Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Kelompok Seniman Kamoro Papua Tengah “Srawung Budaya” ke Magelang

Kelompok Seniman Kamoro Papua Tengah “Srawung Budaya” ke Magelang

  • calendar_month Ming, 8 Sep 2024

BNews—MAGELANG— Kelompok seniman Kamoro dari Kabupaten Mimika, Papua Tengah, melakukan “srawung budaya” ke dua kelompok seniman pahat di Kabupaten Magelang, Kamis (5/9/2024). Yakni kelompok masyarakat ukir bambu di Desa Kebonsari, Kecamatan Borobudur dan kelompok seni Gadhung Melati di Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.

Srawung Budaya yang dimaksudkan adalah acara workshop sekaligus silaturahmi yang dilakukan antar kelompok seniman. Yang dilakukan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan dari Festival Bumi Atsanti (FBA) 3 tahun 2024. Srawung dalam bahasa Jawa bermakna berinteraksi, bersosialisasi, bergaul dengan orang lain.

Koordinator lapangan Yayasan Atsanti Andi Widiatmoko mengatakan, istilah srawung sengaja dipakai karena aktivitas workshop dalam FBA bermakna lebih mendalam daripada sekedar kegiatan pelatihan.

“Selain menambah ketrampilan, worshop berlabel srawung budaya ini terdapat pertukaran pengetahuan lintas suku, agama, dan daerah,” katanya dalam rilis pers yang diterima BorobudurNews.com.

Kegiatan workshop ini juga semakin menambah warna dalam FBA karena baru dilakukan di tahun ini. Srawung, menurut Andi, juga tidak bisa sekedar diartikan bergaul, namun mengenal lebih dekat dan dalam

Tidak hanya dalam workshop, srawung ini sebenarnya juga sudah ada, dilakukan dalam aktivitas kesenian, kebudayaan yang dilakukan Yayasan Atsanti. Hal ini diwujudkan dengan mempertemukan para seniman dari berbagai penjuru Nusantara inilah yang sekaligus juga membantu mereka, mengenakkan tentang pentingnya konsep menjalin relasi dan berjejaring.

IKUTI BOROBUDUR NEWS di GOOGLE NEWS (KLIK DISINI)

Dalam pelaksanan di lapangan, kegiatan workshop berlangsung sangat akrab dan cair. Di Desa Kebonsari, seniman Kamoro terlebih dahulu beraksi menunjukkan kebolehannya, dengan mengukir di berbagai bahan kayu yang telah dibawa dari Papua.

Sembari memahat, sejumlah warga dari berbagai desa di Kecamatan Borobudur termasuk Desa Kebonsari, kemudian mengajak mengobrol. Mereka menanyakan berbagai hal terkait ukiran, termasuk menanyakan perihal jenis kayu dan motif ukiran. Karena berlangsung cukup lama, lebih dari setengah jam, pembicaraan pun berkembang, hingga mengobrol, bertanya tentang kopi khas dan kondisi cuaca di Timika, Papua.

Setelah itu, kelompok perajin Desa Kebonsari bergantian menerangkan tentang potensi alam. Berupa 11 jenis bambu yang kemudian dimanfaatkan warga menjadi berbagai ragam kerajinan, mulai dari gelas, gasing, penyaring kopi, hingga penguat audio untuk telepon selular.

(foto: istimewa)

Selanjutnya, rombongan seniman Kamoro kemudian bergeser ke Desa Sengi, Kecamatan Dukun. Diterima oleh pimpinan sanggar Gadhung Melati, Ismanto. Pertemuan itu dimulai dengan sesi perkenalan singkat dan langsung dilanjutkan dengan praktek membuat alat pahat dan praktek memahat batu.

IKUTI BOROBUDUR NEWS di GOOGLE NEWS (KLIK DISINI)

Dalam kesempatan itu, Ismanto mengajak seniman Kamoro untuk membuat alat ukir sendiri. Selain memperlihatkan praktek cara membuat, dia pun juga memastikan akan selalu membantu para seniman Kamoro untuk mencoba melakukan hal yang sama.

Ketua Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe, Herman Kiripi, kemudian bergantian menerangkan tentang kerajinan pahat batu yang dibuat oleh para seniman. Kerajinan tersebut biasanya dibuat bermotif gambar leluhur ataupun segala sesuatu yang ada biasa terlihat di sekitar mereka. Seperti pemandangan langit dan hasil tangkapan ikan sungai.

Sebagian kerajinan dibuat menjadi alat musik pukul di mana di bagian atasnya ditutup oleh kulit biawak atau ular yang dilekatkan pada kayu.

“Sekarang kulit biawak atau ular tersebut direkatkan dengan lem. Namun, di masa lalu, saat belum ada lem, kulit binatang itu direkatkan dengan darah manusia yang dicampur dengan kerang yang sudah menjadi kapur,” ujarnya.

Di tempat tersebut, para seniman Kamoro dan anak-anak, murid Sanggar Gadhung Melati, bergantian menyajikan pentas tari. Terakhir, mereka bahkan melakukan kolaborasi, di mana dua seniman Kamoro menari di depan. Diikuti belasan anak-anak di belakangnya yang mencoba menirukan gerakan mereka. Pertemuan itu pun berakhir dengan senyum dari dua kelompok warga berbeda pulau tersebut. Srawung budaya berakhir dengan gembira. (*)

About The Author

  • Penulis: BNews 7

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less