masyarakat.
“Festival ini mampu menjadi inspirasi bagi semua pihak untuk tetap semangat dalam mempromosikan kebudayaan lewat berbagai jalur dan sarana,” pungkas Ketua Yayasan Atma Nusvantara Jati. (bsn)
About The Author
- Penulis: BNews 2



Saat ini belum ada komentar