Geolog Asal Belanda: Perbukitan Gendol Di Salam Magelang Merupakan Longsoran Besar Merapi

BNews–MAGELANG–  Geolog terkemuka asal Belanda, RW van Bemellen menyebutkan perbukitan Gendol yang terletak di Salam, Magelang adalah debris avalanche alias longsoran raksasa Gunungapi Merapi.

Perbukitan yang terletak di tepi Jalan Yogya-Magelang, tepatnya di Kawasan Desa Jumoyo, Gulon, Kadiluwih dan sekitarnya, mudah dikenali karena keberadaan komplek bong Cina atau pemakaman Tionghoa.

Selain van Bemellen yang pendapatnya dirujuk banyak geolog dan vulkanolog selama bertahun-tahun, ada kelompok ahli lain yang mengatakan perbukitan Gendol bukan debris avalanche Merapi, melainkan hasil pelipatan atau normal faulting Perbukitan Menoreh yang lebih tua.

Seorang mahasiswa pascasarjana Teknik Geologi UGM, Alva Kurniawan, membuat kesimpulan berbeda.

Ia melakukan riset cukup mendalam, dan menyimpulkan genesis perbukitan Gendol diakibatkan vulkanisme purba insitu.

Dalam tesisnya yang berjudul “Kajian Genesis Perbukitan Gendol di Daerah Muntilan-Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah (2016), Alva Kurniawan secara khusus meneliti fakta-fakta gunung-gemunung di Kecamatan Salam, Magelang ini.

Tesisnya itu mengantarkan Alva Kurniawan meraih gelar Magister Sains dari Pascasarjana Teknik Geologi UGM. Tesis itu sudah diuji secara ilmiah dan dipublikasikan. Tribunjogja.com mengutip sebagian isi tesis itu yang dipublikasikan di Academia.edu.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Keberadaan perbukitan Gendol oleh van Bemellen kerap dikaitkan mahapralaya atau petaka besar letusan Merapi 1006 Masehi.

Ini peristiwa yang ditafsirkan sebagai terjadinya sector collapse (longsoran sebagian tubuh gunung) yang menghancurkan puncak serta lereng Merapi pada masa itu. Peristiwa ini menyebabkan kerajaan Mataram pindah ke bagian timur Pulau Jawa.

Dari tesis Alva Kurniawan, serta hasil pengamatan lapangan Tribunjogja.com pada pekan pertama November 2021, perbukitian Gendol adalah unit bentang lahan terisolir yang memiliki ciri sangat unik. Berelief kasar, dan tersusun oleh sekelompok bukit terisolir.

Masing-masing bukit memiliki igir yang mengarah pada arah yang cenderung barat laut – tenggara dan timur laut barat daya.

Bukit-bukit penyusun perbukitan terisolir Gendol terdiri atas Bukit Sari. Di puncak bukit ini terdapat bangunan Candi Gunung Sari yang bercorak Hindhu.

Selanjutnya ada Bukit Pring atau Gunung Pring, Bukit Depok, Bukit Puguhan, Bukit Gendol, Bukit Lempong, Bukit Tugel, Bukit Guling, Bukit Mantingan yang belum lama ini di kakinya ditemukan patirtan kuno.

Selanjutnya ada Bukit Singobarong dan Bukit Wukir. Di Puncak Bukit atau Gunung Wukir ini terdapat candi kuno yang selama ini jadi tonggak kehadiran kerajaan Mataram Kuno.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Di puncak bukit ini pula ditemukan Prasasti Canggal bertarikh 732 Masehi di masa Raja Sanjaya. Selanjutnya masih ada Bukit Grogolan, Bukit Karanggeneng, Bukit Ndrakila, dan Bukit Dali.

Bukit Gendol dapat dibagi menjadi Bukit Gendol Utara dan Bukit Gendol Selatan. Bukit Lempong juga dapat dibagi menjadi beberapa bukit.

Yaitu, Bukit Lempong Utara (Bukit Lempong Semen), Bukit Lempong Barat (Bukit Lempong Tirto), Bukit Lempong Selatan (Bukit Budho), dan Bukit Lempong Timur (Bukit Pelampayan).

Unit bentang lahan ini selanjutnya dapat dibagi menjadi empat sub unit bentang lahan yaitu puncak, lereng, lembah, dan kaki.

Tinggi rata-rata puncak unit ini terhadap zona di sekitarnya adalah 70 m. Titik tertinggi unit ini mencapai 456 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sedangkan kaki terendah unit ini memiliki elevasi hingga 250 mdpl.

Lereng-lereng pada unit ini memiliki sudut rata-rata 31° – 42° dengan lembah yang lebih landai bersudut lereng rata-rata 13° – 20°. Sisi-sisi unit ini memiliki sudut yang mirip sehingga dapat dikatakan memiliki lereng yang simetris.

Menjawab teori van Bemellen dkk yang mengatakan Bukit Gendol merupakan produk debris avalanche Merapi, Alva Kurniawan menyatakan pendapat itu dapat diterima jika alkalinitas batuan Gendol co-magmatism dengan batuan Merapi.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Akan tetapi dari hasil penelitiannya, alkalinitas batuan Gendol menunjukkan pola yang berbeda dengan batuan Merapi. Sehingga batuan Gendol tidak co-magmatism dengan batuan Merapi.

Hal itu berarti batuan penyusun Gendol bukanlah batuan Gunung Merapi. Karena itu menurutnya, pendapat tentang Gendol sebagai produk debris avalanche Merapi tidak dapat diterima karena batuan penyusunnya bukan batuan Merapi.

Berikutnya, menanggapi pendapat yang mengatakan Gendol merupakan produk normal faulting dari Perbukitan Menoreh, menurut Alva dapat diterima jika alkalinitas batuan Gendol co-magmatism dengan batuan Perbukitan Menoreh.

Namun hal itu menurutnya tidak terbukti. Alkalinitas batuan penyusun Gendol membentuk kelompok tersendiri yang berbeda dengan alkalinitas batuan Perbukitan Menoreh.

Hal ini juga berarti batuan penyusun Perbukitan Gendol tidak co-magmatism dengan batuan penyusun Perbukitan Menoreh sehingga pendapat tentang Perbukitan Gendol produk normal faulting Perbukitan Menoreh tidak dapat diterima.

Berdasarkan karakteristik petrografi dan geokimia, menurut penelitian Alva Kurniawan, menunjukkan batuan penyusun Perbukitan Gendol memiliki karakteristik tersendiri. Batuan tersebut berbeda dengan batuan Gunung Merapi maupun Perbukitan Menoreh.

Perbedaan karakteristik tersebut didukung oleh hasil Kalium-Argon dating, atau uji pertanggalan batuan yang dirujukknya dari riset Greg Newhall dkk (2000). Hasilnya, batuan Perbukitan Gendol memiliki umur 3.44 Ma atau 3,4 juta tahun.

Hal tersebut semakin memperjelas batuan Perbukitan Gendol jelas berbeda dengan batuan Gunungapi Merapi karena lebih tua. Juga jelas berbeda dengan batuan Perbukitan Menoreh karena umurnya lebih muda.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Karakteristik morfologi menurut tesis Alva Kurniawan semakin mendukung Perbukitan Gendol bukanlah produk debris avalanche dan normal faulting Perbukitan Menoreh.

Terdapat keanehan pada kenampakan Perbukitan Gendol sebagai hummocky hills. Merujuk penelitian geolog Newhall, tidak terdapat bukit-bukit yang memiliki elevasi yang lebih tinggi dari Perbukitan Gendol pada lereng barat daya Gunung Merapi.

Hal tersebut juga tidak sesuai model 85 hummocky hills dari debris avalanche, sebagaimana ia kutip dari penelitian Ui dkk (2000). Perbukitan Gendol juga tidak menunjukkan morfologi homoklin seperti yang dinyatakan penelitian Murwanto dan Subandrio (1997).

Perbukitan Gendol justru menunjukkan kenampakan morfologi antiform yang tertutup oleh lereng Gunung Merapi

Litologi Perbukitan Gendol juga menunjukkan ciri yang mendukung Perbukitan Gendol bukan merupakan produk debris avalanche dan normal faulting Perbukitan Menoreh.

Batuan penyusun Perbukitan Gendol bukan merupakan batuan beku fragmental yang terdistribusi dalam fasies blok dan matriks yang merupakan ciri khas dari litologi endapan debris avalanche.

Batuan Perbukitan Gendol didominasi lava yang terbentuk secara insitu sehingga jelas batuan Perbukitan Gendol tidak berasal dari Gunung Merapi maupun Perbukitan Menoreh.

Dari hasil kajian struktur geologi, tidak terdapat jigsaw-crack dengan sesar minor pada blok-blok batuan penyusun Perbukitan Gendol.

Kedua karakteristik tersebut merupakan karakteristik khas dari endapan debris avalanche yang adanya mengindikasikan pergerakan massa batuan secara serentak sebelum terjadinya pengendapan.

Menurut Alva Kurniawan merujuk penelitian Camus dkk (2000), terdapat kenampakan jigsaw-crack pada batuan di Bukit Sari yang merupakan bagian dari Perbukitan Gendol.

Namun jigsaw-crack yang dimaksud Camus dkk tidak ditemukan pada penelitian ini.

Hasil observasi singkapan di Bukit Sari menunjukkan tidak terdapat jigsaw-crack pada batuan di Bukit Sari melainkan terdapat kekar jigsaw-fit dan kekar tektonik.

Hasil observasi pada singkapan di Bukit Sari mendukung deskripsi Newhall dkk yang menyatakan tidak terdapat singkapan batuan yang menunjukkan terdapatnya jigsaw-crack baik di Bukit Sari maupun bukit-bukit lain di Perbukitan Gendol.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Hasil observasi pada lereng-lereng curam di Perbukitan Gendol terutama pada sisi timur laut Perbukitan Gendol menunjukkan tidak terdapat ciri-ciri yang menunjukkan bidang sesar yang dicirikan oleh terdapatnya cermin sesar, breksi sesar, dan striasi.

Tidak ditemukannya bidang sesar menunjukkan Perbukitan Gendol bukan merupakan homoklin. Perbukitan Gendol juga bukan merupakan produk normal faulting Perbukitan Menoreh.

Karakteristik petrografi dan geokimia batuan Perbukitan Gendol yang didukung oleh karakteristik morfologi, litologi, dan struktur geologi jelas menunjukkan Perbukitan Gendol tidak terbentuk oleh debris avalanche Merapi maupun normal faulting Perbukitan Menoreh.

Hasil Aktivitas Gunungapi Purba

Dari hasil risetnya, Alva Kurniawan menyimpulkan genesis Perbukitan Gendol tidak disebabkan oleh debris avalanche Merapi atau normal faulting Perbukitan Menoreh.

Karakteristik geologi Perbukitan Gendol tidak menunjukkan kriteria yang sesuai sebagai kedua produk tersebut. Genesis Perbukitan Gendol diakibatkan vulkanisme purba insitu.

Bukti-buktinya, pertama, litologi Perbukitan Gendol didominasi lava yang terbentuk secara insitu dan adanya batuan intrusi dangkal.

Kedua, batuan beku penyusun Perbukitan Gendol yang khas berupa Medium-K, Pliosen (Newhall dkk., 2000), andesit basaltik – andesit, yang mengandung klinopiroksen, ortopiroksen, dan hornblenda.

Ketiga bentuk lembah-lembah Perbukitan Gendol yang menunjukkan kenampakan seperti kawah gunung api.

Distribusi bukit-bukit di Perbukitan Gendol menunjukkan kelurusan pada arah tertentu yang mencirikan kelompok gunung api yang terbentuk pada sepanjang zona ekstens.

Pengamatan di lapangan, gugusan bukit di Gulon, Jumoyo, Kadiluwih dan sekitarnya ini terhitung masih cukup baik kondisinya. Vegetasi cukup lebat.

Namun di Bukit Gendol, terlihat sudah ada upaya pembuatan jalan tembus ke puncak bukit. Kabar yang berkembang, akan dibangun perumahan di bagian atas perbukitan tersebut.

Dari tebing-tebing yang tersingkap oleh proyek pembukaan jalan, jenis tanah yang tampak seperti tanah merah, bukan tanah berpasir seperti endapan aluvium hasil erupsi Merapi. (*/tribun)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: