Breaking News
light_mode
Beranda » Berita Utama » Magelang Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Akibat Cuaca Ekstrem

Magelang Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Akibat Cuaca Ekstrem

  • calendar_month Kam, 5 Mar 2026

BNews-MAGELANG– Cuaca ekstrem yang terjadi pada awal Maret 2026 membawa dampak signifikan bagi wilayah Kabupaten Magelang. Hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat mengguyur hampir seluruh kecamatan sejak 2 Maret 2026.

Kondisi tersebut dipicu oleh dinamika atmosfer yang kompleks. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya; telah mengidentifikasi tumbuhnya Bibit Siklon Tropis 90S di Samudra Hindia selatan Jawa Tengah; yang memperkuat pembentukan awan hujan di wilayah Jawa, termasuk Kabupaten Magelang.

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa saat ini Bibit Siklon Tropis 90S diperkirakan berada di Samudra Hindia selatan Jawa Tengah.

Selain itu, sejumlah sistem tekanan rendah juga turut memengaruhi kondisi cuaca di Indonesia.

“Bibit Siklon Tropis 90S dan sistem tekanan rendah di sekitar Papua serta Australia membentuk daerah pertemuan angin. Hal ini mendukung pertumbuhan awan hujan yang sangat masif di sepanjang daerah konvergensi tersebut,” tambahnya.

Hujan Hampir Tanpa Jeda

Memasuki pekan pertama Maret 2026, hujan turun hampir tanpa jeda, terutama pada siang hingga malam hari. Kondisi ini menyebabkan berbagai bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah Kabupaten Magelang.

Beberapa titik di kawasan lereng perbukitan dilaporkan mengalami tanah longsor. Sementara itu, luapan sungai menyebabkan genangan hingga banjir di sejumlah permukiman warga.

Angin kencang yang menyertai hujan deras juga dilaporkan merobohkan pohon serta merusak atap rumah warga.

Kondisi tersebut diperparah oleh tanah yang telah jenuh air akibat hujan yang terjadi sejak akhir Februari 2026.

Longsor dan Luapan Sungai di Sejumlah Kecamatan

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang mencatat sejumlah kejadian tanah longsor terjadi di beberapa kecamatan, antara lain Sawangan, Salaman, Pakis, Dukun, dan Kajoran.

Material longsor sempat menutup akses jalan penghubung antar dusun. Namun, jalur tersebut berhasil dibuka kembali melalui kerja bakti warga serta bantuan alat berat.

Selain longsor, luapan air sungai juga dilaporkan terjadi di wilayah Dukun, Muntilan, dan Mungkid. Kondisi ini dipicu oleh banjir lahar hujan yang terjadi di hulu sungai kawasan Gunung Merapi, khususnya pada aliran yang terhubung dengan Sungai Senowo.

Beberapa wilayah permukiman warga juga dilaporkan tergenang air dengan ketinggian yang bervariasi.

Kabupaten Magelang Tetapkan Status Tanggap Darurat

Melihat eskalasi kejadian bencana serta mempertimbangkan prakiraan cuaca yang masih berpotensi hujan lebat hingga 8 Maret 2026, Pemerintah Kabupaten Magelang menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi.

Penetapan tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Tanggap Darurat yang berlaku pada 3–9 Maret 2026.

Status tanggap darurat diberlakukan untuk mempercepat mobilisasi sumber daya, memudahkan koordinasi lintas sektor, serta memastikan kebutuhan dasar warga terdampak dapat segera terpenuhi.

CEK BERITA UPDATE LAINNYA DISINI (KLIK)

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang, Bambang Hermanto, menyampaikan bahwa penetapan status tanggap darurat dilakukan karena sejumlah indikator telah terpenuhi.

Di antaranya adanya korban jiwa, kerugian harta benda masyarakat, kerusakan prasarana dan sarana fasilitas umum, serta luasnya wilayah yang terdampak bencana.

Penanganan Darurat dan Evakuasi Warga

Selama masa tanggap darurat, BPBD Kabupaten Magelang bersama Basarnas, TNI, Polri, relawan, serta berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) terkait melakukan asesmen cepat, distribusi logistik, hingga penanganan darurat di lokasi terdampak.

Warga yang rumahnya berada di kawasan rawan longsor juga diimbau untuk mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman, terutama saat hujan deras terjadi pada malam hari.

BMKG Imbau Waspada Potensi Hujan Lebat

BMKG menyebutkan bahwa selain pengaruh Bibit Siklon Tropis 90S, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) serta kondisi La Nina lemah juga turut meningkatkan pasokan uap air di wilayah Indonesia.

Kondisi tersebut menyebabkan potensi hujan lebat masih perlu diwaspadai di sejumlah daerah.

Meski pada periode 5 hingga 8 Maret 2026 intensitas hujan diprakirakan cenderung ringan hingga sedang, peningkatan intensitas hujan secara lokal masih berpotensi terjadi, terutama di wilayah pegunungan dan lereng.

Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.

Warga juga diminta menjauhi bantaran sungai serta menghindari aktivitas di kawasan lereng yang rawan longsor.

“Selain itu, masyarakat diharapkan untuk tidak beraktivitas di luar ruangan saat terjadi hujan disertai kilat petir dan angin kencang, hujan es serta menghindari tempat-tempat terbuka, pohon besar, baliho, atau tiang listrik yang berpotensi roboh,” pesannya.

Awal Maret 2026 menjadi pengingat bahwa Kabupaten Magelang dengan karakter wilayah perbukitan serta banyaknya daerah aliran sungai memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi.

Karena itu, kesiapsiagaan bersama antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci penting untuk meminimalkan risiko bencana di tengah dinamika cuaca yang semakin sulit diprediksi. (*)

About The Author

  • Penulis: BNews 2

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less