Kasihan, Keluarga di Jogja Hidup di Kandang Kambing Gegara Terlilit Utang

BNews—JOGJAKARTA— Keluarga Ngadiono, warga Dusun Kedungranti, Kalurahan Nglipar, Nglipar, Gunungkidul, Jogjakarta terpaksa tinggal di kandang ternak. Keluarga ini sudah tinggal berdekatan dengan sapi dan kambing sejak empat bulan lalu.

Kandang di pinggir Kali Oya di Dusun Kedungranti, Kalurahan Nglipar, Nglipar, itu tidak berdinding. Hanya ada atap pelindung dari terpaan matahari atau hujan.

Di samping kandang terdapat terpal-terpal yang dipasang memutar untuk menahan embusan dinginnya angin saat malam hari.

Bangunan beratap terpal seluas enam meter persegi ini adalah tempat tinggal Ngadiono berserta istri dan tiga anaknya. Keluarga ini sudah tinggal di kandang ternak sejak empat bulan yang lalu.

Layaknya tempat tinggal, bangunan ini juga dilengkapi dengan dapur untuk memasak dan merebus ketela untuk pakan ternak. Namun, lokasinya terpisah karena letaknya berada di belakang kandang. Listrik diperoleh dari saudaranya. Keluarga itu mandi dan mencuci dengan memanfaatkan aliran air yang mengalir di Kali Oya yang berjarak beberapa meter dari kandang.

Ngadiono, 52, sudah tidak memiliki rumah lagi sehingga numpang tinggal di kandang yang tak lain milik Ibu kandunganya. Ia sempat memiliki rumah dan tanah, tapi karena terlilit utang, maka dijual ke adiknya.

Untuk mengubah nasib, Ngadino sempat merantau dengan bekerja di perkebunan sawit di Bangka, tapi sekeluarga pulang pada 2018 lalu. Penghasilan yang diperoleh hanya cukup untuk makan sehingga diputuskan pulang ke kampung halaman.

Sebelum tinggal di kandang ternak, ia sempat tinggal di tanah garapan milik Perhutani yang diberikan oleh almarhum Ayahnya. Hasil dari mengolah lahan ini digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

”Kandang yang Saya tempati memang milik Ibu, tapi sudah diwariskan ke saudara Saya,” ungkapnya.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

Ia memiliki lima orang anak. Namun yang ikut tinggal di kandang hanya tiga. Anak nomor dua tinggal bersama keluarga istrinya di Dusun Piyuyon, Pacarejo, Semanu. ”Anak pertama tinggal bersama Ibu yang lokasinya juga di Dusun Kedungranti,” terangnya.

Kepala Dusun Kedungranti, Tukiyarno, mengatakan keluarga Ngadiono sempat merantau ke luar Pulau Jawa. Meski demikian, yang bersangkutan masih terdaftar sebagai warga Kedungranti.

Saat pulang 2018 lalu, keluarga ini sempat tinggal di Dusun Piyuyon, Pacarejo, Semanu bersama dengan Ayah Ngadiono. Oleh orang tuanya, Ngadiyono diberikan tanah garapan milik Perhutani untuk bercocok tanam. ”Awalnya istrinya tetap tinggal di Piyuyon, mungkin capek bolak balik sehingga mendirikan bangunan ini,” ungkapnya.

Tukiyarno dan pengurus RT sudah mengupayakan untuk mendapatkan bantuan pendirian rumah. Namun karena Ngadino tidak memiliki tanah, upaya tersebut belum bisa terwujud.

”Sudah kami koordinasikan dan rencananya keluarga ini akan dibuatkan rumah semi permanen di tanah Kas Kalurahan untuk tempat berteduh karena di lokasi yang ditinggali sekarang juga rawan terjadi banjir,” ungkapnya.

Sekretaris Dinas Sosial Gunungkidul, Wijang Eka Aswarna menjelaskan, tidak memiliki data kasus seperti yang dialami keluarga Ngadiono di Kapanewon Nglipar. ”Untuk permakaman tidak ada masalah karena di dinas sosial siap memberikan bantuan. Tapi, untuk rumah kendalanya di lahan,” ungkapnya.

Menurut dia, untuk penanganan bisa dilakukan dengan dua cara. Yakni, melalui bantuan pendanaan dari Pemerintah DIY dan kerja sama dengan LSM.

Keluarga Ngadiono yang empat bulan tinggal di kandang sempat viral di media sosial. Ketua Tim Penggerak PKK Gunungkidul, Diah Purwanti Sunaryanta, menyempatkan untuk berkunjung, Kamis (2/9).

Ia pun memberikan bantuan berupa sembako dan barang-barang lain. ”Kedatangan Saya untuk melihat kondisi kelurga Pak Ngadiono,” terangnya.

Saat berkunjung, istri Bupati Gunungkidul itu juga memastikan keluarga ini sudah pindah ke tempat yang lebih layak. Yakni, tinggal bersama orang tua Ngadiono yang lokasinya tidak jauh dari kandang.

Meski demikian, Diah mengakui perpindahan tersebut bukan menjadi solusi yang permanen. Hal ini dikarenakan ada beberapa solusi berkaitan dengan tempat tinggal layak sehingga Ngadiono tidak lagi tinggal di kandang.

”Harapannya bisa mendapatkan rumah yang sempat dijual. Mungkin nanti diusahkan bantuan untuk membelinya lagi. Sebagai ketua tim penggerak PKK kabupaten, Saya akan berupaya membantunya,” pungkasnya. (ifa/han)

Sumber: Harian Jogja

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: