NGAWUR! Dokter di Semarang Campur Spermanya ke Makanan Istri Temannya

BNews—JATENG— Seorang dokter di Semarang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap istri temannya sendiri. Pelaku diduga nekat mencampurkan cairan sperma ke dalam makanan milik korban.

Informasi yang dihimpun, peristiwa ini dilakukan dokter yang sedang menempuh Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di sebuah Universitas ternama di Kota Semarang.

”Kasus ini terjadi di rumah kontrakan yang dihuni oleh korban dan suaminya serta pelaku,” papar pendamping korban dari LRC-KJHAM Nia Lishayati, Jumat (10/9).

Nia menjelaskan, pihaknya menerima rujukan kasus kekerasan seksual yang diduga dilakukan oleh oknum dokter pada 14 Januari 2021. Ia menyebut, kejadian tersebut diduga dilakukan oleh pelaku sejak bulan Oktober 2020.

Sejak bulan Desember 2020 sampai hari ini, korban harus minum obat anti depresan yang diresepkan psikiatri. Selain ke psikiatri, korban juga melakukan pemulihan psikologis ke psikolog.

”Cairan sperma tersebut bisa mengandung bakteri atau pun virus yang suatu saat nanti bisa menjadi penyakit atau menjadi pencetus suatu penyakit,” ujarnya.

Disebutkan, melanggar pasal 281 KUH Pidana yang disebutkan, barang siapa sengaja merusak kesopanan di muka umum. ”Pelaku juga telah melanggar Sumpah Dokter,” jelasnya.

Saat ini berkas kasus sudah di limpahkan ke Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah. Padahal  pelaku yang seorang dokter tentu kejiwaannya sudah sehat.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DI SINI)

”Pelaku juga pernah menjadi dokter di sebuah klinik,” ungkapnya.

Mereka lantas melaporkan kejadian itu ke pihak kepolisian. Oknum polisi juga telah dua kali menemui korban dan suami.

”Korban dan suami diminta cabut laporan. Tapi kasus ini tetap lanjut terus,” ungkapnya.

Nia menjelaskan, menerima rujukan kasus kekerasan seksual yang diduga dilakukan oleh oknum dokter pada 14 Januari 2021. Diketahui korban dan pelaku pernah satu kontrakan.

Korban dan pelaku bisa satu kontrakan bermula saat korban menemani suaminya yang tengah menempuh PPDS  di sebuah universitas di Semarang mulai tahun 2018. Antara suami korban dan pelaku adalah teman satu angkatan.

Korban hanya ibu rumah tangga biasa yang menemani suaminya menempuh pendidikan dokter spesialis. Mereka sepakat untuk menyewa satu rumah untuk ditempati bersama dengan tujuan menghemat biaya sewa rumah yang mahal.

Dalam perjalannya, setahun kemudian atau tahun 2019, korban dan suaminya sempat meminta pelaku untuk mengontrak rumah sendiri atau sebaliknya. Namun pelaku keberatan dengan alasan keberatan biaya.

”Pelaku sebenarnya sudah beristri dan memiliki anak namun mereka tak dibawa ke Semarang,” bebernya.

Ia menyebut, kejadian tersebut diduga dilakukan oleh pelaku sejak bulan Oktober 2020. Korban curiga dengan tudung saji makanan milik korban yang selalu berubah posisi.

Tak hanya itu, makanan berubah bentuk berupa bekas diaduk serta warna berbeda. Lantaran penasaran, korban berinisiatif untuk merekam kejadian di sekitar ruangan tersebut menggunakan Ipad yang disembunyikan.

Korban ingin tahu kenapa makanannya sering berubah bentuk dan penutup makanan berubah posisi. Awalnya ia menduga hal itu karena ulah kucing.

Selepas di video, korban syok lantaran tampak jelas di dalam video, ketika korban sedang mandi, pelaku mendekati ventilasi jendela kamar mandi korban. Kemudian pelaku melakukan onani dan mencampurkan spermanya ke makanan korban.

”Padahal makanan itu dimakan korban dan suaminya. Dugaan aksi pelaku sudah lama. Bayangkan korban dan suaminya memakan makanan campuran sperma dalam waktu cukup lama,” pungkasnya. (ifa/han)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: