Mendalami Makna Sejati dari Semangat Prajurit Soreng: Etos Kerja dan Keberanian untuk Petani Magelang
- calendar_month Kam, 9 Nov 2023

Tarian soreng sambut kedatangan tamu di Magelang (22/12/2020)
BNews-MAGELANG– Mengambil sudut pandang lain dari Prajurit Soreng, yang pada dasarnya merupakan tokoh antagonis. Semangat Prajurit Soreng telah menginspirasi kehidupan masyarakat di lereng Gunung Merbabu dan Gunung Andhong, Kabupaten Magelang.
Prajurit Soreng adalah bagian dari Laskar Prajurit Haryo Penangsang Adipati Jipang Panolan yang terkenal karena kekuatannya; keberanian, energinya yang melimpah, dan komitmennya yang tinggi.
Nilai-nilai ini menjadi dasar dalam kehidupan masyarakat di daerah tersebut, di mana sebagian besar penduduknya adalah petani.
Semangat Prajurit Soreng diekspresikan dalam seni tari yang dikenal dengan sebutan tari “Soreng”. Tari Soreng; adalah seni rakyat yang menceritakan semangat sekelompok prajurit yang sedang berlatih perang untuk mempersiapkan pertempuran; melawan Sultan Pajang di bawah pimpinan Adipati Haryo Penangsang Sang Adipati dari Jipang Panolan.
Arti kata “Soreng” adalah gabungan dari kata “suro” dan “ing” (dalam bahasa Jawa), di mana “sura” berarti berani dan “ing”; berarti memberi pengertian atau merujuk pada sesuatu. Kata-kata suro dan ing kemudian bergabung menjadi “Soreng”.
Asal mula Tari Soreng di Kabupaten Magelang
Tari Soreng pertama kali muncul di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.
DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)
Pada awalnya, masyarakat Bandungrejo membentuk kelompok seni keprajuritan yang didirikan sejak tahun 1945.
Namun, kegiatan ini sempat terhenti karena situasi politik yang tidak mendukung. Pada tahun 1960-an, mereka kembali mendirikan kelompok seni rakyat berbasis keprajuritan yang disebut “Tari Soreng”, dan kelompok seni rakyat ini dipimpin oleh Bapak Taryono.
Tari Soreng disajikan dalam bentuk tarian yang mengungkapkan semangat, kegembiraan, kebersamaan, gotong royong, sederhana, dan solidaritas warga dengan gerakan sederhana dan tidak rumit.
Tari Soreng memiliki unsur pokok dan unsur pendukung. Unsur pokoknya adalah gerakan, sedangkan unsur pendukungnya meliputi musik, tata rias, tata busana, tata pentas, dan tata suara.
Tari Soreng sebaiknya dilakukan oleh minimal 10 hingga 12 penari laki-laki. Tari Soreng menggambarkan cerita sekelompok prajurit yang berani mati yang dipimpin oleh Adipati Aryo Penangsang dan Patih Ronggo Metahun. Para penari infanteri yang dipimpin oleh Soreng Rono, Soreng Rungkut, dan Soreng Pati.
Tari Soreng telah menyebar di seluruh Kabupaten Magelang, awalnya hanya di sekitar lereng Gunung Merbabu dan Gunung Andhong. Hingga saat ini, Soreng Bandungrejo sudah memasuki empat generasi.
Tari Soreng sebagai Inspirasi Ketangguhan Petani di Lereng Gunung Merbabu dan Andong
Nilai-nilai yang terkandung dalam Tari Soreng adalah kerja keras, gotong royong, kebersamaan, semangat, keteguhan, keberanian, dan kekokohan dalam menghadapi kehidupan sebagai petani.
Nilai-nilai ini menjadi inspirasi dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, ketika akan tampil di pagi hari, mereka yang merupakan petani melakukan pekerjaan utama mereka di malam hari menjelang pagi.
Tari Soreng memiliki fungsi sebagai sarana silaturahmi, hiburan dari mereka untuk mereka sendiri, media pembinaan bagi warga terutama generasi muda yang efektif, dan juga sebagai ajang kreativitas dalam berkesenian.
DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)
Bagi masyarakat pendukungnya, Tari Soreng adalah sarana hiburan untuk melepas kepenatan setelah bekerja sebagai petani.
Makna dari Tari Soreng bagi masyarakat pendukungnya adalah semangat Prajurit Soreng yang teguh, gagah, dan penuh energi yang tercermin dalam jiwa masyarakat di lereng Gunung Merbabu dan Andhong, Kabupaten Magelang.
Soreng adalah kristalisasi dan personifikasi dari budaya agraris yang tercermin dalam gerakan tari seperti jangkahan, ngejeng, pacak tanggem/tanem, dan sebagainya.
Hingga saat ini, Soreng terus hidup dan memberikan semangat kepada para petani untuk merawat kesuburan tanah leluhur dan mengabadikan sejarah keberhasilan masyarakat pendukungnya.
Prestasi yang pernah diraih Tari Soreng Kabupaten Magelang adalah sebagai penyaji terbaik dalam Festival Tari Nusantara pada tahun 1992. Tari Soreng Kabupaten Magelang juga tampil dalam acara Seni dalam Rangka Peringatan HUT RI ke-74 pada tanggal 17 Agustus 2019 di Istana Negara Jakarta.
Tari Soreng juga pernah memecahkan Rekor MURI dengan rencana awal 10.000 penari, namun pada pelaksanaannya mencapai 12.576 penari. Rekor MURI tersebut dilakukan pada tanggal 28 Oktober 2019, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.
Hingga saat ini, Tari Soreng diminati oleh berbagai kalangan masyarakat, mulai dari warga masyarakat, instansi pemerintah, swasta, hingga lembaga pendidikan mulai dari PAUD hingga SMA/SMK di wilayah Kabupaten Magelang.
Tari Soreng Kabupaten Magelang telah ditetapkan sebagai Kekayaan Nasional Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada tahun 2021 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sedangkan Desa Bandungrejo, sebagai tempat asal usul seni Soreng, telah ditetapkan sebagai Desa Budaya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2020. (*/GNFI)
About The Author
- Penulis: Borobudur News





Saat ini belum ada komentar