Mengintip Peternakan Kelinci Hias dan Potong Di Kota Magelang

BNews–MAGELANG– Menekuhi sebuah usaha peternakan memang tidak bisa disebelah mata. Salah satunya peternakan kelinci hias maupun potong yang berada di wilayah Kota Magelang satu ini.

Pasalnya,selain pasarannya terbuka lebar, ternak kelinci juga relative mudah. Namun, pandemi ini membuat peternak kelinci makin kehilangan semangat, baik hias maupun potong. 

Presiden Komunitas Republik Terwelu Magelang Raya Aryono Septa Nugroho menuturkan, komunitasnya bergerak dalam mengedukasi masyarakat. Yakni untuk memasyarakatkan kelinci dan mengkelincikan masyarakat.

Oleh karena itu, komunitasnya saat ini berkembang pesat. Terlebih ketika digandeng oleh Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Kota Magelang.

Namun, ketika pandemi melanda, sangat memengaruhi ternak kelinci. Terutama penjual daging. Harga pedaging sebelum pandemi berkisar antara Rp 40 ribu – Rp 45 ribu.

“Saat pandemi, sama sekali tidak punya harga,” tandasnya sata ditemui di Omah Terwelu, Taman Kyai Langgeng, Kota Magelang, akhir Februari 2022 lalu.

Saat ini, komunitas Republik Terwelu memiliki 80 anggota, namun hanya 40 orang yang benar-benar aktif beternak kelinci. Kondisi pandemi yang menyebabkan 70 persen peternak kelinci hampir menyerah.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Sisanya memilih tidak lagi beternak kelinci. Ketika masyarakat tidak tertarik lagi dengan kelinci, para peternak akan kewalahan untuk memberi pakan kelinci berkualitas yang notabene cukup mahal. 

Menurut Aryono, kondisi tersebut menjadi PR bersama untuk lebih mengaktifkan kegiatan-kegiatan seperti pentas kelinci. Terlebih, bagi generasi milenial. Pasalnya, jika tidak diberi edukasi sejak dini, tidak aka nada peternak milenial.

“Kegiatan tersebut bisa jadi pancingan kami para peternak kelinci untuk kembali bangkit. Jika tidak ditunjang kegiatan lain, sektor usaha ini akan habis,” ujarnya. 

Sementara itu, Aryono mengatakan, perawatan kelinci terbilang mudah untuk mendapat hasil yang berkualitas. Yakni bibit unggul, jenis pakan yang tidak berubah-ubah, dan manajemen kandang. Dia menyebut, pemberian pakan dan pembersihan kandang sebaiknya dilakukan pagi dan sore hari.

“Satu ekor, peletnya kisaran 25-50 gram. Itu cukup untuk kelinci hias. Kalau kelinci yang besar 100 gram,” sebutnya.  

Aryono menjelaskan, dalam waktu 30 hari, indukan kelinci bisa melahirkan rata-rata empat hingga lima ekor anak. Namun, kata dia, perlu waktu setidaknya 75 hari untuk bisa ‘memanen’ anak-anak kelinci untuk kemudian dijual.

“30 hari indukan mengandung dan melahirkan, 45 hari untuk menyusui. Yang dijual sudah sapih minimal 45 hari. Harganya antara Rp 250 ribu-Rp 500 ribu,” tuturnya. 

Di komunitasnya, ada lebih dari sepuluh jenis kelinci. Mulai dari kelinci hias jenis angora, rex, eropa, holland lop, dutch, hingga kelinci pedaging. Saat kelinci pedaging dimasak, menurutnya, sebagian orang tidak tega untuk memakan kelinci.

Padahal, katanya protein yang terkandung dalalam kelinci tinggi dan lemaknya tergolong paling rendah. Terlebih, kelinci dapat menjadi alternatif makanan untuk orang yang mempunyai riwayat penyakit jantung, ibu hamil, dan lansia. (*)

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: