Hacker Sleman Diciduk Polisi Jebol Keamanan di Amerika

BNews—SLEMAN— Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) melalui internet memang sekarang sudah tidak asing lagi. Banyak para ahli yang bergelut dalam dunia TIK ini, namun jika bergelutnya dalam hal negative tetap akan berurusan dengan hukum, misal hacker jahat.

Seperti halnya pemuda dengan inisial BBA yang masih berumur 21 tahun asal Sleman Yogyakarta ini harus berurusan dengan tim Siber Bareskrim Polri. Pasalnya dirinya menjadi hacker dan melakukan tindakan pidana merentas sebuah server milik perusahaan si San Antonio, Texas, Amerika Serikat.

Advertisements


“Kita berhasil amankan pelaku di rumahnya 18 Oktober 2019 lalu. Hal ini setelah dilakukan rangkaian penyelidikan oleh unit siber Bareskrim Polri,” ungkap Kepala Subdit II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Rickynaldo Chairul.


Dalam penangkapan pelaku ini, petugas berhasil mengamankan sejumlah barang bukti. Adapun barang bukti yang diamankan meliputi, laptop jinjing, dua unit ponsel, identitas pribadi, satu kartu ATM BNI, satu unit rakitan CPU, dan sebuah moge.

“Untuk modus pelaku ini menggunakan virus ransomware, Dimana BBA melakukan peretasan dengan serangan program jahat (virus komputer) jenis ransomware,” imbuhnya.

BBA diketahui membeli ransomware atau malware yang mampu mengambil alih kendali, yang berisi Cryptolocker di pasar gelap internet atau dark web. “Kemudian, ransomware tersebut dikirimkan secara luas ke lebih dari 500 alamat email di luar negeri. Salah satu korban yang menerima email tersebut adalah perusahaan di San Antonio, Texas, AS,” paparnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS UNTUK HANPHONE KALIAN (KLIK DISINI)

Cara bekerja virus ini yakni ketika korban membuka email tersebut, maka software perusahaan akan terenkripsi. “Hal inilah yang menjadikan kesempatan hacker BBA untuk meminta uang tebusan kepada korban. Sebab, jika tidak diberikan uang tebusan dalam waktu tertentu, maka sistem perusahaan itu akan lumpuh,” terangnya.

“Saat semua sistemnya sudah bisa diambil alih oleh pelaku, maka muncul pemberitahuan di layar. Apabila Anda ingin menghidupkan kembali server Anda, maka saya kasih waktu 3 hari untuk membayar,” jelasnya.

Jadi hal itu seperti ancaman untuk melakukan pemerasan. “Karena kalau misalnya tidak bisa membayar, maka yang bersangkutan atau pelaku akan mematikan seluruh sistemnya,” tegasnya.

Pelaku ini juga cerdas, untuk melakukan pembayaran atau penebusan untuk modus pembayaran menggunakan Bitcoin atau berbasis internet. “Atas ancaman tersebut, mau tidak mau korban mengirimkan biaya tebusan kepada pelaku dalam bentuk Bitcoin,” ungkap Rickynaldo.

Diketahui, selama lima tahun menjadi hacker dengan modus ransomware, BBA mampu meraup untung sebanyak 300 Bitcoin atau sekitar Rp 31,5 miliar. “Kalau dihitung transaksinya, perputaran uangnya, ada sekitar 300 Bitcoin dia sudah bisa dapatkan. Diputar, untuk jual beli. Kemudian sisanya keuntungannya dia bisa beli peralatan,” bebernya.

Atas tindakannya, BBA dikenakan Pasal 49 Jo Paal 33 dan Pasal 48 ayat (1) Jo Pasal 32 ayat (1) dan Pasal 45 ayat (4) Jo. Serta Pasal 27 ayat (4) Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

“Adapun ancaman hukuman maksimal kepada pelaku adalah 10 tahun penjara,” pungkasnya. (bsn)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: