Musim Hujan, Candi Borobudur Alami Kebocoran

BNews–BOROBUDUR— Kondisi bangunan Candi Borobudur ternyata banyak titik mengalami kebocoran. Hal ini terjadi jika intensitas hujan tinggi di kawasan tersebut.

Hasil tersebut merupakan pengamatan visual oleh Balai Konservasi Borobudur (BKB). Dimana hasilnya sejumlah titik dinding dan lantai batu Candi Borobudur basah, diduga mengalami kebocoran akibat tingginya curah hujan. 

Pantauan visual tersebut merupakan monitoring BKB antara kemarau dan puncak musim hujan. Perkiraan sementara air hujan tidak tuntas meresap ke drainase dan kemudian merembes di antara nat batu.

Dimungkinkan juga karena limpasan air hujan yang mengenai arca atau reliefnya. ”Terpantau di sejumlah titik Candi Borobudur. Cuma itu mungkin ada yang memang normal (limpasan air hujan) dan ada yang memang butuh diperbaiki,” ungkap Heri Setyawan Petugas Arkeolog BKB (3/2/2020).

Dijelaskannya juga, pihaknya dalam waktu dekat ini akan melakukan penanganan kebocoran tersebut. Dan perlu diketahui terakhir perbaikan kebocoran dilakukan pada tahun 2018 silam.

Perbaikan itu hanya mencapai sekitar 10 titik saja. Tahun 2019 sekitar 57 titik kebocoran.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS GRATIS DAN RINGAN (KLIK DISINI)

“Untuk tahun 2019 – 2020, pihak BKB tidak melakukan penanganan kebocoran. Namun fokus melakukan evaluasi penangan tahun-tahun sebelumnya apakah itu efektif atau tidak. Sedangkan data tahun 2020 ini belum ada karena masih kita monitoring,” paparnya.

Heri menyebutkan, selain faktor cuaca kendala lain yang dihadapi adalah bahan penambal sisa material pemugaran tahap kedua. Dimana saat ini dipergunakan sudah ‘discontinue’ atau tidak diproduksi lagi.

“Bahan atau material lapisan kedap air berupa lempengan timbel itu didatangkan secara khusus tahun 1970 dari pabrikan asal Jerman. Namun, stok material itu kini sudah tidak ada serta tidak diproduksi lagi, sementara perbaikan 2018 masih menggunakan stok lama sisa pemugaran kedua itu,” sebutnya.

Batuan Candi Borobudur memang terus dimakan usia. Petugas BKB pun terus berupaya mengatasi setiap kemungkinan yang ada. 

“Hal seperti evaluasi dan monitoring menjadi sangat penting karena BKB harus mendapat material berkualitas berkelanjutan. Dengan harapan agar candi warisan budaya dunia dari Wangsa Syailendra ini tetap lestari. Kita harus mencari bahan-bahan dan metode baru. Indonesia sudah memproduksi kita tinggal uji coba sesuai atau tidak,” tandasnya. (*/bsn)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: