Kekerasan Seksual Perempuan di Dunia Kampus

PENULIS : DITA PUTRI ANGGRAENI/ Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Magelang

PERGURUAN tinggi idealnya merupakan wadah untuk menuntut ilmu, mengembangkan diri, dan suatu tempat yang seharusnya dipenuhi dengan rasa aman, nilai kemanusiaan dan keadapan.

Namun, belakangan ini marak terjadi kekerasan seksual di perguruan tinggi. Sangat disayangkan kampus malah disalah gunakan oleh predator yang tidak bertanggungjawab sebagai tempat pelanggaran dan perampasan marwah seseorang sebagai perempuan.

Kasus pelecehan seksual yang sedang menjadi diskusi publik, terjadi pada mahasiswi Universitas Riau (Unri) Jurusan Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan IlmuPolitik (FISIP), angkatan 2018 yang menjadi korban pelecehan seksual oleh Dekan Fakultas FISIP saat melakukan bimbingan skripsi di kampusnya.

Kasus lain, mahasiswi FKIP Universitas Sriwijaya di Indralaya, Sumatera Selatan mengalami kasus pelecehan seksual oleh oknum dosen juga saat melakukan bimbingan skripsi di kampusnya.

Banyak kasus kekerasan seksual terjadi di kampus namun disembunyikan demi nama baik kampus. Fenomena kejahatan ini seperti gunus es, jauh lebih banyak yang tidak tampakdari apa yang dilihat.

Sebagaimana data yang dihasilkan darisurvei Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) tahun 2020, menyebutkan 77 persen dosen menyatakan kekerasan seksual pernah terjadi di kampus dan 63 persen tidak melaporkan kasus yang diketahuinyakepada pihak kampus.

Kemudian data Komnas Perempuan sepanjang 2015-2020 yang menunjukkan, dari keseluruhanpengaduan kekerasan seksual yang berasal dari lembaga pendidikan, sebanyak 27 persen kasus terjadi di perguruan tinggi.

Mirisnya, kasus kekerasan seksual secara umum masih dianggaphanya sebatas tindakan asusila, bukan tindakan kejahatan yang melanggar hak dan kemanusiaan korban. Bagaimanapun bentuk kekerasan seksual dapat menimbulkan dampak traumatis bagi korban.

Penelitian yang dilakukan oleh Scott (2017) menunjukkan secara psikologis korban kekerasan seksual dapatmengalami kecemasan, depresi, gangguan stress pasca trauma (PTSD), ketakutan hingga munculnya keinginan untuk bunuh diri.

Hal ini menunjukkan bahwa kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus menjadi pemasalahan yang sangat besar dan harus segera ditindaklanjuti karena hanya sedikit korban yang berani untuk speak up mengenai kejadian tersebut.

Di tambah lagi ada dugaan pihak rektorat tidak responsif terhadap kasus pelecehan, padahal kasus-kasus pelecehan dan kekerasan seksual di kampus-kampus di Indonesia umumnya selama berpuluh tahun “tersembunyi di bawah karpet” karena kuatnya relasi kuasa para pelaku dan takada payung hukum.

Kekerasan seksual adalah salah satu dari perilaku menyimpang, maka para pelaku harus diberi hukuman yang setimpal sepertisanksi administratif, pemecatan bahkan pemberhentian tetap agar tidak ada lagi korban baru lainnya. Kejadian ini dapat membuat korban mengalami dampak buruk baik secara fisik maupun psikis.

Melihat kondisi tersebut Kemendikbud menerbitkan PeraturanMenteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual dipandang sebagai suatu langkah yang progresif oleh sejumlah pihak di tengah keresahan akan tingginya kekerasanseksual di lingkup perguruan tinggi.

Dari kejadian kekerasan seksual ini pihak kampus harus menyediakan layanan pelaporan kekerasan seksual, memberipelatihan kepada mahasiswa, pendidik, tenaga kependidikan, dan warga kampus berkaitan dengan upaya pencegahan dan penanganan kekerasan seksual, serta rutin melakukan sosialisasi terkait pedoman pencegahan kekerasan seksual di lingkup kampus.

Setiap kampus juga diminta untuk memasang tandai informasi yang berisi pencantuman layanan aduan kekerasan semsial, dan peringatan bahwa kampus tidak mentoleransikekerasan seksual. Itu baru dikatakan dengan kampus merdeka, tidak hanya merdeka belajar tetapi juga merdeka sejak dalampikiran. (ALF). (*)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: