Menengok Kain Batik Ecoprint Ramah Lingkungan Karya Ibu-Ibu Paremono Mungkid

BNews–MAGELANG– Meski masih pandemi, kreativitas ibu-ibu di wilayah Mungkid Magelang ini tidak berhenti. Mereka terus berkarya membuat batik ecoprint.

Yang belum tahu soal Ecoprint adalah sesuai namanya, ecoprint berasal dari kata eco atau ekosistem yang berarti lingkungan hayati atau alam dan print artinya cetak.

Sistem dengan menjiplak dedaunan dan kemudian merebusnya, mirip seperti proses pembuatan batik, maka sering juga disebut batik ecoprint.

Kelompok ibu-ibu tersebut tergabung dalam Tim PKK Desa Paremono Kecamatan Mungkid Kabupaten Magelang. Dimana Tim PKK tersebut beranggotakan 15 orang ibu-ibu.

Ketua Tim PKK Desa Paremono, Ita Syarifa mengatakan bisnis batik ecoprint tersebut memang dimulai dimasa pandemi ini. “Jadi ini untuk kegiatan Ibu-ibu sekaligus menambah pemasukan di masa pandemi ini,” katanya (18/9/2021).

Untuk mengasah ilmu batik ecoprint, Tim PKK Paremono tersebut terus menggelar pelatihan bagi para anggotanya. Dan kali ini mendatangkan seorang mentor dari Jogja, Eva.

Ita menjelaskan untuk  proses pembuatan batik ecoprint tersebut menyiapkan bahan kait polos untuk dibatik. Kemudian siapkan daun-daun untuk pola batik, dan disusun diatas kain jika sudah siap.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

“Dimulai dengan mengeluatkan zat kimia dari kain yang direbus pake soda as, lalu mordan menncampur zat tawas cuka tunjung soda kua. Kemudian dijemur sampai kering,” ujarnya,

Setelah kering, lanjutnya kain digelar dan ditata daun- daun ditutup dengan kain blanket warna. Lalu digulunng dan  dikukus 1.5j am.

“Setelah dikukus didiamkan sampai kering. Bahan kain yg digunakan biasanya kain sutra dan katun,” terangnya.

Untuk pola daun, biasanya Tim PKK tersebut menggunakan beberapa jenis. Antara lain Daun jati,

Kalpataru, Jarak merah, Sono keling, Tabib buya, Akalipa, Keningkir.

“Intinya daun yang  bertanin tinggi. Jadi tidak semua jenis daun bisa digunakan,” tegasnya.

Ita juga memaparkan sistem pemasaran kain batik ecoprint karya Tim PKK Paremono ini secara online dan mulut kemulut.

“Jadi kita memanfaatkan media sosial yang ada. Dan terpenting adalah model “Getok Tular” dari orang yang membicarakan kepada siapa saja,” akunya.

Karena batik ini dominan berbahan dasar dari alam, kata Ita segmentasi pasar adalah para pecinta lingkungan.

“Biasanya harga kain batik ecoprint produksi kami,perpptongnya mulai dari Rp 150 ribu sampai Rp 1 juta. Tentunya dengan kondisi barang lebih bagus, dan kenapa mahal karena keunggulannya batik ini ramah lingkungan dan ekslusif desainnya,” pungkasnya. (bsn/kus)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: