Kulon Progo Berpotensi Diterjang Gempa dan Tsunami 9 Meter, Warga Pesisir Diminta Waspada

BNews—JOGJAKARTA— Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta agar warga yang berada di pesisir pantai selatan di Kabupaten Kulon Progo siaga. Pihaknya meminta warga untuk menyiapkan manajemen mitigasi serta kontingensi terhadap ancaman bencana tsunami dan gempa bumi.

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati mengatakan, upaya mitigasi tidak hanya dilakukan oleh warga. Pemerintah kabupaten Kulon Progo melalui badan penanggulangan bencana daerah juga harus senantiasa meningkatkan kewaspadaan.

”Masyarakat pesisir perlu mengetahui betul risiko yang akan dihadapi di wilayah tersebut. Ancaman gempa bumi megathrust yang diprediksi memicu tsunami bisa saja terjadi tanpa bisa diprediksi,” ujar Dwikorita di sela-sela kegiatan Sekolah Lapang Geofisika yang dilaksanakan oleh Stasiun Geofisika Kelas I Sleman di Kantor Kalurahan Glagah, Kapanewon Temon, Selasa (16/3).

Maka dari itu, diperlukan manajemen, kontingensi dan persiapan yang matang. Mumpung gempa bumi dan tsunami belum terjadi, maka masyarakat harus selalu berlatih bagaimana cara menghadapi bencana.

Imbauan dari BMKG tersebut bukan tanpa alasan. Bencana gempa bumi disertai tsunami berpotensi melanda Kulonprogo.

Setidaknya, air laut setinggi sembilan meter diprediksi bakal merendam kawasan pesisir Kulonprogo. Dengan catatan, gempa bumi megathrust dengan kekuatan maksimal 8,8 magnitudo terjadi.

Jelas Dwikorita, tsunami bakal menyusul dengan jarak 26 menit pasca gempa yang diprediksi dengan kekuatan mencapai 8,8 magnitudo terjadi. Ketika gempa terjadi, sirine tsunami akan dibunyikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat empat menit kemudian.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

”Warga masih memiliki waktu 22 menit untuk melakukan evakuasi sebelum tsunami melanda. Tentunya, menuju dataran yang lebih tinggi dan mudah diakses dari titik mana saja di wilayah pesisir. Tapi lebih ideal kalau separuh dari 22 menit itu masyarakat sudah dievakuasi semua dan dinyatakan aman,” jelas mantan rektor UGM ini.

Lebih lanjut, peta bencana menjadi variabel penting dan mutlak dimiliki oleh pemerintah kabupaten Kulon Progo. Peta bencana, disebut bakal memudahkan dalam penyusunan rencana mitigasi dan evakuasi ketika gempa bumi dan tsunami terjadi.

”Kami sedang menyiapkan radar tsunami serta Earthquake Early System yang bisa memprediksi bencana akan terjadi lebih dini. Sistem ini sudah diterapkan oleh negara-negara rawan bencana lainnya seperti Jepang dan Amerika Serikat. Masih proses pengkajian,” ungkapnya.

Adapun, dalam melakukan evakuasi kepada ribuan bahkan puluhan ribu warga di pesisir menjadi perkara yang tidak mudah. Terlebih, melakukan evakuasi kepada warga lansia. Apabila tidak disiapkan dan dikoordinasi dengan baik, proses evakuasi tidak akan berjalan dengan semestinya.

”Peran Sekolah Lapang Geofisika di sini, yakni untuk merencanakan segalanya dengan matang. Bagaimana proses evakuasi itu. Apakah akan menggunakan kendaraan untuk lansia dan warga produktif hanya berlari. Jadi, harus mempertimbangkan beragam risiko agar evakuasi berjalan lancar,”ujarnya seperti dikutip Harian Jogja. (han)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: