OPINI : Pancaroba Dunia Pendidikan

BNews–OPINI– Virus covid-19 yang melanda hampir seluruh penjuru dunia tak hanya berdampak pada dunia kesehatan saja. Dunia Pendidikan pun tak lepas dari dahsyatnya efek samping pandemi.

Dua tahun lebih penggarap Pendidikan dipaksa memutar otak untuk tetap melaksanakan pembelajaran tanpa memperluas jangkitan virus yang begitu cepat menyebar.

Pembelajaran daring menjadi salah satu solusi yang ditawarkan. Akan tetapi dalam pelaksanaannya nyatanya tak semudah teori yang dipaparkan di berbagai seminar.

Tantangan demi tantangan harus dihadapi guru. Mulai dari ketidak aktifan siswa dalam pembelajaran daring, fasilitas yang kurang memadai, kurangnya kreatifitas guru dalam menyampaikan materi dan ketidak seriusan siswa dalam menerima materi pembelajaran.

Januari 2022, pemerintah memperbolehkan satuan Pendidikan untuk membuka pembelajaran tatap muka.

Informasi ini disampaikan oleh Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kementrian Pendidikan, Riset dan Tekhnologi (kemendikbudristek) Jumeri, S.TP., M.Si., pada webinar kesiapan pembelajaran tatap muka tahun 2022, Senin, 3 Januari 2022.

Secara garis besar, 29 daerah di Jawa-Bali yang menerapkan PPKM level 1. Seluruhnya berada di tiga provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Daerah dengan level 1 terbanyak ada di Jawa Timur yaitu 18 kabupaten/kota.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Sementara itu daerah dengan status level 2 terbanyak ada di Jawa Tengah, yaitu 31 kabupaten/ kota. Lalu daerah dengan status level 3 terdiri atas 4 kabupaten. Keempatnya berada di Jawa Timur.

Adapun syarat melakukan pembelajaran tatap muka 100% menurut surat keputusan Bersama (SKB) Empat Mentri mengenai penyelenggaraan pembelajaran di masa pandemic Covid-19 yang diterbitkan pada 21 Desember 2021 tetap mengutamakan keselamatan dan Kesehatan warga sekolah.

Dalam SKB Empat Mentri tersebut, tercantum bahwa satuan Pendidikan di wilayah PPKM (pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) level 1 dan 2 bisa melakukan PTM dengan jumlah peserta 100 persen jika capaian vaksinasi dosis 2 pendidik dan tenaga kependidikan paling sedikit 80 persen.

Pada tahun ajaran 2022/ 2023 semua sekolah secara serempak telah memberlakukan PTM 100 persen tanpa terkecuali. Hal ini tentu menjadi tantangan baru di dunia Pendidikan. Tak hanya dalam hal pembelajaran, melainkan di aspek lain yang terkait juga mau tidak mau harus menyesuaikan diri.

Anak-anak yang semula belajar di rumah, melakukan aktivitas pembelajaran sambil melakukan kegiatan lain, tanpa mengenakan seragam, kini diharuskan kembali ke lingkungan sekolah dengan berbagai tata tertib dan kedisiplinan yang berlaku di sekolah.

Persoalan baru yang muncul datang dari sikap dan attitude peserta didik. Anak-anak yang boleh kita sebut produk covid memiliki sikap yang cenderung “bodo amatan”.

Tak hanya itu, adab sopan santun yang masih kentara di negara yang menjunjung budaya ketimuran rasanya sedikit memudar. Hal ini tentu menjadi PR bagi pelaku Pendidikan yang dalam hal ini adalah guru.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Hal lain lagi tercermin dari prestasi akademis siswa yang seolah tidak sesuai dengan kenyataan. Muktinah (2009) menyebutkan bahwa kemampuan sebagai sesuatu yang dimiliki oleh individu yang melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya, sedangkan berpikir merupakan segala aktivitas mental dalam usaha memecahkan masalah, membuat keputusan, memaknai sesuatu, pencarian jawaban dalam mendapatkan sesuatu   makna.

Saat pembelajaran daring, anak bebas mencari sumber belajar atau sumber materi dari manapun untuk mengerjakan tugas yang diberikan guru.

Namun kali ini, Ketika semua siswa sudah melakukan pembelajaran tatap muka, keahlian mereka dalam menyelesaikan tugas dari guru seolah hilang. Banyak diantara mereka yang ketika pembelajaran daring terlihat sangat pandai tapi ketika pembelajaran tatap muka kurang bisa mempertanggung jawabkan statusnya itu.

Kemudian apa yang bisa dilakukan seorang guru untuk menghadapi pancaroba dalam dunia pendidikan tersebut? Yang pertama, guru perlu kembali menekankan pada pendidikan karakter.

Seperti yang kita sadari bersama, tugas seorang guru tidak hanya memberikan pengajaran saja melainkan juga mendidik. Karakter siswa yang urgent untuk diperbaiki antara lain sopan santun dan kejujuran. Mengapa demikian? Karena ketika pembelajaran daring siswa kurang terbiasa menerapkan kedua aspek karakter tersebut.

Kedua, perbaikan dalam bidang akademis. Slavin, (1994) menyebutkan siswa belajar melalui keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk mendapatkan pengalaman dengan melakukan kegiatan yang memungkinkan mereka menemukan konsep dan prinsip- prinsip untuk diri mereka sendiri.

DOWNLOAD APLIKASI BOROBUDUR NEWS (KLIK DISINI)

Dua tahun lamanya siswa belajar di rumah, beberapa diantaranya bersungguh-sungguh dalam memahami setiap materi yang disampaikan guru secara daring. Namun tidak dapat dipungkiri sebagian besarnya hanya sekedar presensi dan melengkapi tugas dari guru tanpa berusaha memahami materi yang disampaikan.

Oleh karena itu seorang guru harus lebih kreatif dalam menyusun rencana pembelajaran yang akan disampakan kepada siswa. Kreatifitas itu bisa berupa penggunaan media pembelajaran yang menarik bagi siswa maupun metode pembelajaran yang lebih condong pada keaktifan siswa.

Akhir pembahasan, mengutip ungkapan Ki Hajar Dewantara “pengaruh pengajaran itu umumnya memerdekakan manusia atas hidupnya lahir, sedang merdekanya hidup batin terdapat dari Pendidikan”. Oleh karena itu pengajaran ilmu pengetahuan perlu dibarengi dengan pendidikan karakter agar peserta didik tak hanya menjadi anak yang berilmu tapi juga juga menjadi pelajar yang berkarakter. (*)

Penulis : Setiati Wulan Sari, Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan Pendidikan Matematika, Universitas Ahmad Dahlan

About The Author

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!