Gratis ! Festival Bhumi Atsanti IV di Borobudur Tampilkan Fajar Merah, Reda Gaudiamo & Seni Rakyat
- calendar_month Kam, 31 Jul 2025

Festival Bhumi Atsanti Ke-2 di Borobudur
BNews-MAGELANG- Yayasan Atma Nusvantara Jati (ATSANTI Foundation), lembaga kebudayaan yang berbasis di Kabupaten Magelang, kembali menunjukkan komitmennya dalam pelestarian dan pengembangan budaya Nusantara.
Salah satu bentuk kontribusi tersebut adalah melalui penyelenggaraan Festival Bhumi Atsanti yang telah memasuki tahun keempat dan menjadi agenda tahunan yang senantiasa menarik perhatian publik.
Pada tahun 2023, Festival Bhumi Atsanti mengangkat tema “Hayuning Rasa” dan sukses menampilkan berbagai pertunjukan seni dari daerah-daerah; seperti Borobudur, Magelang, Papua, Cirebon, Yogyakarta, Bogor, dan Bandung.
Tahun ini, Festival Bhumi Atsanti akan berlangsung pada tanggal 1 hingga 3 Agustus 2025 di Bhumi Atsanti, Borobudur. Festival ini menghadirkan seniman lokal maupun nasional dalam kolaborasi yang mencerminkan semangat keterbukaan, inklusivitas, dan keberagaman budaya Indonesia.
Ketua Yayasan Atma Nusvantara Jati, M.F. Nilo Wardhani, menyampaikan harapannya agar festival ini dapat; menjadi ruang pertemuan antar generasi serta rumah yang ramah bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang.
“Ruang ini tak hanya menawarkan sebuah pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ajang interaksi dan pembelajaran budaya yang menginspirasi,” ujarnya.
Selain Festival Bhumi Atsanti, ATSANTI Foundation juga aktif menyelenggarakan berbagai program kebudayaan dan edukasi lainnya.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Beberapa di antaranya adalah Atsanti Music Camp yang menghadirkan pemateri-pemateri legendaris dari dunia musik Indonesia; serta Atsanti Youth Camp yang menjadi wadah bagi generasi muda untuk tumbuh dan berkembang melalui kegiatan kreatif dan reflektif.
Kegiatan lain seperti Vesak Wellness Camp juga memperlihatkan konsistensi yayasan dalam membangun kesadaran spiritual dan kesehatan mental masyarakat.
Melalui program-program ini, ATSANTI terus berupaya memperkuat akar budaya lokal sekaligus menjembatani nilai-nilai universal yang relevan dalam kehidupan masa kini.
Dengan tema “Manunggaling Karsa”, Festival Bhumi Atsanti IV ingin merefleksikan semangat persatuan dalam kehendak dan karya.
Festival ini akan menampilkan berbagai pertunjukan seni budaya dan sastra, seperti musik, tari, teater, dan pembacaan; karya sastra dari seniman-seniman ternama Indonesia. Selain pertunjukan seni, tahun ini juga hadir Pasar Bhumi yang menghadirkan pelaku UMKM dari kawasan Borobudur dan sekitarnya.
Festival juga memperluas cakupan edukasinya dengan menghadirkan Pasar Buku yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca dan literasi; khususnya di bidang sastra dan kebudayaan. Kehadiran pasar buku ini memperkuat citra Bhumi Atsanti sebagai ruang pembelajaran budaya yang inklusif dan mendalam.
Project Manager Bhumi Atsanti, Luisa Gita Christozen, menjelaskan bahwa meskipun berskala nasional, Festival Bhumi Atsanti tetap mengedepankan partisipasi masyarakat dan komunitas lokal dalam pelaksanaannya.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
“Festival ini dirancang sebagai ruang kolaboratif yang terbuka, tempat berbagai pihak dapat bertemu, berkarya, dan saling menginspirasi,” ujarnya.
Kolaborasi tersebut tidak hanya tampak dalam daftar penampil dan pengisi acara, tetapi juga dalam struktur kepanitiaan yang melibatkan individu dari berbagai latar belakang usia, profesi, dan keahlian.
Salah satu penampilan yang paling dinantikan adalah dari Fajar Merah, seorang musisi sekaligus anak dari penyair dan aktivis Wiji Thukul.
Ia dikenal lewat karya-karya pertunjukan dan musiknya yang sarat akan semangat perjuangan. Festival ini juga menghadirkan sastrawan Reda Gaudiamo yang akan membawakan karya-karya sastra dan musikalisasi puisi bertema kemanusiaan dan kebudayaan.
Kehadiran kedua tokoh ini diharapkan mampu menghidupkan kembali semangat berkesenian yang berpijak pada akar tradisi namun tetap kontekstual dengan zaman.
Festival Bhumi Atsanti IV juga menampilkan para seniman lokal dari Borobudur dan Magelang. Beberapa di antaranya berasal dari Sanggar Kinnara Kinnari dari Desa Wanurejo, Sanggar Lemah Urip dari Desa Karanganyar, Sanggar Gadhung Melati dari Dukun Magelang; serta teater Gubug Kebon dan komunitas Sosio Teatrikal dari Magelang.
Kesenian rakyat seperti Topeng Ireng, Jathilan, dan Rampak Celeng juga akan turut memeriahkan festival ini. Tak hanya itu, komunitas senam kreasi budaya yang telah ikut tampil sejak tahun lalu pun akan kembali tampil di tahun ini.
CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Festival Bhumi Atsanti IV membuka ruang partisipatif melalui workshop menulis yang bekerja sama dengan Gramedia dan dibawakan oleh Ruhaeni Intan, seorang reporter dan content writer.
Festival ini juga menghadirkan musisi Uyau Moris, seniman musik Sape dari suku Dayak Kenyah, yang akan membagikan pengalamannya dalam dunia seni pertunjukan.
Berbagai sajian budaya, mulai dari pertunjukan musik, teater, orkes, hingga musikalisasi puisi akan dipentaskan selama tiga hari penyelenggaraan festival. Semua acara di Festival Bhumi Atsanti IV terbuka untuk umum dan dapat dinikmati secara gratis oleh seluruh elemen masyarakat.
Dengan semangat inklusif, lintas generasi, dan berakar pada kekayaan budaya lokal, Festival Bhumi Atsanti IV diharapkan menjadi ruang yang menginspirasi dan memperkuat jati diri budaya Indonesia di tengah dinamika zaman. (bsn)
About The Author
- Penulis: BNews 2



Saat ini belum ada komentar