Jurnalis Tempo Babak Belur di Pesta Pernikahan Anak Tersangka Kasus Suap Pajak

BNews—NASIONAL— Jurnalis Tempo di Surabaya, Nurhadi, mengalami penganiayaan dan ancaman saat melakukan investigasi terkait dugaan kasus suap pajak yang diduga melibatkan Angin Prayitno Aji. Angin merupakan pejabat Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan yang diduga memiliki aset penginapan mewah di Borobudur, Kabupaten Magelang.

Malam itu, Hadi ditugaskan oleh kantornya untuk mencari keberadaan tersangka, di sebuah acara pernikahan anak Angin. Tepatnya di acara resepsi pernikahan anak Angin di Gedung Graha Samudra Bumimoro (GSB), komplek Komando Pembinaan Doktrin Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan laut (Kodiklatal) Surabaya. Ia diminta untuk meminta konfirmasi Angin terkait kasus yang menjeratnya.

Alih-alih mendapatkan jawaban, Hadi malah ditangkap oleh Purwanto dan Firman, dua orang yang mengaku sebagai anak asuh besan dari Angin, Kombes Pol Achmad Yani, mantan Kepala Biro Perencanaan Polda Jatim. Belakangan keduanya juga mengaku berasal dari Polda Jatim.

”Mereka mengaku anak asuhnya Achmad Yani,” kata Hadi, menceritakan peristiwa itu, Minggu (28/3).

Oleh mereka, Hadi dikira hendak meliput acara pernikahan anak Angin dan Achmad Yani yang digelar di tengah pandemi Covid-19. Hadi mencoba menjelaskan.

Namun ponselnya malah dirampas, dirusak hingga pecah, memori di ponselnya di-reset, kartu simnya dipatahkan dan dibuang. ”Saya jelaskan saya hanya mau konfirmasi soal kasus suap pajak, soal korupsi, bukan pernikahan,” ujarnya.

Selama itu pula, Hadi mengaku mendapat beragam kekerasan; dijambak, ditampar, ditempeleng, dibogem, diinjak. Bahkan seseorang yang diduganya sebagai anggota TNI sempat ingin menyetrumnya. Ajudan Angin juga mengancam membunuhnya.

Baca juga: KPK Buru Penginapan Mewah Tersangka Suap Pajak di Kawasan Candi Borobudur

”Saya dipukul bertubi-tubi, tiap orang yang ada bertanya saya dari mana lalu memukul saya,” ucapnya.

”Ada yang mengancam mau menyetrum saya, (anggota) TNI,” sambungnya.

Hadi tak ingat betul detail jumlah mereka. Yang pasti jumlahnya lebih dari sepuluh. Mereka berpakaian hitam, ada juga yang berbatik biru.

Tak cukup dihajar bergilir. Hadi juga dibawa oleh dua Firman dan Purwanto ke sebuah kamar di Hotel Arcadia. Di sana ia disekap selama dua jam. Sebelum akhirnya diantar pulang oleh keduanya.

”Di hotel itu saya disekap dua jam,” paparnya.

Kini kasus ini tekah dilaporkannya ke Mapolda Jatim, Surabaya. Laporan ini sendiri telah diterima SPKT dengan Laporan Polisi Nomor: LP-B/176/III/RES.1.6/2021/UM/SPKT Polda Jatim.

Ia didampingi Aliansi Anti Kekerasan Terhadap Jurnalis, yang terdiri dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya, KontraS Surabaya, LBH Lentera, LBH Pers, dan LBH Surabaya. Polda Jatim memastikan bakal mengusut kasus dugaan penganiayaan yang menimpa Nurhadi.

”Benar. Pada hari ini teman-teman dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) melaporkan ke SPKT (Sentra Pelatanan Kepolisian Terpadu) Polda Jatim terkait adanya kejadian dugaan penganiayaan terhadap salah satu awak media,” tegas Kabid Jawa Timur Kombes Pol Gatot Repli Handoko.

”Dilakukan proses pemeriksaan diharapkan bisa ditindaklanjuti prosesnya. Dari hasil SPKT tadi dibuat laporan polisinya untuk ditindaklanjuti,” pungkasnya.(han)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: