Kisah Misteri Meninggalnya Satu Keluarga di Lereng Merapi Magelang Akibat Makhluk Gaib

BNews—DUKUN— Gunung Merapi tidak pernah lepas dari kisah misteri dan mitos. Namun, bagi warga sekitar kepercaayan itu masih dipegang kuat.

Seperti halnya bagi warga di Duaun Babadan Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang. Dusun tertinggi yang berbatasan langsung dengan Merapi.

Dari puncak Gunung Merapi dusun ini hanya berjarak 4 km. Saat merapi meletus banyak warga disana yang enggan mengungsi.

Kenapa? “Saat Gunung Merapi meletus, di dusun ini tidak pernah terkena Abu vulkanik atau yang kerap disebut wedus gembel. Bahkan saat gunung meletus banyak warga yang enggan meninggalkan rumah. Padahal dusun kami hanya berjarak 4 KM dari puncak Gunung Merapi,” kata sesepuh Desa Babadan Mbah Jemu Muhadi, 60 seperti dikutip Rmol Jateng.

Mereka meyakini hal itu tak lepas dari keberadaan Mbah Petruk. Penguasa sekaligus penjaga dan penunggu Gunung Merapi.

Ia memaparkan, sebagian masyarakat Dusun Babadan meyakini bahwa si empunya Merapi ini akan memberi tahu warga jika gunung aktif itu sewaktu-waktu meletus.

Tak heran, jika Dusun Babadan disebut-sebut sebagai dusun kesayangan Mbah Petruk. Dan sejak dahulu kala Dusun Babadan tak pernah terkena dampak ataupun menimbulkan korban jiwa akibat letusan Gunung Merapi.

Loading...

Perbedaan antara Mbah Petruk dengan Mbah Marijan, karena dua sosok di dua alam. Hanya saja, biasanya Mbah Petruk mendatangi warga sekitar merapi melalui mimpi sebagai isyarat Gunung Merapi akan meletus. 

“Kalau Mbah Marijan sosoknya ada, sedangkan Mbah Petruk ini gaib. Biasanya Mbah Petruk mendatangi warga sekitar merapi melalui mimpi,” ungkap Mbah Jemu. 

Acap kali ketika tanda itu mulai ditunjukkan Mbah Petruk sebagai bentuk penghormatan, masyarakat setempat tak lupa memberikan sesaji dengan tujuan agar mereka selamat dari bahaya terutama letusan gunung. 

“Walaupun saat gunung meletus warga di Dusun Babadan tidak mau mengungsi. Kami sudah siap dengan keadaan apapun,” ucapnya. 

Tak hanya Mbah Petruk, diakui sesepuh desa Babadan dilokasi sekitar dusunya juga terdapat makluk ghaib yang kerap kali mewujudkan diri menyerupai wanita cantik. 

“Disini juga ada makluk astral wanita berparas cantik yang kerap nampak. Kalau saya menyebut itu Wewe Gombel (peri), tepatnya disekitaran Pos Pengamatan Merapi Dusun Babadan. Wanita itu cantik dan rambutnya panjang,” terang Mbah Jemu didampingi warga lainnya. 

Lantas kapan wanita cantik itu menampakkan dirinya, ia menerangkan wewe gombel itu sering menampakan diri pada setiap malam Jumat kliwon yang ditandai dengan angin disertai aroma harum sesaat Mbah Jemu membakar dupa.

Ditengah penampakan wanita cantik tadi akan ada pusaka keris yang sering muncul namun tak tahu namanya. 

“Selain itu juga ada sosok makhluk katak dan ular sangat besar yang sangat berbahaya. Bahkan dulu pernah ada kejadian misterius satu keluarga meninggal dunia disebabkan gangguan mahluk gaib kerajaan katak berasal dari prajurit Mbah Petruk penunggu Gunung Merapi,” beber Mbah Jemu sembari menunjuk arah lokasi kejadian. 

Ketika ditanya alasan makhluk astral tersebut marah, dengan senyum Mbah Jemu menjelaskan, karena terdapat tanaman jamur di area yang diyakini wilayah kekuasan makluk ghaib tersebut. 

Oleh satu keluarga ini, diambil untuk  dikonsumsi sehingga makluk ghaib tersebut merasa diganggu dan mengamuk hingga satu keluarga meninggal.

“Semua warga tahu ‘kok’ kejadian itu. Namun soal kematian sebagian masyarakat menyebut disebabkan karena itu. Namun ‘ya’ kita sebagai manusia biasa kita serahkan kepada Allah SWT,” ujarnya. 

Kejadian aneh tapi nyata juga diakui Mbah Jemu dialami sendiri tim SAR dan relawan yang hendak mengevakuasi seorang pendaki asal Belanda meninggal di lokasi tak jauh wewe gombel bersemayang yakni jurang Senowo. 

Kala itu, saat jasad hendak dievakuasi oleh lainya tidak berhasil karena tiba-tiba diserang oleh makhluk tak kasat mata dari atas dengan melempar batu.

Dia menilai ada yang ganjil akhirnya meminta bantuan sesepuh atau tokoh spiritual setempat. Oleh sesepuh itu lalu dibakarkan menyan selanjutnya menyebut minta izin si penunggu wilayah tersebut. 

“Setelah itu baru jasat bisa di evakuasi,” ucapnya.  

Ditambahkan oleh Ari Suyatno (43) warga Dusun Babadan, menelisik fakta yang ada desanya selalu dilindungi atau hanya dilewati oleh abu Vulkanik ketika Gunung Merapi bergejelok tanpa menurunkan abunya di Dusun Babadan. 

“Walaupun dahsyatnya letusan Gunung Merapi seperti yang terjadi tahun 2010 silam yang juga menewaskan Mbah Marijan, desa kami tidak ada korban atau kerusakan yang berarti,” imbuhnya. 

Kedekatan inilah yang dipercaya masyarkat jika Mbah Petruk sayang dengan warga Desa Babadan hingga anak cucu. (her/wan)

Sumber : rmoljateng

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: